IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
19. Maafkan kami


__ADS_3

Beberapa saat mereka masih menikmati ciuman, saling menyalurkan rasa rindu dan cinta. Tangan Ahmad mulai meraba bagian tubuh Arini dengan usapan-usapan lembut. Ahmad merasa tak bisa lagi menahan keinginannya, apalagi Arini membalas setiap ciuman dan gigitan yang dilakukan Ahmad.


"Hentikan..." tiba-tiba Arini mendorong tubuh Ahmad dengan kuat. Ahmad terdorong ke sudut sofa yang mereka duduki. "Ini tidak benar. Kita tidak boleh terlena" ucap Arini menunduk.


Ahmad tertawa perlahan sambil membetulkan sisiran rambutnya yang berantakan. Menatap Arini dengan tatapan frustasi.


"Maaf..." ucapnya menggantung. "Kamu juga sih...mbales ciumanku. Jadinya aku hampir hilang kendali" ucap Ahmad menaikkan alisnya mencairkan suasana. Arini memukul lengan Ahmad dengan kesal.


"Mesum..." cibir Arini sambil bangun menuju dapur untuk mengambil air. Tenggorokannya terasa haus karena peristiwa kecil tadi. Ahmad membaringkan tubuhnya di sofa sambil tersenyum penuh makna. Matanya melirik ke arah tubuh Arini yang melangkah membelakanginya. Hmmmm...sosok yang mengagumkan. Bathin Ahmad dengan tetap tersenyum.


"Jaga pandanganmu. Aku tau matamu mengikutiku sejak tadi" cecar Arini mengagetkan Ahmad yang masih tersenyum dengan pikiran nakalnya. "Minumlah" Arini menyodorkan segelas jus yang kebetulan dibuat oleh bi Ijah di dapur.


Ahmad bangun dan duduk sambil meraih gelas di tangan Arini.

__ADS_1


"Apakah ini pertanda bahwa kau ingin kita melanjutkan hal yang tadi, Yang?" Ahmad nyengir menggoda Arini.


plak...


Arini memukul lengan Ahmad dengan majalah yang ada di meja. "Lamar aku, menikah dulu, baru kamu bebas menawarkan apapun untukku" ketus Arini sambil mendudukkan bokongnya di sebelah Ahmad.


"Menawarkan??" Ahmad memicingkan matanya "Apakah dengan suami setampan aku harus ada penawaran, Yang?"


"Calon suami yang menghilang" ketus Arini sambil menyeruput jusnya. Ahmad tersenyum kecut.


"Iya. Aku minta maaf. Sulit memang melupakan tapi rasa cinta di hatiku lebih kuat. Karena itulah aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi" lirih Arini dengan suara pelan.


"Apa sikapku ini seperti tidak tau malu yaa?" tanya Arini canggung sambil menatap Ahmad. Ahmad tertawa tanpa suara. Menghadap Arini sambil erat menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Jika kau meminta pendapatku, maka akulah yang tidak tau malu, Rin" ucap Ahmad dengan tegas. "Tapi, kita saling menerima kesalahan yang aku lakukan padamu dan keluarga dengan menyingkirkan rasa malu itu. Aku tidak bisa berjanji banyak padamu, tapi insyaAllah aku akan berusaha membuatmu bahagia"


Ahmad merengkuh Arini ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat.


"Maafkan aku, Rin" bisik Ahmad dengan suara parau. Sungguh, rasa bersalahnya mendera bagai beban berat yang harus dipertanggungjawabkannya di hadapan orang tua Arini.


"Apakah semua urusanmu di kampus sudah selesai?" tanya Ahmad setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukan.


"Sudah" jawab Arini singkat sambil memainkan kemeja Ahmad disisinya. Duduk mereka tanpa batas dan celah, membuat jantung keduanya berdebaran tanpa kendali. Arini merasa sangat diperhatikan.


"Hei, lihat sikapmu seperti remaja belasan tahun" goda Ahmad demi mengurai perasaannya agar tak larut dalam godaan setan. Spontan mendapat pukulan dari Arini dengan wajah bersemu merah menahan malu. Ahmad terkekeh menangkap tangan Arini yang tak berhenti mencubit lengan dan perutnya.


"Kecantikanmu kian bertambah kalau sedang merona" tawa Ahmad sambil memperhatikan wajah kekasihnya. Arini membuang muka merasa sangat malu ketahuan hanyut dalam perasaannya berada di samping Ahmad.

__ADS_1


author menengahi


emang harus gitu yaaa biar setannya manyun bin cemberut😁😁


__ADS_2