IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
24. Energi Prima


__ADS_3

Ahmad menyamakan langkahnya dengan wanita pujaannya menuju salah satu pusat pembelanjaan di kota itu. Suasana ramai dan terkendali nampak terlihat di dalam mall. Karena beberapa peraturan daerah pusat perbelanjaan ini agak sedikit teratur. Pengunjungpun berbelanja seperlunya.


"Masih ada yang kau butuhkan?" tanya Ahmad sambil menggenggam jemari Arini, sementara tangan yang satunya lagi menenteng belanjaan.


"Aku rasa tidak ada" jawab Arini enteng. Ahmad mengajak Arini menuju sebuah resto siap saji yang tak begitu ramai pengunjung. Lalu menarik salah satu kursi yang berada di pojok.


"Mau makan apa?" tanya Ahmad sambil membuka buku menu yang tergeletak di meja. Arini tersenyum kecil.


"Samakan saja dengan pesananmu"


Ahmad melambai ke arah waitres dan menyodorkan beberapa menu untuk mereka berdua.


"Rin, aku ke toilet sebentar ya"


Ahmad melangkah meninggalkan meja saat Arini mengangguk. Arini mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada sahabatnya.


Arini terkejut ketika sepasang tangan memegang bahunya dengan kuat.


"Arini Rahardian" sebutnya dengan tawa keras. Arini tau siapa pemilik suara itu. Sudah lebih empat tahun ia tak pernah mendengar suara berat itu sejak sibuk kuliah menginjak semester empat dulu.


"Mas,..."


Arini tak menyangka bertemu kembali setelah bertahun tak pernah saling mengabari. Ah...bukan saling mengabari. Tepatnya laki-laki itu menghilang tanpa berita. Laki-laki itu tersenyum lebar menatap wajah Arini. Matanya menyapu setiap inci tampilan wanita di depannya. Arini menguatkan hati dan memperhatikan penampilan laki-laki yang lima tahun yang lalu mengisi hari-harinya. Ya...tepatnya ketika Arini duduk di bangku SMA.


"Tidakkah kau merindukanku, Arini?" ucap laki-laki itu dengan senyum dan mata menggoda. Arini terdiam dan memperhatikan penampilan laki-laki itu. Dia sangat tampan, dengan seragam POLRI yang membalut tubuh tingginya. Tapi sikap narsisnya tak pernah hilang.


"Hei, apa kamu tidak percaya aku berada di hadapanmu?. Aku tau terlalu lama kita tak pernah berkomunikasi. Aku merindukanmu, Rin" ucapnya tanpa malu-malu.


"Kamu tambah cantik saja, sayang" tangannya terulur ingin menyentuh wajah Arini. Dengan cepat Arini mundur dan menggeser kursi di sebelah tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Jangan macam-macam, mas. Setidaknya mas tau tempat. Ini tempat umum, akan banyak orang yang melihat sikap narsismu itu. Dan lagi lihatlah mas berpakaian seragam begini" Arini bersuara dengan ketus tanpa senyum.


Laki-laki berseragam dinas itu tertawa tanpa beban.


"Aku baru saja lepas tugas, Rin. Aku hendak pulang, tapi entah mengapa langkah kakiku membawaku ke sini dan ternyata nasib baik mempertemukan aku dengan kamu." suaranya mulai pelan dan penuh penekanan.


"Duduklah. Aku ingin bicara sedikit agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kita" pintanya dengan wajah sendu. Mata itu membuat Arini tergila-gila kala SMA. Saat itu Budi Wiratmaja baru lulus AKPOL dan bertugas di daerah kota dimana Arini sekolah. Pos Polisi yang tidak terlalu jauh dengan sekolah Arini membuat mereka sering bertemu setiap Budi bertugas. Arini juga tak melupakan bagaimana awal mereka menjalin hubungan asmara. Saat itu Arini duduk di kelas dua SMA.


"Bagaimana kabarmu selama ini, Rin?" laki-laki masa lalu Arini duduk sambil menatap tajam ke wajah Arini. "Aku selalu mengingatmu. Dan aku selalu merindukanmu. Aku ingin mengabarimu, tapi aku tidak tau siapa yang harus aku hubungi. Aku minta maaf"


Belum lagi Arini sempat menyusun jawaban, Ahmad nampak bergegas ke arah mejanya.


