
Malam itu Arini mengundang kedua orang tua mereka untuk datang makan bersama di rumahnya. Bibik nampak sibuk membantu Arini di dapur ditemani bi Ijah asisten dari rumah bunda Irene mertuanya. Arini dan Ahmad belum memberitaukan kabar gembira yang mereka dapatkan tadi pagi di rumah sakit. Karena itulah mereka mengundang keluarga untuk berkumpul.
Pukul 7 malam keluarga sudah berkumpul setelah melaksanakan sholat maghrib berjama'ah. Mereka duduk di ruang makan sambil bercengkrama akrab. Makan malam telah dimulai, sambil mengobrol santai. Usai makan mereka melanjutkan obrolan santai di ruang keluarga.
"Pa, Ayah, bunda, Mama dan semuanya Ahmad dan Arini ingin menyampaikan sesuatu"
Semua keluarga saling pandang.
Ahmad meletakkan buku kecil hasil pemeriksaan USG Arini tadi pagi di atas meja dengan beberapa lembar foto hasil jepretan calon bayi mereka.
Bunda Liana dan Mama Irene saling pandang dan dengan berdebar mereka sama-sama berteriak histeris bagai remaja yang berhasil mendapatkan sesuatu berharga dalam hidup mereka.
"Cucu, cucu, cucu..." ucap bunda Liana dengan bergetar memegang foto berwarna hitam putih yang memperlihatkan calon bayi yang masih belum terbentuk dengan sempurna.
Mama Irene memeluk menantunya dengan bahagia. Air mata meluncur di pipinya yang sudah nampak kerutan karena usia namun masih segar dan cantik.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Allah maha baik, memberikan hadiah dan amanah di saat yang Allah kehendaki. Terimakasih, nak" ucapnya sambil menciumi pipi dan kepala Arini. Demikian pula bunda Liana, langsung memeluk erat putri kesayangannya.
Semua keluarga memberikan ucapan selamat kepada Arini dan Ahmad. Kebahagiaan itu benar-benar terasa membuncah di hati mereka semua. Di saat mereka tak memikirkan dengan kehadiran anggota keluarga baru yang sesungguhnya merekapun ingin namun tak berani mengharap lebih justru hadir tanpa di duga.
Papa Ahmad membagikan uang cash pada para asisten rumah yang hadir di rumah Arini malam itu, sebagai bentuk rasa bahagia dan syukur atas berita hamilnya Arini.
"Satu lagi, pa..." Ahmad membuat keluarga yang sedang bahagia itu menatap ke arahnya dengan penasaran.
Ahmad menggenggam tangan Arini dengan kuat.
"Kami memutuskan pindah ke Amerika secepatnya" Suara Ahmad membuat mertuanya kaget, rapi tidak dengan orang tuanya. Karena mereka telah membicarakan hal ini beberapa minggu yang lalu.
" Itu pilihan terbaik, yah. Aku ingin Arini aman dan anak kami tumbuh dengan baik disana" Ahmad meyakinkan mertuanya. Memang sejak Ahmad mengutarakan niatnya untuk oindah beberapa minggu yang lalu mertuanya seperti tidak setuju. Karena bagaimanapun Arini adalah putri mereka satu-satunya.
"Sebenarnya alasan terkuat di balik kepindahan kami adalah untuk menghindari permusuhan yang mungkin akan terjadi antara aku dan keluarga David, yah" Ahmad membuang nafasnya. "Ayah kan tau David sangat terobsesi dengan Arini. Dan itu aku takut akan membuat akal sehatnya hilang, sehingga dia akan melgalkan berbagai cara untuk meraih keinginannya"
__ADS_1
Ayah mertuanya mengangguk dan memeluk pundak istrinya dengan kuat memberi kekuatan agar ikhlas. Bunda Liana tersenyum, ada gurat sedih di wajahnya.
"Bun..." Arini memeluk ibunya dengan erat.
Arini sadar ini adalah keputusan penting yang mereka pilih demi kelangsungan rumah tangga mereka yang aman tanpa gangguan orang lain.
Arini menarik nafas berat, dan menatap wajah bundanya yang tersenyum dengan ikhlas. Gurat sedih nampak namun bunda adalah wanita yang pandai menyembunyikan kesedihannya di depan siapapun.
"Kewajiban istri mengikuti kemanapun suami membawanya. Asalkan itu untuk kebaikan. Pahala terbesar untuk seorang istri mengabdi dengan tulus. Kami ikhlas, nak. Jaga diri kalian baik-baik. Jangan lupa memgabari kami" bunda Liana mencium pipi anaknya dengan penuh kasih.
Arini sesenggukan dalam pelukan ibunya. Mama Irene mendekat dan memeluknya dengan erat.
"Semua untuk kebaikan rumah tangga kalian, sayang. Mama yakin, kalian bisa membawa biduk kalian dengan aman dengan saling mendukung dan selalu bersama. Kami akan selalu ada untuk kalian" mama Irine mengelus kepala menantunya yang masih menangis.
Para lelaki berbincang hingga malam, demikian pula Arini dengan mama dan bundanya, serta bibik dan bi Ijah.
__ADS_1
Tak terasa sudah pukul 11 malam. Orangbtua mereka pamit pulang ke rumah masing-masing. Tadinya Arini meminta mereka untuk menginap tapi keduanya menolak karena besok hari kerja. Untuk sementara Bibik di tinggal di rumah Arini membantu segala kebutuhan dan keperluan Arini hingga mereka pindah ke Amerika.
🌷🌷🌷🌷