
"Maafkan Ahmad ya, Rin. Dia itu pendidikannya saja tinggi tapi moralnya kurang satu oktaf" ujar bu Irene dengan tertawa sambil mengajak Arini duduk di sofa ruang tamu rumah mewahnya. "Tapi dia baik hati. Hanya wajahnya dan mulutnya saja yang dingin seperti es kutub utara" sambung bu Irene lagi. "Hhhhhh...tidak apa-apa, bu. Saya juga baru tau kalau pak Ahmad anak bu Irene. Padahal sudah setahun ini beliau mengampu mata kuliah di jurusan saya." jawab Arini tidak enak hati. 'hmmmmmm, baik dari mananya bu..' bisik hati Arini jengah.
Bu Irene pamit untuk mengambil pesanan bunda ke kamarnya. Tiba-tiba Ahmad keluar dari pintu yang kelihatannya seperti ruang dapur dengan desain berbentuk bar mini. Ahmad duduk tepat dihadapan Arini sambil minum minuman kaleng ditangannya. Arini hanya menatap ke arah kaki Ahmad dengan hati berdegub dan rasa tak nyaman. Arini takut Sang Dosen akan menanyakan kenapa telponnya kemarin tidak diangkat atau Arini tidak menelpon balik. "Kira-kira jawaban apa yang akan ku katakan?" bisik hati Arini gelisah.
__ADS_1
Ahmad menatap tajam ke arah Arini. Gadis cantik, mahasiswi semester akhir di ilmu pemerintahan, dan tak banyak bicara, penurut, tetapi agak membangkang menurut Ahmad. Dari sekian banyak mahasiswi di kampus xx yang dikenalnya Arini merupakan salah satu mahasiswi yang pintar, cerdas, gesit, dan mudah diajak berdiskusi dalam berbagai kegiatan. Dan itu sudah dikenal baik oleh pihak kampus. Tapi bagi Ahmad yang menarik dari Arini adalah pribadinya yang hamble dan cantik alami dalam kesederhanaan.
"Kenapa bapak menatap saya?. Bukankah saya sudah minta maaf tidak tau kalau ini rumah bapak?" ujar Arini karena beberapa kali mencuri pandang tapi Ahmad tetap saja menatapnya. "Kenapa?" tanya Ahmad dengan nada dingin. "Kenapa apanya, pak?" Arini menaikkan alisnya was-was. "Kamu tau kemana arah pertanyaan saya. Dan ini bukan kali pertama kamu mengabaikan panggilan saya. Apakah kamu merasa kurang hukuman yang saya berikan akibat sikap burukmu itu?" suara Ahmad semakin mengintimidasi. Arini gugup, lalu otak encernya memberikan ide jawaban konyol yang tak terduga. "Hhhhhh...maaf pak. Mungkin saya perlu sosok seperti bapak untuk menghilangkan sikap buruk saya" Arini tersenyum menggoda. Wajah Ahmad seketika memerah, tak menyangka Arini memberikan jawaban segombal itu.
__ADS_1
Hembusan nafas Ahmad yang menyentuh tengkuk Arini membuat Arini bergidik geli. Pori-pori tubuhnya tiba-tiba meremang. "Ahmaaaad...!" suara bu Irene dengan nada kesal melihat putra kesayangannya terlalu dekat seakan menggoda Arini. Ahmad dan Arini terkejut. Ahmad tertawa menggoda menatap ke arah ibunya dan langsung memeluknya dengan penuh sayang. "Hhhhh...maaf, bu. Ahmad hanya mengajarinya sedikit sopan santun saat bertamu." sambil menatap tajam Arini "Jangan lupa, bu. Tamu ibu ini adalah mahasiswiku" sambungnya. Bu Irene menarik nafas sambil tersenyum. "Hati-hati semakin lama kamu memandang gadis itu kamu akan jatuh cinta. Oooooo...tapi ibu tidak yakin apa iya kamu bisa jatuh cinta?" ejek bu Irene pelan di telinga putranya. Ahmad menekuk wajahnya tak suka sambil mencium pipi ibunya.
โคโคkritik dan sarannya ya Readers...๐๐๐
__ADS_1