IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
40. Mengalah


__ADS_3

Arya yang merasakan aura kecemburuan dari mantan Dosennya tersenyum manis. Profesional sekali, tak ada raut marah dari wajahnya. Setelah mengucapkan kata maaf Arya berlalu dengan sopan. Sesekali dia masih menoleh ke arah Arini yang noteben adalah teman akrab sejak pertama kuliah dulu.


Arya merasa tak percaya Arini bisa berada dengan percaya diri dalam suasana tatapan suaminya yang sangat di pahami ooeh Arya. Cemburu...Arya tertawa kecil sambil menggeleng.


"Pilihan hidup memang luar biasa" bisiknya dengan suara pelan.


"Maaf, pak. Bapak mengatakan sesuatu?" seorang waitres bengong ke arah managernya. Arya yang sadar akan ucapannya hanya tertawa dan meninggalkan ruangan yang ramai dengan pengunjung.


"Tidak. Makanya jangan bengong, jadinya kamu berhalunisasi"


Sang waitres tersenyum masam.


Arini menatap lekat wajah suaminya sambil menghabiskan makanannya. Arini merasa malu dengan sikap suaminya yang berlebihan. Mereka menghabiskan makan dengan tanpa obrolan.


Ketika mereka berjalan keluar hendak pulang, seorang laki-laki dengan seragam restaurant menghentikan langkah mereka. Laki-laki itu menyerahkan sebuket bunga krisan segar warna merah muda ke arah Arini.


"Mohon di terima, bu. Ini hari ketiga restaurant kami merayakan ulang tahun perusahaan kuliner. Semoga bapak dan ibu bahagia selalu dan kembali menikmati hidangan restaurant kami" ucapnya sopan di pintu keluar.


Arini tersenyum sumringah, baru saja tangannya terulur hendak menerima buket bunga indah itu suaminya langsung meraih bunga tersebut dari tangan karyawan restaurant yang bernama Rahman.


Arini terpana dengan sikap suaminya.

__ADS_1


"Bang..." Arini menatap wajah suaminya yang membeku. Raut wajah karyawan itu nampak berubah terkejut dengan sikap Ahmad.


"Jangan membantah" ketus Ahmad tak suka dengan teguran Arini istrinya.


"Terimakasih untuk bunganya. Sampaikan salam untuk managermu" Ahmad meraih pinggang Arini dan melenggang meninggalkan restaurant.


Karyawan itu gugup menjawab dan tersenyum terpaksa. Arini tak bisa berbuat apapun.


"Bang, bisa tidak sikap itu dikurangi sedikit saja?" Arini menatap suaminya yang menyetir dengan pandangan lurus tanpa senyum.


"Kamu yang harusnya mengurangi sikap menunjukkan diri di hadapan lelaki manapun. Kamu sudah bersuami. Ingat itu!" Ahmad enggan mengakui sifat buruknya yang berlebihan. Egois...iya itu kata yang tepat untuk sifat cemburunya. Tapi wajar kan...seorang suami melindingi yang dimiliki dengan berbagai cara, apalagi itu adalah istri.


"Ck, aku bahkan tidak tau sikap mana yang membuatmu cemburu di hadapan lelaki lain padaku" Arini membuang muka kesal dengan sikap suaminya.


"Tapi sikapmu itu berlebihan, sayang. Kamu tau tidak sikapmu tadi membuatku malu"


cittt...


Ahmad mengerem mendadak dan itu membuat Arini terkejut dan hampir membentur dashboard mobil.


"Kamu malu dengan sikap suamimu?. Apa aku tidak salah dengar?" suara Ahmad meninggi menatap wajah istrinya tak suka.

__ADS_1


"Maaf, bukan maksudku begitu. Aku ingin abang mengontrol cemburu itu di hadapan orang" Arini menatap wajah suaminya sambil meredakan rasa kagetnya.


"Aku mulai curiga padamu. Jangan-jangan kau memang mulai bosan denganku" ucap Ahmad sinis.


Arini menarik nafas gusar. Selalu suaminya salah sangka ketika membahas soal sikap suaminya yang berlebihan.


"Jangan mulai lagi deh, bang" Arini mulai gusar melihat suaminya mulai emosi.


"Ayo, pulang. Kita bisa bicarakan baik-baik di rumah. Maaf kalau ucapanku salah" Arini mengalah meredam segala keresahan hatinya. Mengalah adalah yang terbaik dalam hubungan ini. Hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Arini selama ini.


Ahmad membuang nafasnya kasar. Menjalankan mobilnya dengan muka masam. Berbagai persaan berkecamuk dalam hatinya. Ya, keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Sesekali dia melirik ke arah istrinya yang menatap lurus ke jalan raya tanpa ekspresi.


Ahmad sadar sikapnya terlalu berlebihan, namun dia merasa itu masih dalam batas wajar. Tak ada seorang suamipun yang ingin miliknya di kagumi oleh orang lain, apalagi itu istri.


Setelah dua puluh menit Ahmad memarkirkan mobilnya di garasi dengan tenang. Lalu turun melangkah ke dalam rumah mengikuti langkah istrinya. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka.


Ahmad menatap punggung istrinya yang melenggang masuk kamar. Hmmmmm...Ahmad menghembuskan nafas gusarnya. Apa aku berlebihan dengannya?...Apakah aku terlalu mengekang hidupnya?...Aku rasa tidak. Segala kebutuhannya aku penuhi...ahhhhh...Ahmad melangkah masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.


Apakah benar sikapku ini karena tidak adanya kehadiran tangisan bayi di antara kami?...batin Ahmad resah. Teringat ucapan beberapa sahabat dekatnya saat membicarakan masalah rumah tangga. Rata-rata mereka membanggakan putra putrinya yang licu dan menggemaskan.


"Aku yakin sikap cemburumu yang berlebihan itu akan terkikis jika ada si mungil diantara kalian. Berusahalah lebih keras, brother" itu kalimat sahabat dekatnya kala itu.

__ADS_1


Kembali Ahmad membuang nafas gusarnya. Tak didapatinya Arini di kamar. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, Ahmad tersenyum. "Mandi rupanya..."


...beri masukan ya Readers hebatku..love you deh❤❤❤


__ADS_2