
Taksi online yang dinaiki Arini telah berhenti tepat di depan hotel tempat Arini menginap. Setelah membayar Arini segera turun "Terimakasih, bang" ucapnya sambil tersenyum. Arini melihat ke seberang jalan sebuah mart masih terbuka dan Arini ingin membeli sedikit camilan dan minuman dingin untuk di kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul 11 malam. Tapi Arini merasa ragu untuk melewati jalan raya yang masih nampak ramai. Butuh perkiraan jeli untuk bisa memanfaatkan situasi jika hendak menyeberangi jalan. Arini masih memperhatikan lalu lalangnya kendaraan dan mencoba mencari saat terbaik untuk bisa sampai ke seberang jalan. "Kenapa nggak di sebelah hotel ini sih Martnya" bathin Arini masih berdiri.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya dengan cepat mengqjaknya menyebrangi jalan yang masih padat kendaraan. Beberapa kendaraan berhenti dengan sukarela saat laki-laki itu melambaikan tangannya agar pelan-pelan. Dan laki-laki itu mengangkat tangannya pada pemilik kendaraan yang dengan sukarela memperlambag lajunya saat kami melewati jalan tadi. Arini tercengang mencoba melihat siapa laki-laki yang baik hati telah membawanya menyebrang tadi.
Laki-laki itu melenggang meninggalkan Arini sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. Arini mengejarnya saat sadar belum mengucapkan kata terimakasih.
"Terimakasih atas bantuan anda" ucap Arini sambil menarik lengan kemeja laki-laki itu. Sontak laki-laki itu berhenti dan berbalik menatap Arini.
"Kamu...!" mereka sama-sama terkejut ketika beradu mata. Arini langsung membalikkan badannya dan hendak pergi secepat apapun agar tak ada kesempatan lagi untuk melihat siapa yang kini didepannya. Namun, belum selangkah kakinya bergerak tangan kekar lelaki itu sudah memegang tangannya dengan kuat. "Lepaskan..." teriak Arini emosi. "Aku tudak mengenal kamu" kata Arini ketus.
Arini ingin meraung-raung ketika tau siapa lelaki yang didepannya. Arini ingin mencakar dan mencabik-cabik wajah tampan itu dengan kukunya agar berdarah-darah. Sakit itu menyeruak di hatinya. Luka, kecewa, malu, dan benci melompat-lompat di dadanya membuatnya sesak dan marah.
__ADS_1
"Maafkan aku, Rin" suara itu memelas sambil tetap menahan Arini. "Biarkan aku menjelaskan apa yang terjadi saat itu" sambungnya dengan nada sendu. "Lepaskan aku, Aku rasa kita tidak pernah saling mengenal. Lalu apa yang ingin anda jelaskan. Anda salah orang, pak" suara Arini penuh dengan emosi. Beberapa orang yang lewat menatap ke arah mereka. Ahmad merasa tidak nyaman. Ahmad menarik tangan Arin dengan paksa ke sebuah restauran yang masih terbuka dan masih ramai di sebelah mart yang akan dituju Arini. Setelah berbicara sebentar dengan bagian penerimaan tamu Ahmad membawa Arini menuju sebuah ruang yang terlindung dari keramaian semacam ruang VVIP.
"Aku akan melepaskan tanganmu jika kamu menuruti kemauanku" ucap Ahmad masih menggenggam erat lengan Arini. "Tanganku akan patah kau pegang. Dan aku tidak ingin menjadi cacat karena pria brengsek sepertimu" semprot Arini mulai merasakan intimidasi Ahmad. Ruangan VVIP di resto ini sangat nyaman. kaca tebal yang terlindungi dari pandangan siapapun dari ouar tetapi akan terlihat jelas dari dalam. Ruangannya dingin dan asri. Tempat seperti ini biasa digunakan oleh pejabat dan kaum bisnis untuk kegiatan mereka. Sangat privacy.
Ahmad tertawa "Aku akan membawamu ke dokter jika tanganmu patah" jawabnya ringan. Arini mendengus kesal. "Lepaskan tanganku aku mohon" Arini masih ingin bernego dan ingin segera pergi. Sakit dihatinya masih mengiri-iris perih. "Ikuti apa yang aku katakan maka akan aku lepaskan" jawab Ahmad datar. "Kamu pikir aku siapa, hah!" Arini masih ketus "Sadar, pak. Aku bukan siapa-siapa mu"
"Oya, apa aku merasa mengenalmu?" kata Arini sambil menggerakkan tangannya yang masih dipegang erat Ahmad. "Ayolah, Rin. Aku hanya ingin kamu mendengarkan penjelasanku. Izinkan aku melakukannya agar kamu bisa memaafkanku. Aku tidak ingin mati dalam kesalahan terbesarku" Ahmad memohon. Arini menatap mata Ahmad dengan tajam. Sorot mata itu yang dulua Arini rindukan, genggaman tangan itu yang dulu Arini impikan. Dan bibir itu yang dulu dengan penuh keyakinana mengajaknya menikah. Ahhhhh...sakit sekali akhir dari cintanya. Arini mencoba memberi ruang maaf di hatinya, dan mengangguk lemah dihadapan Ahmad.
"Mari kita duduk dan tenangkanlah dirimu sebentar" Ahmad menyodorkan segelas air yang telah dituangnya ke hadapan Arini. Arini menerimanya dan meminumnya seteguk.
"Apa yang ingin kau jelaskan" kata Arini yang tak ingin larut dalam lautan sakit hati dan kecewanya.
__ADS_1
Ahmad menarik nafas teratur. Menatap mata Arini dengan tatapan yang sama 6 bulan yang lalu. Wajah tampannya tak berubah hanya terlihat sedikit lebih kurus. Debaran dihatinya masih sama dengan debaran 6 bulan yang lalu ketika mereka bertemu untuk membicarakan niat baiknya. Ahhhh...mengapa takdir harus mempermainkan hati dan hidupnya. Ahmad mengusap wajahnya frustasi. Cinta dihatinya untuk Arini tak bisa berubah.
"Dalam waktu lima menit jika kamu tidak berbicara, maka aku akan pergi" ancam Arini tanpa menatap wajah Ahmad. Ahmad menelan salivanya.
"Maafkan aku untuk peristiwa 6 bulan yang lalu." Ahmad memulai kalimatnya dengan susah payah. "Aku benar-benar mencintaimu, Arini. Tidak ada sedikitpun niat di hatiku untuk mempermainkanmu." Ahmad terdiam sejenak. Arini menarik nafas berat. "Hari itu istri saudaraku yang di luar negeri menelpon dia mendapat musibah. Abangku tertembak oleh peluru dari beberapa pemuda yang dalam keadaan mabuk yang secara brutal menyerang sebuah toko di kota New York. Dan abangku salah satu dari korban yang tertembak"
Ahmad menarik napas lagi. Begitu berat beban yang dirasakannya. Arini menghela nafas panjang. Ada rasa enggan untuk mendengarkan. Namun, tubuhnya tetap setia duduk menanti penjelasan Ahmad.
...❤❤like and vote yaaa...
jangan lupa saran n kritiknya..
__ADS_1