
Ahmad menyelesaikan administrasi perawatan David dan melangkah keluar RS bersama Arini menuju parkir. Tak ada yang hersuara diantara mereka hingga keduanya duduk di mobil. Perlahan mobil berjalan meninggalkan halaman parkir RS.
Ahmad melirik istrinya yang masih diam. Raut wajahnya tak terbaca.
"Sayang, apakah kamu masih marah?, abang minta maaf tidak bisa mengendalikan emosi"
Arini masih diam dan tidak tau harus menjawab apa. Kejadian hari ini sungguh menguras tenaga dan keseimbangan psikisnya.
"Ayolah, Sayang. Jangan diamkan aku. Bicaralah sesuatu. Kau lihat kan, bagaimana liciknya sandiwara David. Dia pikir aku terlalu bodoh untuk bisa dijebak dengan drama recehan" Ahmad mengeluarkan uneg-uneg hatinya dengan sesikit kesal.
"Bagaimana abang bisa tau dia bersandiwara, bukankah tadi jelas dia pingsan setelah abang pukul?" Arini menatap suaminya sesaat dengan heran.
Ahmad menghela nafasnya, dan melambatkan laju mobilnya di tengah keramaian kota yang tak pernah sepi sejenakpun.
"Dokter Fahri menjelaskan beberapa hal setelah penanganan di UGD. Tubuhnya sehat tidak cedera sedikitpun, bahkan dia tidak kehilangan kesadarannya saat kita bawa tadi" Ahmad menjelaskan secara detil penjelasan dokter Fahri.
"Pantas saja tadi di kamar dia reflek bangun dan berbicara" Arini melirik suaminya yang fokus mengemudi.
"Aku tau. Aku sengaja memberikan kesempatan untuk anak itu berbicara denganmu. Walaupun aku cemburu setengah mati"
"Ishhhh..." Arini memukul lengan suaminya.
"Kenapa abang lakukan itu?"
"Dokter Fahri benar. Obsesi David sangat tinggi, dengan memberi sedikit ruang mungkin secara psikis dia bisa memahami keinginan hatinya yang salah. Dia butuh bimbingan rohani agar tidak menjadi sakit. Aku berharap dia menyadari kesalahannya" Ahmad tersenyum dingin.
"Jadi abang sengaja membiarkan kami berinteraksi tadi?" Arini mencebikkan bibirnya melihat ke arah suaminya. Ahmad tertawa melihat raut wajah istrinya.
"Jangan menggodaku dengan bibirmu yang begitu. Kita sedang di jalan umum"
"Ck. Dasar otak kotor. Kalau lagi normal otakmu itu ngeres terus" Arini mencubit pinggang suaminya.
__ADS_1
"Awww...hentikan, Rin. Aku nafsu nanti" teriak Ahmad menggoda istrinya.
"Abang apa'an sih..."
"Maksudnya nyubitnya kebawahin dikit, sayang"
"Tuh kan...nyebelin banget abang ahhh"
Ahmad tertawa lebar dan mencubit lembut pipi istrinya yang sudah terlihat berisi karena efek hamil muda. Menggemaskan dimata Ahmad.
"Sayang, kamu makin cantik lho" puji Ahmad dengan sumringah.
Arini tertawa pelan mencebikkan bibirnya.
"Tuh kan...aku tadi bilang apa. Jangan memggodaku dengan bibirmu seperti itu" tegur Ahmad gemas.
"Ck...ahhh"
Arini makin cemberut. Sikap suaminya berlebihan dan itu membuatnya sedikit kesal. Ahmad masih tertawa melihat raut wajah istrinya. Rasanya setelah kejadian tadi hal yang paling menarik untuknya adalah menggoda istrinya.
"Ntar sampai di rumah aja. Aku ingin makan mie soto di campur sayuran dan saos" Arini membayangkan makanan yang dinginkannya.
"Yakin...?"
"Abang mungkin yang pengin makan apa gitu?"
"Nggak juga. Rasanya aku juga ingin makan mie soto denganmu" Ahmad tertawa riang ikut membayangkan mie soto panas di mangkuk dengan sayuran dan saos. Sederhana tapi rasanya nikmat.
Ahmad memarkir mobilnya dan turun mengunci gerbang rumah. Lampu rumah telah menyala itu memastikan bahwa bik Ijah telah tiba di rumahnya.
Untuk beberapa hari bi Ijah memang diminta mama untuk menemani Arini sebelum keberangkatan mereka ke luar negeri.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." Ahmad dan Arini masuk bersamaan.
"Waalaikumsalam. Tadi mas Bima membawa amplop, tu bibi letakkan di meja ruang kerja nak Ahmad" bi Ijah tersenyum lembut.
"Terimakasih, bi. Oya, maaf bibi sampai menunggu kami selarut ini" Ahmad mengelus pundak bi Ikah yang sudah seperti ibu pengganti baginya.
"Tidak apa-apa, nak. Oya, apakah nak Arini ingin bibi buatkan sesuatu?"
Arini tersenyum sambil memeluk bi Ijah.
"Kalau boleh buatkan mie kesukaan Arini, bi...2 mangkok"
"Yakin makan 2 mangkok?" bi Ijah mengerutkan keningnya. Biasanya yang doyan makan akhir-akhir ini adalah Ahmad.
"Iya, bi. Kan makannya bareng abang" Arini mencium pipi bi Ijah. "Terimakasih ya, bi. Arini ganti baju dulu"
Bi ijah mengangguk dan berjalan ke dapur untuk membuatkan mie kesukaan Arini.
Ahmad keluar dari ruang kerjanya sambil membuka amplop coklat dari Bima yang tadi dititipkan di bi Ijah. Dua tiket penerbangan ke New York dua hari lagi telah siap.
Ahmad menarik nafas lega dan melangkah memasuki kamar tidurnya. Suara gemericik air dari kamar mandi.
"Sayang, jangan mandi terlalu lama ini sudah larut malam lho" Ahmad mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya. Ini juga udah mau selesai"
Ahmad membaringkan tubuhnya setelah melepas kemeja yang dikenakannya seharian ini. Empat buah koper besar telah rapi di sisi lemari. Ahmad menyapu ruangan kamar tidur dengan tatapan mata lega dan bahagia.
"Setidaknya aku sudah berusaha menjaga hubungan baik dengan beberapa orang. Meskipun aku akui sifat jelekku tak bisa dengan mudah untuk dihilangkan. Semoga Arini tidak bosan dengan sifat cemburuku yang herlebihan ini. Tapi, wajarlah" Ahmad menepis rasa bersalahnya "Suami mana yang mau dan rela istri yang dicintainya dilirik oleh laki-laki lain. Apalagi sampai dijadikan rebutan dan obyek tujuan"
Ahmad memejamkan matanya, meresapi setiap peristiwa yang dilewati. Tidak mudah, tapi bisa jadi ini adalah yang terbaik untuk keutuhan rumah tangga mereka.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa Like, Vote, dan komentarnya yaaa Readers hebatku