"Mohon maaf, bapak mengenal Arini?" tanya Ahmad dengan kening mengernyit melihat laki-laki berpakaian dinas duduk tepat di meja dimana Arini duduk. Tatapan mata laki-laki itu dapat Ahmad tebak saat menatap ke arah Arini.


"Ah ya, kenalkan saya Budi Wiratmaja. Saya teman dekat Arini" ucap laki-laki itu berdiri sambil mengulurkan tangannya dengan percaya diri.


Budi menatap tak percaya ke arah Ahmad. Telapak tangannya mengendur dari tangan Ahmad yang masih saling berjabatan. Tenggorokan Budi seperti tercekat tak tau apa yang harus dikatakan. Kenyataan di hadapannya menggoyahkan rasa percaya diri dalam hatinya.


"Oh, Maaf. Senang bertemu dengan anda pak Ahmad. Semoga lancar dan bahagia selamanya" ucap Budi dengan suara agak bergetar. Ahmad tersenyum penuh kemenangan. Tak perlu rasa curiganya menjadi bumerang dalam hubungannya dengan Arini karena apapun yang hadir di hadapannya akan diselesaikan dengan energi yang prima.


"Terimakasih, pak Budi. Apakah anda tidak ingin bergabung makan malam bersama kami?. Kelihatannya bapak juga tidak ingin melewatkan pertemuan pertama kita" Ahmad memberikan penawaran dengan sopan.


Budi tertawa sambil mengusap wajahnya.


"Terimakasih. Saya rasa harus segera pulang, karena ada yang menunggu saya di rumah." jawabnya pelan dan meraih kunci yang tadi digeketakkannya di meja.


"Assalamualaikum" pamitnya sambil menatap Arini dengan tajam. Arini tak bergeming sedikitpun. Dia hanya terpaku berdiri di tempatnya menyaksikan semua interaksi antara Ahmad dan Budi.


Tubuh tegap berpakaian dinas polisi itu melenggang dengan gagah keluar dari resto. Ahmad menepuk pundak Arini dengan lembut.

__ADS_1


"Mantan yaa?" tanyanya dengan ketus.


Arini mendengus pelan, lalu duduk dengan tenang seakan tak terjadi apapun. Waitres membawa pesanan mereka. Ahmad dan Arini tidak bersuara hingga makan malam mereka habis.


"Aku sudah mendapatkan tiket untuk penerbangan besok pagi. Nanti berkemaslah, kita akan berangkat pukul 9 pagi. Oya, jangan membahas tentang Perwira Polisi itu di hadapan Bunda. Aku harap kamu mengerti" Ahmad seakan kurang suka dengan Budi.


"Kenapa setakut itu?" Arini menatap wajah Ahmad. Mencari ekspresi apa sebenarnya yang dirasakan oleh hati laki-laki yang akan menjadi suaminya ini.


"Aku tidak cemburu" protes Ahmad sambil menjalankan mobilnya membelah keramaian jalan kota Jakarta.


Arini tertawa reflek. Ahmad menoleh kesal merasa di tertawakan.


"Aku lihat kau menjawab pertanyaannya dengan semangat 45. Dan kau begitu berenergi mengatakan kau calon suamiku"


"Aku melihat matanya menatapmu dengan penuh cinta" elak Ahmad agak kesal.


"Hahahaahhaa..." Arini tertawa dan memukul lengan Ahmad dengan pelan.


"Kamu tak perlu menertawai sikapku. Itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku tidak mau orang lain berpikiran buruk tentang kedekatan kita. Dan aku yakin malam ini Perwira Polisi itu gelisah di kamarnya mengingat ucapanku" Ahmad tertawa menimpali. "Dan itu pantas untuknya. Agar lain kali jika bertemu denganmu tatapan matanya berubah"


Ahmad tersenyum penuh kemenangan.


"Ussshhhh...bangga banget ya" ucap Arini pelan.


"Itu sifat narsisku" Ahmad semakin tertawa melihat ekspresi Arini mendengar kalimatnya.


...maaf ya Readers...updatenya lama karena banyak kegiatan online.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2