
Arini membuka matanya saat dering hand phonenya berulang kali berbunyi. Matanya menyapu sekeliling kamar sambil mengumpulkan kesadarannya. "Dimana aku ini?" bathinnya. Arini menyibak selimut yang membelit tubuhnya dan meraih telpon genggam di atas nakas. Nama Mamanya tertera di layar
"Assalamualaikum, Ma" Arini berusaha menetralkan suara bangun tidurnya.
"Waalaikumsalam. Baru bangun, Rin?" sapa Mama Arini diujung telepon.
"Iya, Ma. Arini ketiduran semalam dan tidak ikut menjemput orang tua Ahmad." adu Arini sambil merapikan dirinya dan turun dari tempat tidur.
"Apa kau baik-baik saja?" Mama Arini nampak khawatir.
"Baik, Ma. Hanya semalam ketiduran saja. Hari ini Arini akan berbicara dengan Ahmad dan orang tuanya. Arini juga ingin segera pulang, Ma" Arini membuka girden kamar masih nampak remang-remang di luar.
"Cepatlah pulang. Tidak baik anak perempuan menginap di rumah orang yang belum tau ke depannya akan menjadi siapa bagimu" suara Ayah Arini tegas. Arini menelan salivanya, jantungnya langsung menciut. Arini paham apa maksud Ayahnya itu.
"Iya, Yah. Arini minta maaf menyusahkan Ayah dan Mama. Secepatnya Arini pulang, Yah"
"Lusa ada jadwal penerbangan dari BIL ke daerah, Rin. Jadi, harus bisa lusa kau mengambil penerbangan pagi dari Jakarta. Kau bisa menunggu penerbangan yang ke daerah sekitar pukul 11 lewat. Atau ayah yang booking tiket untukmu dari sini?" tawar Ayah Arini masih dengan suara tegas namun lembut.
__ADS_1
"Arini saja, yah. Nanti Arini akan lihat jadwal dari Jakarta. Terimakasih Ayah. Sekali lagi mohon maaf Arini merepotkan Ayah. Ayah dan Mama baik-baik yaa...nanti siang Arini kabari" ucap Arini meyakinkan ayahnya. Setelah mengucap salam panggilan diakhiri.
Arini menatap hand phonenya dengan tersenyum kecil. Arini merasa bangga dan bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dan bisa memahami keinginannya.
Arini membersihkan diri di kamar mandi dan merapikan penampilannya. Hari masih pagi belum jam enam. Arini membuka pintu dan menuruni tangga menuju dapur. Aroma masakan tercium menggoda membuat lapar. Arini terpaku melihat punggung Bunda Irene yang sibuk membuat nasi goreng ditemani bi Ijah.
"Assalamualaikum, bunda" Arini memeluk pinggang bunda Irene dari belakang dengan rasa malu dan rindu yang berbaur di hatinya. Bunda Irene nampak terkejut sesaat akibat ulah Arini dan langsung membalikkan badannya sambil tetap memegang kedua tangan Arini di pinggangnya.
"Waalaikumsalam, sayang" bunda Irene memeluk Arini dengan erat.
"Maafkan Arini, bun. Semalam ketiduran tidak ikut menjemput bunda. Maaf juga merepotkan bunda dan keluarga" Arini mencium pipi Bunda Irene dengan penuh sayang. Wanita cantik di depannya tersenyum menyeringai.
"Sudahlah. Bunda dan keluarga minta maaf padamu atas kejadian beberapa bulan yang lalu. Ahmad sudah menjelaskannya padamu kan?" bunda Irene mengajak Arini untuk meninggalkan dapur menuju ruang makan yang tidak terlalu jauh dari dapur. Bi Ijah melanjutkan menyuapkan sarapan pagi itu.
"Bunda harap Mamamu dan Ayahmu mau memaafkan kami semua. Untuk itu kami datang dan akan langsung menemui orang tuamu" bunda Irene menggenggam tangan Arini sambil duduk bersebelahan di meja makan yang masih sepi. Sesekali bi Ijah datang menata sarapan di meja.
"Assalamualaikum my sweet wife" sapa suara bule beraksen Amerika yang kental pada istrinya. Mencium kepala istrinya dengan penuh sayang. Arini tersenyum melihat jemesraan mereka.
__ADS_1
"Halo Arini...bagaimana kabarmu?" ucapnya sambil menyalami Arini. Arini bangun dan meraih tangan papa Ahmad dan mencium punggung tangannya dengan hormat.
"Alhamdulillah baik, pa" Arini tersenyum lalu duduk kembali. Wajah tampan Papa Ahmad begitu teduh dan masih segar setelah sekian lama tak pernah bertemu.
"Papa minta maaf, Rin. Semua kejahatan kami bagai takdir yang tak bisa kami hindari. Terutama anak Papa." Papa Ahmad meraih segelaa air putih dan menguknya dengan pelan. "Apa keluargamu bisa menerima kami kembali, Rin. Papa tidak ingin ini berlarut. Jika bisa secepatnya maka hari inipun kita sekesaikan semua masalah ini" ucapnya dengan tegas tanpa basa basi.
"Arini sudah menyampaikan hal ini pada keluarga, pa. Mama hanya meminta Arini segera pulang. Tapi,..." Arini menggantungkan kalimatnya. Bunda Irene dan suaminya saling pandang paham bagaimana situasi hati Arini saat ini.
"Ahmad akan menyelesaikan semuanya, Rin. Tenang saja" bunda Irene menepuk halus pundak Calon menantunya yang sudah seperti anaknya ini. Bagaimanapun Arini adalah anak sahabatnya yang paling dia sayangi.
Arini menarik napas pelan. Mengangguk sambil menunduk di hadapan kedua orang tua Ahmad. Berbagai rasa dalam hatinya seakan tak menentu yang sulit untuk dirkspresikan seperti apa. Masalah hidupnya begitu sulit dan berliku. Kisah cintanyapun entah akan berakhir seperti apa. Sulit memang melepaskan apa yang telah terlanjur kita sayangi.
"Berjuanglah denganku" kalimat itu seakan menjadi penyemangatnya kini. Ahmad memang lelaki yang bertanggungjawab sejauh ini, terlepas dari peristiwa yang melukai keluarganya dulu.
Arini membuang nafas dengan pelan.
...lanjut ya Readers...
__ADS_1