
Pagi itu Arini dan Ahmad masih bermalas-malasan di kamar mereka. Ya, terhitung sehari lagi mereka akan melakukan penerbangan ke New York untuk memulai hidup baru di sana. Dan juga kontrak pekerjaan yang Ahmad tanda tangani sudah harus di realisasikan. Sehingga tidak ada kata mundur untuk pindah. Mereka telah berbulat tekad untuk ke New York . Berbagai persiapan telah mereka selesaikan termasuk dokumen tinggal. Malam nanti rumah Ahmad akan ramai, karena kedua keluarga akan berkumpul menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan.
Arini tidak tau, kapan lagi bisa kembali ke Indonesia untuk bertemu keluarganya. Yah, walapun suaminya sudah mengatakan akan sering ke Indonesia untuk urusan perusahaan bukan berarti Arini bisa ikut serta setiap suaminya terbang ke Indonesia.
"Sayang, aku akan keluar membeli sesuatu. Apakah kamu mau ikut?"
Arini bangun dan duduk di tepi ranjang. Matanya menatap jarum jam di dinding yang masih menunjukkan angka 5 sore.
"Ikut, bang. Aku ingin membeli jaket dan camilan"
"Camilan sudah banyak, sayang" Ahmad menatap protes ke arah istrinya. Arini enggan membalas. Arini bergegas berganti pakaian dan berdandan seperlunya.
Ahmad meraih beberapa kantong belanjaan yang telah terisi meletakkannya di bagasi mobil. Menutup bagasi dan menarik nafas dalam, sambil memandang ke arah istrinya yang masih terlihat muram.
"Masih marah?" sapa Ahmad lembut. Arini mmbuang mukanya dengan agak kesal. "Ayolah, sayang. Kejadian tadi juga spontanitas. Dia sudah minta maaf pada kita berdua."
Arini membuka pintu mobil, tanpa bicara duduk dan menutup pintu dengan kuat.
Ahmad kembali menghalau nafas galau dari mulutnya. Membuka pintu dan duduk tanpa kata menyetir mobil menuju rumah mereka.
Ahmad juga tak habis pikir mengapa bisa Claudia hadir di super market itu dan langsung memeluknya. Claudia adalah salah satu teman kuliahnya yang juga sudah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di kota ini.
Ahmad melirik istrinya yang masih membuang muka ke arah jendela.
"Bumil tidak baik terlalu lama cemberut. Itu mengganggu kesehatan janin, sayang. Dan lagi kata dokter terlalu lama cemberut membuat kadar kecantikan menurun lho" Ahmad mencoba menggoda istrinya.
"Abang tidak pernah bercerita tentang bu Claudia" lirih Arini
"Maaf, sayang. Setelah ini kita akan punya banyak waktu untuk bercerita apa yang ingin kau ketahui dan apa yang patut kita ketahui untuk masa depan kita. Aku berjanji, tidak akan menyembunyikan sekecil apapun tentangku darimu" Ahmad tersenyum meyakinkan istrinya. Arini mengangguk pelan. "Emang bumil muda sensitif yaaa..." Ahmad tertawa menggoda melihat wajah istrinya sudah melunak.
"Tuh tau..sadar diri juga suka cemburu tingkat tinggi" balas Arini.
Ahmad melirik istrinya.
"Kecuali dia yaaa..." jawab Ahmad dengan penekanan.
__ADS_1
"Sudah sampai. Kita akan bahas semua itu nanti setelah di New York" ucap Ahmad memarkir mobilnya di halaman rumah dan mematikan mesin.
"Abang..." Arini hendak protes.
"Sepakat, sayang. Agar tidak ada dusta antara kita. Ingat, niat utama kita memutuskan untuk meninggalkan negara ini. I love you" Ahmad tak memberikan waktu untuk istrinya mengeluarkan pendapat. Ahmad memberikan ciuman lembut di pipi istrinya. Dan turun dari mobil dengan tersenyum penuh kemenangan.
Arini tersenyum kecil.
Belum lagi mereka benar-benar masuk ke dalam rumah panggilan di pintu membuat mereka berdua berbalik. Nampak kedua orang tua mereka dan beberapa kerabat dekat telah tiba dalam rangka acara makan malam menjelang keberangkatan mereka.
Kedua sahabat Arinipun tampak diantara keluarga.
Ahmad dan Arini menyambut mereka dengan gembira. Kehangatan tercipta antara keluarga.
Mereka bercengkrama dengan riuh, sesekali diselai dengan canda tak bermutu dari sahabat Arini yang juga sepupunya. Usai sholat isya berjama'ah, mereka duduk bersama menikmati makan malam.
