IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
6. Lamaran


__ADS_3

Arini terperangah menatap tak percaya pada sosok Sang Dosen. Tak ada suara diantara mereka hingga Waitres menghidangkan makanan di meja mereka. "Selamat menikmati menu restaurant kami, pak bu..." ucap Waitress sambil sedikit membungkukkan badannya. Ahmad mengucapkan terimakasih dan tersenyum ramah. Arini masih diam tanpa tau apa yang harus dikatakan atau ditanyakan. Kalimat Ahmad bukanlah sebuah pertanyaan yang biasa, dan Arini bagaikan ditodong tanpa persiapan.


"Rin, umurku sekarang 26 tahun. Kamu pasti terkejut dengan apa yang aku katakan. Tapi aku bersungguh-sungguh dengan kalimatku. Sebenarnya aku menyukaimu sejak awal aku melihatmu. Tapi..." Ahmad tersenyum dingin "Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, apalagi kamu adalah mahasiswiku" Ahmad menarik napas berat. Masih menatap wajah cantik Arini dengan lekat.

__ADS_1


Bibir sexy Arini berkomat kamit entah apa yang diucapkan atau hanya sekedar menampakkan keresaha pemiliknya. Ahmad tak melepas pandangannya, seakan masih menanti jawaban atau pertanyaan apa yang akan keluar dari bibir merah muda dihadapannya itu. Mata lebat nan cantik milik Arini berputar resah sambil menunduk. 'Hmmmmmmmhhh...' Arini membuang nafas beratnya. "Bapak sadar kan?" akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir indah yang selalu menggoda ketenangan Ahmad.


Ahmad tertawa spontan, sambil menatap tajam gadis cantik didepannya. "Arini, jangan-jangan kamu yang tidak dalam keadaan sadar bertanya padaku?. Aku serius, Rin. Aku pernah jatuh cinta tapi tidak pernah merasakan seberani ini. Aku tidak ingin menjalin hubungan pacaran, tetapi aku ingin menjalin hibungan dalam ikatan pernikahan. Aku rasa kamu paham akan hal itu" Ahmad membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

__ADS_1


Usai makan siang Arini tak dapat menolak ketika Ahmad memaksa mengantarnya sampai depan rumah. "Ayo, aku antar engkau pada bunda" tawar Ahmad sambil membukakan pintu mobil untuk Arini. Arini salah tingkah dan gugup ketika Ahmad menyodorkan tangannya membantu Arini turun dari mobil. "Bapak tidak perlu seformal ini padaku. Aku masih mahasiswi bapak" Arini benar-benar tak tau apa yang harus diucapkan melihat tingkah dosennya.


Ahmad menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum salah tingkah. Sungguh, pesona Arini membuat hatinya bergejolak tak menentu. Wajah cantik Arini nampak kemerahan ketika bertemu mata dengan Ahmad. "Ishhhhh..." desah Arini mendorong tubuh Ahmad dengan pelan agar bergeser dari pintu mobil. Arini melangkah memasuki halaman rumahnya yang sederhana. Rumahnya memang telah sedikit di renovasi, sehingga asli bangunan perumahan sudah tidak nampak. Taman aneka bunga menamnah indah halaman rumah yang tak seberapa luas itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." salam Arini di lintu rumah yang memang selalu terbuka. Nampak bunda Liana tertegun memandang ke arah putrinya dan sosok laki-laki tampan di belakangnya. "Waalaikumsalam...lho, kamu kan anaknya bu Irene. Katanya di luar negeri, kok bisa ada di sini?. Dan mengapa kalian bisa bersamaan?" bunda Liana heran dan memandang kedua manusia di depannya.


__ADS_2