IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
14. Mengukur kekuatan cinta


__ADS_3

"Hei...apakah matamu masih bisa di pakai untuk membaca setelah menangis tadi?" goda Ahmad setelah tiba di kamar hotel penginapan Arini. Arini tertawa kecut "Kamu memang jahat" ucapnya tanpa melihat Ahmad. Ahmad tertawa dan mendekat ke arah Arini. Ahmad meraih pinggang Arini dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku, Rin. Aku sangat mencintaimu" ucapnya berbisik di telinga Arini.


Arini meremang mendapat perlakuan romantis dari Ahmad. Namun, Arini sekuat tenaga mengusir gelayar aneh dalam hatinya. Bagaimanapun, di kamar ini hanya mereka berdua. Jangan sampai mereka khilaf dan tergoda. "Menjauhlah, Ahmad. Aku..." Arini tidak melanjutkan kalimatnya.


Ahmad menyeringai dan melepaskan pelukannya. "Hahahahahaa...jangan takut, Rin. Aku ini lelaki yang baik. Dan calon suamimu yang bertanggungjawab" lalu mendaratkan kecupan ringan di bahu Arini. "Issshhhhh...geli tau" Arini mendorong Ahmad.


Arini mencoba menghubungi bundanya dan tak ingin bundanya berpikiran macam-macam terhadapnya. "Kamu yakin akan menelpon bunda dan mengatakan apa yang telah terjadi hari ini?" Ahmad menatap manik mata Arini. Arini mengangguk yakin. "Setidaknya bunda bisa mempersiapkan peluru di pistol Ayah untuk menembakmu karena telah mempermalukan keluarga dan membuat putrinya shock selama beberapa minggu" jawab Arini dengan ringan dan tawa kecil di sudut bibirnya. Ahmad menelan salivanya yang terasa sesak memasuki tenggorokannya.


"Assalamualaikum, nak. Bagaimana lancar kegiatanmu? bertemu siapa saja? Jadikan besok pulang?" suara bunda Liana terdengar melalui video call di ponsel Arini. Kini mereka duduk berhadapan di kursi yang tersedia di kamar hotel itu. Mata Arini menatap Ahmad tak berkedip sambil sesekali melihat ibunya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, bun. Alhamdulillah lancar. Aku bertemu dengan teman-teman kampus, bun. Kami makan di cafe, Evan sudah bekerja di perusahaan ayahnya, sedangkan Melda magang di instansi pemerintah kota ini, bun sambil membantu usaha garmen mamanya" jelas Arini dengan tatapan bahagia pada Ibunya.


"Syukurlah. Selamat ya, nak. sampaikan salam bunda buat teman-temanmu. Kamu tidak ke rumah lama kan?" tanya bu Liana dengan khawatir. Arini tertawa kecil.


"Tidak, bun. Luka lama tak perlu dilihat. Setiap kenangan yang menghasilkan luka harusnya tetap di kubur tanpa perlu diingat lagi. Bukankah begitu, bun?" Arini menatap Ahmad tajam. Ahmad yang merasa tersindir mengusap wajahnya dengan kasar. Ahmad tau kalimat itu untuknya. Duh, betapa berdosanya dia pada keluarga Om Herman dan Tante Liana.


"Bun, menurut bunda jika aku bertemu dengan lelaki itu secara tak sengaja apa yang aku lakukan, bun?" tanya Arini pada ibunya dengan hati-hati sambil tetap tersenyum. "Apakah kamu bertemu dengannya?" bu Liana bertanya balik seakan menyelidik kejujuran putrinya. Arini tersenyum kecil "Seandainya, bun. Kota ini kan tidak besar"


"Sayang, perlihatkan pada ibu" pinta bu Liana lembut. Ahmad berdebar dan salah tingkah. Keringat membasahi dahinya ealaupun kamar itu dengan suhu dingin karena ada AC. Pelan Arini mengarahka. kamera ponselnya ke wajah Ahmad di depannya. Bu Liana terkejut, firasatnya tidak salah. Wajah tampan yang dipenuhi buturan keringat itu tampak tersenyum salah tingkah.

__ADS_1


"Assalamualaikum, bunda" sapanya dengan wajah tegang. Ahmad tahu ada kilatan marah seorang ibu di mata bu Liana. Namun, perjuangan pantang surut sebelum mendapatkan maaf. Demikian tekad Ahmad. Benang kusut harus diluruskan. "Ahmad mohon maaf, bunda. Semuanya sudah Ahmad jelaskan pada Arini. Ahmad mewakili keluarga mohon ampun dan maaf atas kesalahan di masa lalu" suara Ahmad sendu dan nampak berat. Bu Liana tak mengeluarkan kata sepatahpun.


Sungguh, ini tak pernah terjadi dalam fikirannya. Irene pernah menelponnya dua hari setelah peristiwa batalnya pernikahan dan telah menjelaskan semua kejadian hari itu. Irene juga sudah meminta maaf pada keluarganya atas kesalahan tersebut. Irenepun pernah mengatakan "Entah apa aku bisa mendapatkan maafmu lagi, Li. Terutama mas Herman atas semua kesalahn itu. Aku mohon maaf saat itu aku benar-benar bingung dan tak tau apa yang harus aku lakukan sehingga mengambil keputusan bodoh yang merugikan keluargamu" dan Irene menangis saat itu.


Bu Liana menarik nafas panjang. Menatap tajam ke arah Ahmad "Berikan telponnya pada Arini" perintah bu Liana tanpa senyum.


"Apakah hatimu masih mencintainya, nak?" lembut suara bu Liana tak ingin melukai perasaan putri kesayangannya.


...happy read yaaa...

__ADS_1


Maaf kalau banyak typo


__ADS_2