IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
31. Ada yang berubah


__ADS_3

Suara adzan dari mikrofon masjid berkumandang membelah kesunyian. Arini mengerjapkan matanya dan melihat jam di telpon genggamnya. Matanya melihat suami di sebelahnya masih tenang dalam alam tidurnya.


Arini perlahan turun dari kenyamanan ranjangnya menuju kamar mandi. Tak sampai dua puluh menit Arini telah menyelesaikan kegiatannya dan melangkah keluar kamar setelah kegiatan ibadah subuhnya.


Terlihat bibik di dapur sibuk menyiapkan menu sarapan pagi.


"Assalamualaikum, bi"


"Ehhh, pengantin baru. Kenapa pagi sekali bangunnya langsung ke dapur, Neng"


Arini tertawa renyah sambil menghidupkan kompor hendak merebus air.


"Bibi iihhhhh...." Arini menyiapkan gelas


"Mau bikin apa, Neng?"


"Ingin bikin teh susu, bi"


"Tumben, Neng?"


"Pengin aja, bi. Semalem liat iklan di TV"


Bibik tertawa mendengar jawaban asal dari Arini.


"Bi..." Arini menyeduh minumannya. "Mama dan Ayah masih belum bangun ya?" Arini melihat ke pintu dapur yang masih nampak sepi.


"Ibu dan Bapak sudah keluar, Neng. Katanya ada kegiatan pengajian subuh di masjid komplek dari kantor bapak"


Arini mengangguk.

__ADS_1


"Mau dibikinin sarapan apa Den Ahmad, Neng?"


"Arini aja yang bikin, bi. Arini ingin menjadi istri yang baik"


Bibi tersenyum mengelus punggung Arini. Arini sudah seperti anaknya sendiri dalam keluarga ini. Sejak Arini kecil Bibi sudah bekerja di rimah keluarga Rahadian.


"Alhamdulillah. Memang begitu seharusnya, Neng. Itu yang membedakan kehidupan masa remaja dengan masa setelah menikah. Segala sesuatu harus kita bisa, biar paham arti rumah tangga yang sesungguhnya" Bibi memberikan nasehat dan semangat pada Arini.


"Iya, Bi. Nanti dibantu ya, bi. Arini kan tidak terlalu pandai memasak"


"Iya, Neng. Yang penting tau kesukaan suami apa. Kalau kita sebagai istri kadang ngalah ka kesukaan suami"


"Kenapa begitu, Bi?" Arini mengerutkan alisnya sambil duduk di kursi di meja makan dapur.


"Karena kita melayani suami. Kalau sudah tau apa kemauan suami, maka kemauan kitapun akan mengiringi. Karena dalam rumah tangga itu kita yang menciptakan kebahagiaan dan kenyamanan" Bibi memberi masehat sambil sibuk mengolah bahan untuk sarapan yang hampir selesai.


"Istri itu tugasnya berat, Neng. Harus pandai merias diri untuk menyenangkan hati suami, pandai mengatur keuangan agar tidak kebjngungan, pandai masak agar suami betah, terus pandai juga melayani di kamar. Kalau semua kenyamanan udah di dapatkan di rumah insyaAllah suami yang baik pasti tekun dan bahagia"


"Berat juga ya, bi. Apa Arini bisa sesempurna itu?"


"Bisa, sayang" suara Ahmad yang muncul tiba-tiba di ruang dapur mengagetkan Arini dan Bibik. Serentak keduanya melihat ke arah Ahmad.


"Sudah bangun, yang" sapa Arini canggung pada suaminya.


Ahmad tersenyum dan memberi kecupan ringan di pipi istrinya.


"Mau di bikinin apa, yang?" Arini melihat gelas teh susunya.


"Apa aja kalau pagi asal jangan kopi"

__ADS_1


"Mau teh susu?" tawar Arini yang baru tau kesukaan suaminya.


"Eh...apa itu?" Ahmad menatap istrinya menggoda. Bibi tersenyum melihat interaksi keluarga baru di hadapannya.


Arini menatap tajam ke arah suaminya yang memasang wajah menggoda.


"Isshhhh...apa yang ada di pikiranmu mendengar minuman tadi?" ketus Arini.


"Susu..." Ahmad menajamkan pandangannya ke arah yang dimaksud. Arini mengikuti arah mata Ahmad, dan refleks tangannya meraih tissu di meja makan dan melemparkannya ke arah suaminya. Ahmad menangkap tissu.


"Dasar bule mesum"


"Bi, mesum ma istri itu halal atau haram sih?" Ahmad tertawa bahagia. Bibi canggung berada diantara dua manusia yang sedang saling menggoda itu. Bibi seakan mendapatkan suasana baru di rumah itu dengan kehadiran Ahmad.


"Jangan di jawab, Bi. Kondisikan matamu"


"Maaf, sayang. Kan cuma liat dari jauh ini. Belum juga secara real" bisik Ahmad pelan sambil memeluk pinggang istrinya yang sedang menyeduh teh manis.


"Aduuuh...sayang. Sakit iiihhhh. Nyubitnya ganas amat yaa" Ahmad berteriak membuat Bibi mengalihkan pandangannya ke arah pasangan pengantin. Bibi menggeleng-gelengkan kepalanya meninggalkan ruang dapur menata sarapan di meja makan keluarga.


Ada yang berubah dari suasana rumah ini...bathin Bibi dengan senyum bahagia.


Iyalah, Bi...kan ada sepasang pengantin baru yang lagi kasmaran...


Bibi tertawa sendiri.


permohonan maaf Author IDT


Maaf, telat update karena ada diklat. Semoga bisa dimaklumi ya Readers cantik dan ganteng. Always love you pembaca hebat.❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2