"Jaga istrimu dengan baik, Ahmad. Jangan lupa kabari kami apapun itu. Jika kau pulang ke Indonesia, kabari juga kami" pesan mama Arini dengan mata berkaca. Ahmad mengelus punggung ibu mertuanya tang duduk bersebelahan dengannya.
"Mama tidak usah khawatir. Semua pesan mama dan keluarga disini akan selalu Ahmad ingat. Do'akan kami bisa selalu survive dan lancar dalam segala urusan" Ahmad mencium kepala mama Arini yang sudah seperti ibunya sendiri.
Ahmad menunduk sambil mengangguk
"Ayah tak perlu khawatir tentang itu. InsyaAllah Ahmad tidak akan pernah membuat Arini merasa sakit, yah" jawabnya pelan dan sopan.
Semua mendengarkan berbagai nasehat yang diberikan kepada pasangan beda usia itu dengan khidmat. Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi nyaring, memberi tanda ada seseorang yang datang bertamu. Sesaat mereka saling pandang. Bi Ijah dengan cepat beranjak ke ruangan depan.
Keluarga Ahmad dan Arini mengakhiri makan malamnya dan duduk bercengkerama di ruang keluarga.
Bi Ijah tergopoh datang membawa sebuket bunga mawar merah yang terangkai indah. Ahmad dengan segera bangun mendekati bi Ijah dengan hati dqn pikirqn yang mulai tak nyaman.
Ahmad tahu dengan pasti siapa pengirim buket bunga dengan harga yang lumayan itu.
"Orang yang sama ya, bi?" tanya Ahmad menarik lengan bi Ijah sebelum sampai ke ruang keluarga. Bi ijah bingung.
"Bibi minta maaf, nak. Orang itu memaksa dan mengancam bibi jika tidak mau menyampaikan bunga ini" bi Ijah menyerahkan buket bunga ke tangan Ahmad. Ahmad mengangguk dan membiarkan bi Ijah kembali berkumpul dengan keluarganya.
__ADS_1
Ahmad beranjak ke ruang samping sambil menarik amplop kecil bertuliskan note berwarna biru muda. Ahmad menarik nafas geram membaca kalimat pada secarik oertas kecil warna senada amplopnya. Bunga cantik untuk yang tercantik di dunia. Nama David tertulis indah dibagian bawahnya di sebelahnya di beri caption jantung.
Ahmad meremas kertas itu dengan kesal. Menekuk buket bunga mawar itu dan melemparkannya ke bak sampah di sudut ruangan itu. Dia bersandar sejenak sambil menenangkan rasa cemburu dalam dadanya.
"Lho, kamu disini ternyata. Tuh di cari ma yang lain" papa Ahmad menepuk pundak putranya yang membuat Ahmad terkejut dan panik.
"What is happened" suara papa Ahmad penuh selidik. Matanyabtajam menatap wajah putra kesayangannya itu.
"Tidak ada yang berarti, pa. Hanya sandungan kecil" ucap Ahmad dengan pelan.
"Kamu yakin tidak ingin menceritakannya pada Papa, Son?"
"Aku bisa mengatasinya, pa. Papa tenang saja"
"Apakah itu salah satu alasanmu memilih New York?"
Ahmad menarik nafas panjang dan tersenyum menyeringai.
"I believed you, Son" Papa Ahmad menepuk pundak anaknya dengan penuh makna "Tetapi setiap masalah besar atau kecil kau harus menyelesaikannya. Jangan sampai jadi api dalam sekam"
Ahmad terhenyak sejenak. Ya, papanya benar apakah dengan menjauhkan Arini dari David obsesinya terhadap Arini bisa padam ataukah akan terjadi hal yang sebaliknya?. Ahmad membuang nafasnya dengan berat. Papa Ahmad memahami situasi putra tersayangnya.
"Papa siap membantu jika kau membutuhkan. Ingat, cucu papa harus terjaga dengan aman, Son. You know that more than me"
"Iya, pa" Ahmad menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Jika kau berubah pikiran segera hubungi Papa. Jangan kecewakan istri dan mertuamu. Ayo, kembali ke ruangan" papa Ahmad merangkul bahu putranya sambil tersenyum.
"Terima kasih, pa" lirih Ahmad yang dibalas senyum teduh oleh papa nya.
@@@@@
Maaf, Readers tercinta...baru bisa update lagi. Alhamdulillah segala urusan darat telah rampung. Jangan lupa jempol manis dan sarannya ya...❤❤❤❤❤❤
"
__ADS_1