
"Nih, simpan kartumu. Anggap saja aku sedang beruntung dan bahagia hari ini, makanya aku traktir belanja bulananmu" ucap David menyodorkan kartu ATM Arini tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ayo, jalan. Aku antarkan barang-barangmu ke mobil. Ohya, mana mobilmu, atau aku antarkan saja yaa sampai di rumahmu. Hitung-hitung sebagai tanda baktiku pada pak Ahmad yang telah banyak membantu thesisku hingga selesai. Bulan depan aku sidang. Doakan yaaa...lulus dengan sempurna" David melangkah sambil tak henti berbicara. Arini benar-benar dibuat tak menentu dengan sikap David.
"Dave, boleh aku bicara?" pinta Arini tak ingin menyinggung perasaan laki-laki di depannya. Bagaimanapun David selalu sopan padanya, meski tingkah laku konyolnya membuat hati Arini menegang. Seandainya Arini seorang gadis remaja mungkin baper nggak ketulungan.
David menghentikan langkahnya. Menatap Arini sejenak, lalu tertawa dengan renyah. Duh...sumpah tampannya berkali lipat kalau begitu...batin Arini gerah.
"Apakah ini artinya kamu ngajakin aku duduk sebentar di tempat tertentu?" matanya berbinar seperti remaja jatuh cinta. Ingin Arini mencolok mata nakal itu. Huffff...dasar laki-laki pengganggu.
"Eh...nggak nggak. Enak aja. Aku masih waras nih. Jangan lupa aku istri Dosenmu." tekan Arini ketus.
"Baiklah, kita duduk sebentar di rest area. Tuh, ramai kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku ngapa-ngapain kamu. Aku tetap menghormatimu sebagai istri Dosenku dan..." David tidak meneruskan kalimatnya. Dia menatap segan ke arah Arini. "Mungkin juga jodoh masa depanku" senyumnya melebar tanpa beban.
"Duduklah..." David meletakkan belanjaan Arini di sebelah kursi di rest area.
"Oh ya, dengan siapa kamu pulang?" tanya David dengan wajah serius.
"Nanti aku oesan taksi online"
"Apa boleh aku yang mengantarmu?"
"Tidak. Terimakasih. Aku tidak mau merepotkanmu"
__ADS_1
"Ck. Kamu masih saja menganggapku pengganggu. Aku akan mengantarmu. Jangan menolakku" David menelpon seseorang. Arini tak mampu berbuat banyak. Arini hanya bisa diam menahan kesal. Tak berapa lama seorang laki-laki berpakaian hampir sama dengan David datang dengan langkah lebar.
"Letakkan di bagasi, dan tunggulah sebentar nanti kamu antarkan kami ke perumahan pak Ahmad" David menyerahkan belanjaan Arini yang terbungkud dalam beberapa plastik.
"Baik, bos" laki-laki itu menunduk hormat dan tersenyum sopan ke arah Arini. Arini tersenyum dingin dan menatap punggung laki-laki itu yang berjalan keluar dengan membawa belanjaan Arini yang agak banyak.
"Jangan menatapnya terlalu lama. Dia Deni asisten pribadiku. Orang dari Malang. Dia kepercayaan orang tuaku yang sudah beberapa tahun ini ikut denganku." David menjelaskan sambil menatap Arini. Arini menunduk malas.
"Dave, aku mohon berhentilah mengikutiku. Aku tidak ingin suamiku salah paham dengan sikapmu itu. Bukankah kamu tidak memiliki kekurangan apapun untuk mendapatkan wanita yang kamu inginkan" Arini meremas jemarinya mengutarakan isi hatinya secara gamblang. Mungkin dengan cara ini David bisa memahami kegalauan hatinya atas sikapnya selama ini.
Bukannya David terperangah, laki-laki tengil ini malah tertawa renyah tanpa beban. Ya Tuhan...ada tidak si perasaan di hatinya untuk memahami makna kalimatku?...bathin Arini bingung.
"Memangnya siapa yang mengikutimu. Kita bertemu tanpa sengaja kan?" tekannya ringan.
"Kamu mungkin yang merasakn hal itu"
"Dave. Tolong pahami situasiku. Perkawinanaku baru beberapa bulan kubangun. Aku mencintai suamiku. Dan aku akan selalu setia kepadanya. Jadi, tolonglah berhenti mendekatiku"
Raut wajah David sedikit berubah. Ada guratan kecewa di matanya. Namun, David masih bisa tertawa manis.
"Itulah sayangnya takdirku. Bukan aku yang bertemu denganmu pertama kali, sehingga aku tidak ditakdirkan menjadi suamimu. Tapi, kita tidak tau. Siapa tau takdir masa depanku mengatakan kamu akan menjadi milikku. Dan kamu perlu ingat ini. Mmmmm...ahhhh aku rasa tak perlu kau mengingatnya takdir akan menbawaku menjadikanmu istriku. Aku rasa aku hanya perlu ikhlas menerima keadaanmu sekarang" David menyisir rambutnya dengan jari-jati tangannya. Tersenyum penuh keyakinan ke arah Arini.
"Rin, sejauh apapun kita berlari dan bersembunyi jika takdir mempertemukan kita, maka kitapun harus ikhlas menjalaninya. Dan selama ini aku tidak mengganggu hubungan kalian meski aku pernah mengatakan padamu bahwa aku jatuh cinta padamu. Aku menjaga semua sikapku walau sejujurnya aku ingin kurang ajar. Tapi aku sangat menghormati suamimu. Dan yang lebih penting lagi aku sangat mencintai kamu Arini Rahardian." David mengucapkan isi hatinya tanpa berani melihat wajah Arini yang entah sudah seperti apa mendengar kalimat David yang terus terang.
__ADS_1
"Aku rasa cukup, Dave. Tak ada gunanya juga kamu mengungkapkan semua itu. Hatiku telah dipenuhi oleh nama suamiku. Aku mau pulang sekarang" Arini bangkit dari duduknya. Percuma saja memberikan atau meminta pengertian dari seorang David ujung-ujungnya Arini hanya bisa diam tanpa bisa mengeluarkan kalimat kasar. Duh...Arini terlalu baik sih hatimu.
Tak ada perbincangan di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang diantar David dan asistennya. David nampak asik menikmati musik yang diputar di mobil itu. Gaya anak muda tanpa beban. Arini menarik nafas pasrah.
"Baiklah. Sampaikan salamku buat pak Ahmad"
David meletakkan barang belanjaan Arini dekat pintu rumahnya.
"David"
"Hanya salam. Apakah kamu mau suamimu berprasangka buruk pada kita?"
"Cukup, David"
"It's okay" David mengangkat tangannya menyerah melihat wajah Arini berang. David tertawa lebar.
"Takdirku akan membawa kepada apa yang aku impikan. Sekalipun kamu tidak menginginkannya. See you, Wanita masa depanku" David menutip pintu mobilnya meninggalkan Arini yang kehabisan kata-kata menghadapi David yang tak bisa ditebak kemauannya. Ahhh...dasar pengganggu.
...ngebut nih Readers...
semoga suka yaaa...
mumpung lagi ngalir idenya🤗🤗🤗🤗
__ADS_1