
"Maaf, bu Dini. David siapanya bu Dini ya?" Arini menatap Dini ingin tau. Ibu muda itu tertawa sambil mendudukkan dirinya di kursi dekat Arini di ruang makan.
"Dia adik suamiku. Pebisnis juga dari sejak dia mulai kuliah. Kamu mengenalnya?" Dini memotong kue buatannya dan menyodorkannya ke Arini.
"Iya. Beberapa kali bertemu. Dia dulu mahasiswa suamiku"
"Ooh, pantas dia dulu sering mampir ke rumah katanya ada keperluan dengan dosennya tapi dia tidak pernah cerita kalau yang dimaksudnya itu adalah suamimu"
"Rin, apa kamu tidak pernah memeriksakan diri dan suami ke dokter ahli kandungan?. Yaaa, sekedar melihat kesehatan kalian masing-masing biar tidak ada penyesalan di kemudian hari" bu Dini memberi saran sambil menggigit potongan kue yang di tangannya.
"Wah, kuenya enak banget bu Dini. Jadi dong bagi resep ini" Arini tertawa melihat raut tetangganya cemberut.
"Terimakasih. Ayo, jawab dong pertanyaanku yang tadi"
"Hhhhh, bu Dini penasaran yaaa" Arini menggoda tetangganya yang memang serba ingin tau.
"Iiih...bu Arini, ahhh"
"Sudah, bu. Dan kami dinyatakan sehat. Tidak ada masalah. Mungkin disuruh bersabar oleh Yang Maha Kuasa"
"Syukurlah. Aku doakan segera terdengar tangis bayi di rumah ini. Aamiin"
Mereka masih mengobrol beberapa saat sampai bu Dini selesai memberikan resep kue barunya yang di campur dengan wortel dan cokelat.
Arini mengantarkan bu Dini hingga ke gerbang rumahnya.
"Terimakasih ya bu, lain kali aku yang akan datang ke rumah bu Dini dengan hasil karyaku untuk kita nikmati" Arini tertawa bahagia.
Ibu muda cantik itu tersenyum lebar.
"Jangan diam di rumah saja. Kapan-kapan izin suamimu ikut aku ke cafe. Istri juga perlu ruang dan waktu buat bahagia" bisiknya tertawa sambil mencubit pipi Arini.
"Iya, nanti aku coba minta izin" Arini tersenyum bimbang dan menatap punggung bu Dini kembali ke rumahnya di sebelah rumah Arini. Tembok tinggi memisahkan jarak kedekatan antar tetangga di perumahan komplek ini.
...
Menjelang sore Ahmad kembali ke rumahnya setelah seharian beraktivitas di luar. Tubuhnya terasa letih, dan sejak pagi dia sudah merasakan tidak nyaman. Namun, karena banyaknya kegiatan yang memerlukan kehadirannya langsung maka semua rasa kurang nyaman ditahannya hingga segala urusan hari itu selesai dengan baik. Untung saja sahabat baik dan tangan kanan setianya selalu siaga disampingnya. Bima memang sosok yang luar biasa. Kata ayah Herman sih Bima dulu pernah sekolah militer tetapi karena sesuatu dan lain hal dia mengundurkan diri dan memilih bekerja di sektor swasta.
"Pak, besok aku yang ke Bogor atau bapak yang berangkat?" Bima asisten pribadi Ahmad memastikan jadwal bosnya untuk kegiatan kantornya.
__ADS_1
Ahmad melonggarkan dasinya.
"Kamu saja, Bim. Aku tidak bisa meninggalkan Arini" Bima tersenyum hambar. Dasar pak Ahmad. Selain pencemburu tingkat buta dia juga tak bisa jauh dari istrinya...batin Bima mengejek sikap bosnya.
Bima dulu adalah asisten pak Herman Widjaya Rahardian semasa bertugas di kota J. Sejak ayah Arini dan keluarganya pindah ke luar kota Bima sempat tidak bekerja, hingga di rekomendasikan untuk mengikuti Ahmad menantu dari bosnya yang dulu. Jadi, Bima sudah hafal benar tingkah dan sifat Ahmad.
"Baiklah, pak. Semua kegiatan di Bogor akan saya kirim langsung ke laptop anda. Besok pagi saya kabari. Oya, tiga hari kedepan jadwal di kampus kosong kecuali bapak ada mata kuliah tambahan itu diluar jadwal yang tertcatat"
"Terimakasih, Bim. Kau selalu bisa aku andalkan"
Ahmad turun dari mobilnya.
"Apakah bapak sudah merasa lebih baik?" Bima masih mengkhawatirkan atasannya itu. Karena sejak pagi beberapa kali dia berkeringat tiba-tiba dan pusing sehingga beberapa kegiatan sempat tertunda.
