IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
50. Obrolan laki-laki


__ADS_3

Ahmad dan papanya menyepakati perusahaan di kota J akan dijalankan oleh orang kepercayaannya. Dan Ahmad akan memantau dari Amerika, serta sesekali akan datang untuk turun langsung ke perusahaan dengan waktu yang tidak terjadwal.


Untuk sementara ini, papa akan banyak membantu orang kepercayaan Ahmad dalam menjalankan perusahaan mereka.


Rapat direksi pemegang saham hari itu tuntas dengan beberapa keputusan yang saling menguntungkan dan melegakan pemilik saham.


Ahmad membereskan meja kerjanya. Memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam sebuah kardus agar mudah dibawa pulang.


Tok


tok


tok


Ahmad mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat.


"Masuk..." Ahmad menghentikan kegiatannya dan menunggu siapa yang datang.


Bima muncul sambil mengucap salam.


"Hanya ini berkas yang bisa rampung hari ini, pak" Bima meletakkan paspor, visa, dan surat nikah di atas meja kaca. Ahmad menarik nafas panjang. "Tiket besok pagi akan dijadwalkan ulang setelah semua urusan selesai. Oya, penyewa rumah itu meminta membayar setengah dulu jika diizinkan di luar kesepakatan yang tertera di surat. Jika bapak mau maka uangnya akan segera di transfer beserta kuitansinya"


"Untuk sewa rumah itu aku serahkan sepenuhnya padamu. Hanya saja aku minta rawat rumahnya agar jangan pudar dan rusak disana sini. Untuk biaya sewa masukkan saja ke rekening Arini" Ahmad melonggarkan dasinya.


"Baiklah. Surat perjanjian sewanya saya bawakan besok. Apakah tidak ada yang di rubah dari point-point itu?" Bima meyakinkan atasannya.


"Tidak. Aku rasa semua sudah clear"


"Bapak yakin tidak akan kembali ke Indonesia?" Bima masih ingin meminta pendapat atasannya yang masih muda ini. Bima sangat mengenal Ahmad dan Arini. Bahkan, sejak ayah Arini masih menjadi atasannya di satuan angkatan darat.

__ADS_1


"Untuk menetap lebih baik kami disana, Bim. Tapi kami akan sesekali ke Jakarta menjenguk mama dan sebaliknya mungkin mereka akan ke Amerika"


Bima tertawa sumbang.


"Besok temani aku melihat proyek perumahan di kota B. Setelah aku pergi, aku sangat berharap proyek itu kamu prioritaskan selesai sesuai rencana. Nanti papa akan banyak membantu di kantor, tapi usahakan jangan terlalu porsir. Maklum papa sudah berusia. Beda tipis denganmu" sindir Ahmad sambil tertawa.


Bima menarik nafas dan membuangnya dengan sedikit dongkol. Sifat Ahmad yang suka menggoda Bima muncul dimana saja saat mereka sedang berdua. Bima sangat memahami hal itu. Mereka sudah seperti saudara di saat sedang berdua walaupun di tempat kerja. Karena itulah Bima betah mendampingi Ahmad bertahun-tahun dalam segala kegiatannya, baik itu di kampus maupun di perusahaan.


"Aku juga akan datang saat mas Bima sudah siap melepas status perjaka tua itu" Ahmad menyeringai menggoda.


Bima tertawa masam. Duduk dengan tenang sambil melonggarkan dasinya.


"Menikahlah, mas Bima. Aku tau kamu laki-laki sempurna. Kekuranganmu hanya satu di balik tubuh kekarmu itu ada rasa takut yang berlebihan" Ahmad tertawa menggoda orang kepercayaanya yang setia. Wajah tampan itu emggan menjawab kalimat atasannya.


Memang tak ada yang kurang secara fisik dari seorang Bimasena. Tubuhnya proporsional dan berotot, tinggi menyamai Ahmad 180 cm, wajah tampan, hidung mancung, kulit khas Indonesia. Tapi Bima selama ini tidak pernah punya wanita spesial dalam hidupnya selain Ibu dan adik perempuannya yang telah menikah dan punya anak 3.


"Jangan berpikir yang belum terjadi" Bima menanggapi dengan suara datar.


"Ck. Mana ada istilah karatan kalau selalu dalam perawatan" Bima santai namun sedikit kesal menjawab gurauan Ahmad.


"Sekalipun dalam perawatan kalau tidak pernah digunakan untuk hal yang sesungguhnya akan kehilangan fungsi, mas" Ahmad ngeyel. Bima mendecih tersudut.


"Cepatlah produksi bayi perempuan sebanyak-banyaknya" Bima tersenyum penuh arti.


"Heh..., apa hubungannya bayi-bayiku dengan obrolan kita?" Ahmad menatap Bima dengan alis terangkat.


"Aku akan menikahinya setelah dia dewasa" ucap Bima spontan.


Ahmad langsung melemparkan kotak tissu ke arah Bima dengan kesal. Bima menangkapnya dengan tepat sambil tertawa puas membalas sindiran Ahmad tentang statusnya.

__ADS_1


"Amiiit...ampun Tuhan, jangan sampai aku punya menantu seusia mas Bima"


"Memangnya kenapa?, kau bilang tadi aku sempurna dan tidak ada kekurangan?"


"Mas Bima akan nampak seperti pedofil. Masa iya suaminya udah kakek-kakek istrinya seusia cucunya" Ahmad kali ini tertawa membayangkan Bima dengan kulit keriput.


Bima ikut tertawa kecut dan terpaksa.


"Obrolanmu tidak bermutu" sindir Bima ketus. Ahmad tertawa lepas.


"Dan aku tidak bisa membayangkan onderdil dalammu. Apakah masih bisa di pakai atau tidak"


"Kau lupa bahwa laki-laki tua itu bagai kelapa. Semakin tua santannya makin bagus" Bima tersenyum keciĺ.


"Isshhh...tapi tidak untuk putri-putriku kelak" Ahmad menyeringai sinis. Obrolan laki-laki dewasa antara mereka memang hampir tanpa batas. Namun Bima tidak ingin terus meladeni obrolan Ahmad yang tanpa arah dan membuat Bima merasa sadar usianya telah melewati angka 30an.


"Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan aku akan keluar mengambil tiket" Bima berjalan menuju pintu keluar ruangan CEO.


"Cih...begitu saja sensi" cibir Ahmad bangun dari kursinya meraih jas dan tas kerjanya.


"Tolong bawakan barang-barangku itu ke mobil, aku ingin segera pulang" Ahmad menggeser dua buah kardus yang tergeletak di meja.


Bima meraih kardus berisi barang-barang pribadi Ahmad.


"Besok aku masih ke sini, Bim. Beberapa berkas dia bagian administrasi belum ku tandatangani. Tolong mintalah bu Aini untuk menyelesaikannya hari ini agar besok pagi bisa ku selesaikan" pinta Ahmad sambil melangkah keluar.


Hampir sekesai semua urusannya menjelang keberangkatannya beberapa hari lagi. Kedua orang tua mereka telah menyetujui kepindahan mereka ke Negari Paman Sam itu. Rumah yang mereka tempati akan disewakan agar ada yang merawatnya, dan Bima telah menemukan penyewanya. Ahmad sedikit bisa bernafas lega, kehidupan baru mereka akan dimulai tanpa gangguan.


....love you Readers...

__ADS_1


❤❤❤🌷🌷🌷


__ADS_2