IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
15. Tanyakan pada hatimu


__ADS_3

Arini terdiam mendengar pertanyaan ibunya. "Selama ini hatiku tak pernah jatuh cinta pada siapapun, bun" jawab Arini lembut dan pelan. Ahmad yang mendengarnya menarik nafas lega. Ada pancaran bangga di matanya bahwa Arini setidaknya masih mencintainya. Lebih tepatnya menyimpan cinta untuknya.


"Ayah dan Ibu hanya ingin kamu bahagia, nak. Jika hatimu masih meminta dia pada Allah, maka Ibu dan Ayah hanya bisa mendukung dan merestuimu. Tapi mintalah dia untuk menyiapkan hatinya datang memintamu kepada kami. Apakah kamu bahagia sayang?" ucap Bu Liana lembut tanpa ingin putrinya terluka. "Besok pagi jam 11.45 penerbangan Arini ke Mataram, bun. Mungkin malam tiba di rumah. Apakah Ayah pulang minggu ini, bun?" Arini menatap ibunya dengan bahagia dan rindu. Baru 2 hari dia jauh dari ibunya.


"Ayahmu akan menjemputmu di bandara. Setelah itu pulang bersamamu. Jangan berlama-lama di kamar berdua, nak. Tidak baik. Tolong hadapkan kmaeranya pada Ahmad" pinta bu Liana. "Ahmad, segeralah datang menghalalkan Arini jika masih ingin mendapat maaf kami" kalimat tegas dari bu Liana seakan bagai perintah atasan.


Ahmad menunduk hormat seakan bu Liana ada di depannya. "Iya, bun. Ahmad janji secepatnya. Terimakasih, bun. Assalamualaikum" ucap Ahmad sambil mendorong tangan Arini pelan. Terdengar ucapan salam dari bu Liana menutup panggilan.


Ahmad menarik nafas panjang. Jam di pergelangan tangannya sudah di pukul 2 tengah malam. "Rin, aku gelisah jika masalah ini belum tuntas. Maukah kau berbicara dengan orang tuaku. Aku ingin segera menjadikanmu istriku, Rin. Aku tak ingin diliputi rasa bersalah berkepanjangan." suara Ahmad memohon.


"Ini sudah tengah malam, Ahmad" Arini menolak. "Apa kata bunda dan papa melihat kita berdua dalam satu kamar"


" Justru itu, Rin. Agar mereka tidak salah paham dengan pertemuan kita ini." Ahmad mendekati Arini dan mengelus lembut bahunya. "Kamu tau, pertemuan kita ini sungguh diluar dugaanku. Aku sudah sebulan disini mencari berita tentangmu. Tapi siapa sangka Allah mempertemukan kita dengan caraNya. Bukankah itu berarti Allah memberi petunjuk untuk kita memulai sesuatu yang baik, Rin?" Ahmad mencoba meyakinkan Arini. Bagaimanapun Ahmad sangat menyayangi Arini. Dan dia tidak ingin kehilangan Arini untuk kedua kalinya. "Bagaimana?" tawar Ahmad lagi.


Arini meraih botol air mineral yangvteronggok di atas meja. Dan meminumnya dengan pelan. "Baiklah...tapi..." belum keluar kalimat berikutnya Ahmad telah menyambungkan video call internasional dengan bunda Irene. Tak menunggu deringan ketiga panggilan langsung tersambung.

__ADS_1


"Hai, anak nakal Bunda yang ganteng dan bodoh. Apa kabarmu" teriak bubda Irene dengan suara yang menggoda putranya yang terlihat sangat tampan dengan aura bahagia di wajahnya.


"Come on, bun...aku lulus dengan Cumlaude kalau bunda lupa" tawa Ahmad dengan mimik protes. Terdengar suara tertawa renyah diujung sana. "Sayang, lihat wajah unclemu sangat jelek pagi ini. Tapi heiiii...wait...wait..." teriak bunda Irene langsung membalikkan arah kamera ponsel yang tadi diarahkan ke keponakan Ahmad. "Anak bodoh, ini jam 2 lewst 45 menit waktu Indonesia. Ngapain jadi kalong?, dimana kamu sekarang?, sama siapa?" cecar bunda Irene menatap tak berkedip ke arah putranya. Sesekali matanya menatap tembok di belakang Ahmad seakan mencari sesuatu yang membuatnya curiga. Ahmad tertawa membaca fikiran bundanya yang tak pernah bagus kepadanya.


Spontan Ahmad mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arini.


"Hahhhhhh..." bunda Irene terkejut dan menutup mulutnya. Beberapa detik tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu fan buliran air mata jatuh di kelopak matanya. Arini terpaku sesaat menatap apa yang terlihat. "Assalamualaikum, bunda" sapa Arini dengan lembut dan hampir menangis. Ahmad bergeser dan memeluk bahu Arini serta mengelusnya untuk memberi kekuatan.


Tak berapa lama muncul wajah papa Ahmad, dan kakak iparnya serta bayi mungil dalam gendongannya. Kini 4 wajah berada dalam satu kamera dan menatap tak percaya ke arah Arini.


"Besok kami akan terbang ke Indonesia, Son. Tanyakan pada hatimu dengan jujur apa langkah yang akan kau ambil" papa Ahmad memeluk istrinya yang masih menangis tanpa suara. Nampak kakak ipar Ahmad menepuk bahu bunda Irene untuk memberi kekuatan.


"Kamu cantik sekali, Arini" pujia kakak ipar Ahmad dengan bahasa Indonesia dengan logat Amerika. Arini tertawa tanpa suara. "Terimakasih mbak..." ucapnya pelan dan malu. "Hei, mana keponakanku perlihatkan wajah sleepynya" kata Ahmad meminta agar wajah si babay di zoom. Bayi mungil itu nampak lucu dalam tidurnya.


"Ahmad, berikan jaeabanmu saat papa dan bunda tiba di tanah air" papa Ahmad mengultimatum putranya dengan tegas. Ahmad menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Pa, hatiku tak pernah berubah. Seribu kalipun papa dan bunda menanyakan hal itu jawabanku tetap sama. Hanya Arini"


"Apakah kau sudah siap bertemu dengan ayah Arini?" tanya papa Ahmad sedikit ragu. "Kesalahan kita dimasa lalu telah melukai seluruh keluarganya"


Ahmad menatap Arini dengan yakin.


"Apapun yang terjadi, pap. Aku hanya butuh Arini memaafkanku"


Papa Ahmad membuang mukanya jengah melihat tingkah putranya yang seperti adegan film romantis ABG. Ahmad tersenyum lebar.


"Dasar alay" semprot bunda Irene diantara senggukan tangisnya yang sudah mereda.


"Rin, bunda minta maaf. Bunda janji akan datang meminta maaf secara langsung padamu, nak. Terutama pada orang tuamu." ucap bunda Irene dengan lembut


"Oya, jauhkan tubuhmu dari anak bodoh dan alay itu. Bunda tidak ingin kau terluka atau tertular kebodohannya" ucap bunda Irene mencairkan suasana.

__ADS_1


...❤❤😁😁


__ADS_2