Ahmad mengangkat tangannya dengan jempol menandakan dia baik-baik saja. Bima tersenyum dan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Ahmad.
Ahmad membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum, sayang. Aku pulang" Ahmad membuka pintu rumahnya dengan wajah bahagia. Aroma kue menyeruak dari ruang dapur. Namun tak didapatinya Arini di dapur. Ahmad beranjak ke kamarnya.
cklek...
"Arini..." panggilnya menuju kamar mandi, namun lagi-lagi tak ditemukannya wajah istrinya.
Ahmad meletakkan tas kerjanya di atas tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Kakinya melangkah ke arah ruang belakang yang menuju ruang terbuka di halaman. Sayup dia mendengar suara istrinya sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel genggam.
Tidak lebih dari lima belas menit dia menunggu dan mendengarkan obrolan istrinya. Sesekali istrinya tertawa dengan lawan bicaranya. Perasaan Ahmad kian memanas.
"Asik bener ngobrol, sampai suami pulang tidak dengar" sindirnya ketika istrinya menutup panggilan. Arini terkejut dan melihat ke arah suaminya dengan tatapan kesal.
"Assalamualaikum" ucapnya sambil meraih tangan suaminya dan menciumnya. Ahmad menatap Arini dengan tatapan tajam penuh curiga.
"Siapa di telepon" ketusnya menatap istrinya tak suka.
"Evan, sayang" Arini meraih lengan suaminya meredakan emosi dari rasa cemburunya.
"Evan siapa?"
"Dia sahabatku. Kamu pasti tau. Dulu waktu kuliah kami selalu bertiga. Selama ini kami tidak pernah komunikasi. Dia baru saja meminta nomor HP ku yang baru lewat Melda. Dan dia menelponku"
__ADS_1
"Apa saja yang dibicarakan. Kenapa lama sekali ngobrolnya?"
Arini tersenyum dan mengajak suaminya ke ruang makan. Menarik kursi dan mendorongnya untuk duduk.
"Tidak ada yang penting. Evan bertanya kabarku. Dia kaget setelah aku beritau abang suamiku" Arini memotongkan kue dan menyodorkan segelas jus jeruk dingin.
"Tidak ada yang lain?" wajah Ahmad masih penuh curiga. Arini tersenyum memahami kebiasaan suaminya yang berlebihan cemburu.
"Tidak, sayang. Dia di Bandung meneruskan usaha ayahnya. Kalau dia ke Jakarta dia ingin mampir"
"Aku tidak suka kau berhubungan dengan lelaki lain, sayang. Berkali-kali aku katakan itu padamu" Ahmad mengibaskan tangannya yang di pegang Arini.
Arini menarik nafas. Sesak terasa dadanya tiap kali suaminya berpikiran negatif. Tidak bisakah dia hidup dengan pikiran normal...toh aku sudah mengikuti semua keinginannya...Arini memegang bahu suaminya dengan lembut.
"Aku ingin istirahat. Aku capek, Rin. Jangan terima telpon dari laki-laki lain selain suami dan orang tua kita" Ahmad nampak pucat dan membuka kancing kemeja bagian atasnya. "Aku tidak suka. Ingat itu!"
"Abang sakit?" Arini melepaskan dasi suaminya.
"Entahlah. Sejak tadi pagi aku merasa kurang rnak badan. Bebetapa kali aku berkeringat dan lemas"
"Minumlah jus ini sedikit. Setelah itu ayo ke kamar. Abang perlu istirahat. Nanti aku baluri minyak kayu putih"
Ahmad meminum jusnya hingga setengah gelas tanpa menyentuh kue. Arini memapah suaminya yang terlihat lemas ke kamar jntuk istirahat.
"Abang mandi dulu yaa...aku siapkan air hangat"
Arini mengurus suaminya dengan tekun.
"Makan dulu yaa...mungkin abang lelah"
Ahmad benar-benar tak berdaya. Tubuhnya lemas entah apa sebabnya. Tapi dia merasa baik-baik saja.
"Suapi yaaa..." minta Ahmad dengan manja. Arini membelalakkan matanya melihat sikap aneh suaminya yang tak biasa.
"Yang nggak enak kan badanmu, yang. Tapi tangan abang kan masih kuat"
"Ya sudah. Aku tidur saja" ucapnya cemberut sambil hendak menjatuhkan badannya di kasur.
"Isshhh...aneh benar sikapmu. Ayo aku suapi" Arini mengalah menyuapi suaminya dengan tulus. Namun tetap saja keanehan suaminya menjadi tanda tanya besar di hatinya. Ada apa dengan suaminya?...
__ADS_1
🌷🌷🌷jangan lupa like and votenya ya readers...kritik dan sarannya juga kalau kalian suka dengan karyaku...❤❤❤