
Ahmad tersenyum menatap bunda Liana. Tanpa sungkan menyalami dan mencium tangannya. "Maaf, tan. Saya sudah hampir setahun menjadi dosen di kampus xx. Dan kebetulan putri Tante adalah mahasiswi saya" Bunda Liana mengangguk dan tersenyum lebar. "Beruntung sekali bu Irene" bunda menepuk punggung Ahmad dengan lembut "Ayo masuk dulu. Hari masih siang kan?" bunda melemoar pandangan ke arah Arini yang masih diam.
"Lain kali saja, Tante" Ahmad melirik Arini penuh arti. "Saya masih ada keperluan. Tadi kebetulan kami searah sehingga saya mengantar Arini" Ahmad berpamitan dan melangkah memasuki mobilnya dan bergerak meninggalkan Arini dan bundanya. Hmmmmmmhh...Arini bernapas lega menatap mobil Ahmad pergi. "Tidak biasanya kamu di antar laki-laki walaupun rumah kalian berada di komplek yang sama. Dan mengapa bisa kebetulan dengan anak teman bunda?"
__ADS_1
Sederet pertanyaan lagi yang terus meluncur dari bibir bunda Liana pada Arini hingga masuk ke dalam rumahnya. Arini menceritakan kedekatannya selama beberapa minggu terakhir ini, tanpa terlewat sedikitpun. Bunda Liana nampak terkejut dengan rencana Ahmad yang akan datang melamar Arini besok malam. "Kamu mencintai Ahmad, Rin?" selidik bunda dengan tajam dan alis berkerut "Apakah orang tuanya sudah tahu?. Dan bagaimana bisa kalian menikah tanpa cinta dan tanpa perjodohan" bunda memijat keningnya tak habis pikir. Arini hanya mengangkat bahunya pasrah.
"Menurut Bunda bagaimana?" santai Arini menantap bundanya yang sedang berpikir. Nampak jelas kerutan dan kecemasan di wajah cantiknya yang mulai menjelang senja. "Nanti bunda diskusi dengan abangmu dan saudara bunda yang lain. Sekarang istirahatlah, nanti kita pikirkan bagaimana selanjutnya" bunda mengelus kepala Arini dengan sayang.
__ADS_1
"Mungkinkah dia juga memiliki rasa yang sama denganku?" bathin Arini masih bingung. "Tapi tadi dia mengatakan bahwa sudah lama menyukaiku" ahhhhhhh...ada rasa bangga dalam diri Arini cintanya bersambut walaupun Ahmad belum tahu apa yang sesungguhnya Arini rasakan. Sikap dingin Ahmad begitu menarik bagi Arini. Ahmad memang tampan, hidung mancung, tinggi, bentuk tubuh yang ideal, apalagi sebagai seorang dosen muda di kampus yang terkenal. Menjadi incaran mahasiswi cantik dan sexy sudah pasti.
Ahhhhhh...Arini mendesah resah merinci kelebihan pria berdarah Arab yang telah mengajaknya untuk menikah. Debaran hati Arini semakin tak karuan ketika ponselnya berdering nyaring. Reflek tangannya menggeser menerima panggilan. "Assalamualaikum..." ucap Arini pelan. "Ariniiiiiiii..." pakik suara diujung sana. Arini menjauhkan ponselnya "iyaaa..." Arini menatap nama yang memanggilnya. "Hei, kamu lupa yaaa hari ini berkumpul membahas kegiatan sosial bulan depan" suara nyaring Tuti sang Bendahara organisasi terdengar kesal. "Kapan sifat lupamu itu bisa hilang agar menguntungkan untuk kita semua?". Arini tertawa kecil.
__ADS_1
Dasar bendahara berisik...bathin Arini menyadari kesalahannya. "Maaf, aku terima bersih deh hasil rapatnya. Beneran lupa dan sudah di rumah akunya. Maaf yaaa, Tut. Sampaikan permohonan maafku untuk Ketua dan yang lain. InsyaAllah lain kali aku nggak lupa" Arini meyakinkan sahabat organisasinya dengan rasa bersalah. "Dasar tukang lupa. Iya, awas minggu depan kamu lupa lagi. Tempel tuh jadwal kegiatan kamu besar-besar di cermin atau pintu kamarmu" kesal suara Tuti di seberang masih tak rela "Jangan-jangan nanti kamu lupa saat udah punya suami" suara Tuti tertawa dan memutuskan panggilan tanpa salam. 'Ishhhhhhh...resek' ucap Arini tertawa.