IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
29. Aku milikmu


__ADS_3

Arini menatap wajah tampan suaminya yang tengah beristirahat di tempat tidur. Yah, setelah aksi ciuman tadi mereka memutuskan untuk istitahat sejenak. Sebab nanti malam mereka akan melakukan perjamuan makan bersama bareng keluarga besar di rumah Arini.


Arini memastikan suaminya tidur dengan nyenyak sebelum akhirnya melangkah leluar kamar. Pelan sekali Arini menutup pintu kamar agar tidak menimbulkan suara.


Ahmad yang belum terlalu terlelap menatap pintu dengan matanya yang sedikit terbuka. Ahhhh, ada rasa kecewa di hatinya ketika Arini memilih keluar kamar darpada menemaninya beristirahat.


Senyum penuh ancaman terbit di bibirnya. Bagaimanapun picuan hasrat tadi masih sulit dihilangkannya. Apalagi itu untuk yang pertama baginya menyentuh bibir seorang wanita. Dan wanita itu adalah istrinya.


Ahmad berguling di tempat tidur sendiri membayangkan debaran dan getaran ***** dalam dadanya.


Ahhhh...sial...pekiknya pelan.


Matanya nanar menatap organ intinya yang masih menegang akibat dari ciuman tadi.


"Akhhhhhh...Ariniiiiii" desisnya frustasi. Wajah bulenya yang putih memerah menahan gairah. Sungguh Ahmad tidak menyangka Arini memilih keluar kamar. Ahmad berpikir Arini akan mengikuti dirinya yang membaringkan tubuh dengan alasan menghemat energi demi menjaga iamgenya sebagai pria yang hampir tak bisa menahan hasratnya.


"Akhhhhh...wanita itu benar-benar tak punya inisiatif" gerutunya sambil bangkit dari tempat tidur. Tangannya meraih handuk yang tergantung rapi di sebelah lemari. Lalu melangkah ke kamar mandi mendinginkan otak dan hatinya yang terlanjur terkontaminasi adegan dewasa.


Sementara Arini duduk bercengkrama dengan beberapa kerabatnya yang masih di rumah orang tuanya untuk menghadiri acara makan malam bersama keluarga besar.


"Rin, berapa lama kamu pacaran ma pak Ahmad?. Kok di kampus waktu itu tidak pernah ada gosip atau berita tentang hubungan kalian?" Melda yang masih saudara sepupu Arini menatap Arini intens di meja makan dapur . Arini tersenyum sambil tangannya tetap melipat tissu untuk tatakn sendok yang persiapkan buat jamauan nanti malam.


Asisten rumah tangga dan beberapa saudaranya yang lainpun nampak menatap wajah Arini yang tanpa ekspresi.


"Hei Rin..." bibinya menowel bahu Arini yang masih belum menjawab pertanyaan saudara sepupunya.

__ADS_1


"Iya, bi" Arini menatap bibinya yang sedang mengelap sendok.


"Tuh, Melda nanyain kamu. Nggak denger yaaa?" bi Amira mengarahkan dagunya ke Melda yang duduk sambil menopang dagunya menatap ke arah Arini.


"Dengar, bi. Cuma aku malas menjawabnya. Karena aku tau dia dari dulu naksir dengan dosen Ahmad. Pasti dia menuduhku menikung pujaan hatinya" Arini menjulurkan lidahnya ke arah Melda sahabatnya.


Melda merasa gemas dan melemparkan sebuah sendok plastik ke arah Arini, tapi sendoknya malah jatuh ke lantai tanpa mengenai sasaran.


"Issshhhh, Mel. Jangan kejam gitu dong. Kalau terjadi sesuatu denganku akibat sendok yang kamu lempar itu namanya penganiayaan pengantin baru setengah hari menjadi istri" goda Arini saat melihat wajah sahabatnya masih penasaran.


"Lagakmu, Rin. Ayolah...ceritakan"


"Mau tau atau mau tau banget"


Arini tertawa keras. Rasanya moodnya naik berkali lipat bahagia melihat tingkah Melda.


"Cemberutmu dari es em pe sampai sekarang nggak berubah. Iiiihhhhh..." Arini mengacak-acak rambut Melda yang berwarna merah kecoklatan.


"Heiiii..." teriak Melda dengan cepat menepis tangan Arini. "Kamu merusak tatanan rambutku yang cantik" ucap Melda cemberut sambil merapikan rambutnya uang berantakan.


"Aku serius, Rin. Kapan Pak Ahmad menyatakan cinta padamu? Kenapa tiba-tiba waktu itu kalian akan menikah, dan sekarang kalian benar-benar menikah?" Melda masih mencecar Arini karena benar-benar penasaran.


"Aku yang akan menceritakannya" sebuah suara dari belakang Melda membuat semua yang berada di ruangan itu tersenyum tertahan. Wajah Melda berubah malu dan tak enak ketika melihat Ahmad sudah berdiri di belakangnya.


Aroma sabun mandi dan parfum begitu maskulin dan segar merebak dari tubuh Ahmad yang berdiri dan tersenyum menatap keluarga istrinya.

__ADS_1


"Eh, nak Bule udah seger nih" puji bi Amira menetralkan suasana yang tegang sesaat.


"Aku jatuh cinta pada Arini sejak pertama melihatnya melawan perintahku pertama kali di mata kuliahku. Aku rasa kamu masing ingat akan hal itu" ucap Ahmad sambil mendudukkan dirinya tepat di sebelah Arini. Arini memukul bahu Ahmad pelan.


"Tapi kamu tidak mengatakannya kepadaku. Kenapa kamu menceritakannya pada Melda?" Arini cemberut.


Giliran Melda tertawa melihat wajah Arini.


"Hadeuh, tukang drama emang" Melda mengerutkan hidungnya "Simpan sikap mesramu yang menyebalkan itu di depan kami. Jangan sampai yang di bawah umur iri bu"


Arini tetawa tanpa suara. Wajahnya memerah malu di depan suaminya.


"Hei, lihat pipimu memerah" bisik Ahmad menyentuh rambut istrinya.


"Isshhh, dilihat bibi dan yang lain" Arini menjauhkan wajah Ahmad yang dekat sekali dengan wajahnya saat berbisik.


"Aku milikmu. Mengapa harus malu" jawab Ahmad frontal.


"Ahhhh, dasar pengantin baru menyebalkan" Melda bersungut sambil melangkah ke luar ruangan makan.


Bi Amira dan yang lain hanya tersenyum, memahami situasi yang ada.


❤❤❤❤


Melda eneg kali yaaa...kan pak Ahmad dulu adalah dosen idolanya😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2