
"Abang pulang jam berapa nanti?" Arini memasukkan surat-surat penting untuk persyaratan pengunduran diri suaminya di kampus X.
"Mungkin agak telat, sayang. Aku harus ke kedutaan untuk mengambil visa yang kuajukan lima belas hari yang lalu. Kemarin ditelpon katanya sudah bisa diambil hari ini" Ahmad merapikan dasinya. "Jangan menungguku makan siang. Bisa jadi aku pulang sekitar jam 5. Aku usahakan tidak sampai petang"
"Jangan telat abang makan siang. Nanti sore Bibik akan kembali ke rumah bunda untuk mengambil beberapa keperluannya selama tinggal di sini" Arini mengikuti langkah suaminya yang akan berangkat kerja.
Wajah tampan itu tersenyum dan menatap istrinya dengan lembut.
"Biar Bibik di jemput Bima nanti siang. Kamu hati-hati di rumah. Ingat, jangan melakukan pekerjaan berat. Aku akan menghubungimu di sela waktu kerjaku" Ahmad mencium kening Arini.
"Oya, kalau kau ingin sesuatu telpon saja. Nanti aku usahakan mengantarkan ke rumah"
Arini tertawa kecil dan memukul lembut lengan suaminya.
"Bukannya abang yang lagi ngidam?" goda Arini dengan tertawa.
"Ck. Kamu nampak sangat bahagia melihat keadaanku" Ahmad tersenyum kecut. Memang dirinyalah yang setengah mati merasakan efek kehamilan Arini. Mual dan muntah setiap pagi, apalagi jika mencium aroma parfum yang menyengat itu mengaduk keamanan perutnya. Sungguh Ahmad merasa besyukur dirinyalah yang merasakan ketidaknyamanan itu. Jika saja Arini yang merasakannya, sudah pasti Ahmad tetap orang yang paling direpotkan.
Ahmad jadi teringat cerita bundanya ketika hamil dulu. Bagaimana papanya hampir stress menghadapi berbagai macam permintaan bunda Irene saat hamil muda.
"Heee.." Arini menepuk bahu suaminya yang tersenyum dan tertawa sendiri. "Abang merencanakan sesuatu, ya"
Arini cemberut melihat raut wajah Ahmad yang entah apa dilamunkan sehingga tertawa sendiri.
__ADS_1
Ahmad gelagapan mendapat tepukan di bahunya.
"Maaf, aku hanya sedang berfikir Allah itu maha adil. Dalam segala hal suami istri itu harus berbagi dengan porsi yang telah Allah kehendaki" Ahmad mengelus pipi istrinya yang nampak mulai berisi.
Arini tersenyum dan mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan" Arini berbalik menuju gerbang rumahnya. Mobil yang ditumpangi Ahmad melaju perlahan meninggalkan halaman rumahnya menuju jalan besar ke arah tempat kerjanya, setelah Arini mengunci gerbang.
Laju mobil yang dikendarai Ahmad membelah keramaian kota pagi itu. Kampus X begitu ramai dan nampak berbagai aktivitas mahasiswa telah dimulai. Ahmad melangkah santai menuju ruang Rektor. Beberapa mahasiswa menegurnya dengan hormat dan tersenyum.
Tak sedikit mahasiswi yang memiliki ketertarikan dengan wajah tampan dan penampilan dingin Sang dosen diam-diam membicarakan sosoknya yang sangat sulit ramah dan tersenyum. Namun, jika berhubungan dengan mahasiswa maka sikapnya santai dan menyenangkan. Dalam beberapa hal yang bersifat akademik Dosen Ahmad sangat disiplin dan tidak main-main, karena itulah dia dijuluki Dosen Killer.
Ahmad menyambut beberapa mahasiswanya yang mengulurkan tangan sebagai tanda kedekatan mereka.
Ahmad menyeringai dan menunjukkan amplop putih panjang di tangannya. Beberapa mahasiswa itu saling pandang heran.
"Pulang kampung, brother" Ahmad menepuk bahu mahasiswanya yang masih bengong dan melenggang masuk ke ruang Rektor. Lima mahasiswa yang akrab dengan Sang Dosen menatap pintu yang tertutup di belakang Ahmad dengan tatapan bingung.
"Kamu paham nggak sih maksud kalimat pak Ahmad tadi?" salah seorang dari mereka yang berkemeja biru menyenggol temannya.
"Pulang Kampung. Itu katanya" jawab mahasiswa yang berkaos putih. Dalam beberapa detik mereka mencerna dan berjalan sambil berpikir. Kemudian, tanpa di beri komando kelimanya berhenti dan saling menatap...
"Itu artinya beliau akan balik ke Amerika, brother"
__ADS_1
"Hah...!!!" serempak mereka saling meyakinkan tidak salah duga. Dan berita segera menyebar di fakultas Ilmu Pemerintahan dalam waktu singkat. Dahsyatnya berita dari mulut ke mulut kabar itu sampai ke fakultas management bisnis. Dua fakultas ini tempat Ahmad menuangkan dan membagi ilmunya, bahkan dia juga melakukan bimbingan untuk mahasiswa pasca sarjana.
Walaupun Ahmad termasuk dalam jajaran Dosen Killer dengan disiplin akademik yang tinggi, namun dia juga salah satu dosen paling tampan dan muda di kampus itu. Tak heran penggemarnya banyak yang merasa sedih dengan kabar tersebut, sehingga beberapa mahasiswi berinisiatif menunggu Ahmad ingin mendapatkan konfirmasi langsung.
Sementara di ruang Rektor.
"Apakah keputusan ini tidak bisa di rubah, pak Ahmad?" pak Rektor langsung menatap Ahmad dengan kecewa. Bagaimanapun Ahmad termasuk salah satu dosen pengampu yang cerdas dan luar biasa.
"Mohon maaf, pak. Bukankah hal ini sudah saya diskusikan dan ajukan sebulan yang lalu. Jadi, terus terang sebenarnya minggu ini saya sudah mulai bertugas di salah satu Universitas disana. Tapi karena terkendala pengajuan visa bersamaan dengan istri saya sehingga keberangkatan kami tertunda. Sekali lagi saya mohon maaf, pak"
Pak Rektor dan pak Dekan yang duduk dalam ruangan itu menarik nafas panjang. Nampak sekali raut kecewa di wajah mereka.
"Bapak jangan khawatir. Sesekali nanti saya siap menjadi Dosen terbang dengan jadwal yang kita sepakati bersama" Ahmad memberikan harapan supaya atasannya itu tidak terlalu kecewa dengan keputusannya kali ini.
"Terus terang kami sangat kecewa dengan pengunduran diri pak Ahmad. Jadi, kami ingin memberi waktu pak Ahmad untuk memikirkan lagi tawaran kami. Ilmu dan tenaga dosen muda dan handal seperti pak Ahmad masih sangat dibutuhkan di sini" pak Rektor tersenyum datar.
...๐ท๐ท๐ทnah loe, kura-kira Ahmad beneran pindah atau nggak yaaa???
๐๐๐lanjut ya Readers...di bab berikutnya
jangan lupa like, vote, and sarannya
Makasih, Readers
__ADS_1