
Ahmad membelokkan mobilnya ke perumahan elit yang hampir tiga bulan ini ditempati kembali. Tak sampai lima menit mobil telah terparkir di garasi. Ahmad tirun membuka pintu dan mengeluarkan koper orang tuanya.
"Banyak sekali barang yang Bunda bawa" tegur Ahmad mengeluarkan tiga koper besar dari bagasi mobilnya. Bundanya tersenyum menampilkan wajah cantik di usianya yang telah menjelang senja.
"Itu urusan wanita. Lelaki mana tau masalah isi koper" jawab Bunda dengan santai dan melenggang. Membiarkan para lelaki mengurus koper-kopernya. Papa Ahmad mengangkat bahu pasrah menjawab tatapan anaknya, melihat sikap bundanya.
Ahmad mencibir ke arah Papanya yang tak punya jawaban apapun.
"Nampaknya Papa seperti Singa tak bertaring di hadapan Bunda" bisik Ahmad mengejek Papanya.
"Bunda mendengarmu, Son" teriak Bunda di ambang pintu yang telah terbuka. Nampak Bi Ijah menyambut dengan senyum sumringah.
"Pa..." Ahmad menyenggol Papanya. Papa Ahmad hanya tertawa ringan.
"Itulah kelemahan kita sebagai suami, Son. Hati dan pikiran wanita itu tidak pernah seirama dan tak bisa ditebak. Walaupun salah dia tetap benar" bisik Papa Ahmad tepat di telinga putranya.
Ahmad bergidik mendengar kalimat Papanya. Memang benar, sekalipun pria benar jika berhadapan dengan orang yang di cintai akan tetap salah jika dimata wanita itu menurutnya salah. Ahmad menyeringai lebar.
Siara Bundanya telah ramai bercerita dengan bi Ijah. Sesekali tawa mereka berdua bergema di ruang tengah. Entah candaan apa yang mereka lontarkan. Ahmad tersenyum bahagia melihat interaksi dua wanita itu.
__ADS_1
"Istirahatlah, Son. Besok pagi kita akan mulai menyusun rencana" tepuk Papa Ahmad di bahu putranya, ketika melihat Ahmad masih berdiri menyandarkan punggungnya di tembok pembatas dapur dan ruang tengah menunggu Bundanya yang masih heboh dengan bi Ijah.
Ahmad menarik napas berat.
"Aku ingin semua cepat selesai, Pa. Pekerjaanku demikian banyak. Jika hal ini selesai aku ingin fokus di kampus lagi" kata Ahmad sambil memainkan gawainya.
"Tunggulah hingga S2 mu selesai. Kau bisa fokus di kampus sambil meneruskan bisnis Papa" nasehat Papa Ahmad sambil menepuk bahu putranya.
"Iya, Pa. Baiklah, aku ke kamar dulu. Good night, pa" pamit Ahmad henfak melangkah menuju kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 03.45 menit. Rasa lelah membuat Ahmad ingin segera tidur di kasir kesayangannya.
"Bun, aku ke kamar yaaa...sampai ketemu besok pagi. Istirahat yang nyaman. Bunda sayang" ucap Ahmad sambil memeluk dan memberi ciuman di pipi Bundanya. Sementara matanya menatap tajam ke arah Bi Ijah seakan menanyakan sesuatu lewat gerakan mata.
"Semua sudah dirapikan, den" kata bi Ijah sambil tertawa pelan.
"Biiiii..." Ahmad memberi peringatan bi Ijah agar tidak bercerita ke Bundanya. Tentu Ahmad akan merasa sangat malu nantinya. Bi Ijah tersenyum mengangguk.
Bunda Ahmad menatap putranya penuh selidik.
"Tentang Arini, yaaa?" tebaknya dengan jitu.
__ADS_1
Bi Ijah terdiam. Ahmad mengangguk pelan tak berani berbohong di depan bundanya.
"Apakah dia masih tidur, bi?" tanya Bunda ke arah bi Ijah. Bi Ijah mengangguk dalam, "masih tidur bahkan nyenyak, Neng" jawab bi Ijah sopan.
"Syukurlah, kasihan anak itu. Semoga semua rencana kita berjalan dengan lancar" ucap bunda yang diaminkan oleh bi Ijah dan Ahmad bersamaan. "Istirahatlah, Son. Besok kita matangkan rencana. Semangat yaaa" Bunda mengangkat lengannya dan mengepalkan jarinya. Ahmad tersenyum penuh bahagia. Sungguh, kedua orang tuanya adalah sahabat terbaik baginya.
"Persiapan ya, Bun" bisik Ahmad sambil mencium pipi bundanya untuk yang kesekian kali.
"Persiapan mental, Son" bisik bunda sambil tertawa lembut.
Ahhhhh...Ahmad paham. Bunda dan Papanya memberi semangat, Arini juga telah memaafkannya. Semoga kedua hati yang diujung sana diberi kelembutan oleh Allah untuk menerimanya kembali.
Papa Ahmad benar, Ahmad harus bertanggungjawab dengan benar.
Bismillah...ucap Ahmad melanglah menuju kamar tidurnya.
...ahaiiii...
persiapan menghadapi Jendral nih yaa...
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like ya Readers...