
Arini membantu ibunya menyiapkan beberapa jenis hidangan untuk acara malam nanti. Nampak ruamg tengah terlihat lebih rapi dari biasanya. Ibu Arini mengubah letak lemari agar ruang tamu terlihat luas untuk menyambut tamu pentingnya malam nanti. Sejakbtadi pagi bunda Irene telah menelponnya, dan mengatakan bahwa mereka akan datang berkunjung. Ibu Arini sangat mengerti sahabatnya sejak SMA hingga kuliah dulu itu sangatlah serius jika mengungkapkan sesuatu apalagi berhubungan dengan putra kesayangannya.
"Riiiiin, jangan lupa mereka akan tiba setelah isya" ibunya mengingatkan putrinya di balik pintu. Arini menarik nafas berat dan membuangnya dengan sepenuh rongga paru-parunya. Arini masih enggan beranjak dari tempatnya berbaring. Perlahan tangannya meraih gawainya, dan mulai membuka galeri simpanan khusus.
Nampak wajah tampan Sang Dosen yang berwajah dingin dan datar yang sebentar lagi akan datang melamarnya.
Entah alasan apa yang membuat pak Ahmad tiba-tiba ingin melamarnya. Memang, sejauh ini Arini belum pernah berpacaran. Tapi, Arini bukanlah remaja kemarin sore yang tidak bisa menangkap ke arah mana sikap lawan jenisnya ketika berhadapan. Dan Arini juga wanita normal. Bukan tidak dirasakan getaran halus di dadanya selama dua minggu kemarin sering duduk di ruangan Sang Dosen. Senyum kecil terbit di bibir indah Arini.
__ADS_1
Pertemuan malam ini berjalan lancar dan tanpa kendala. Pak Ahmad dan kedua orang tuanya begitu akrab berbincang dengan keluarga Arini, terutama ibunya Arini. "Jadi acara pernikahan akan di gelar dua minggu lagi. Apakah ada yang ingin kau sampaikan, Rin?" tanya bunda Irene sambil menggenggam tangan calon menantunya. "Masalah mahar kau bisa meminta langsung pada Ahmad" sambung bunda Irene menatap mata Arini dengan penuh kasih.
Arini tersenyum canggung. "Bolehkah aku berbicara langsung dengan pak Ahmad, Tante?" Arini meminta izin sambil menatap ke arah bunda Irene dan menoleh ke arah Ibunya. "Kok panggil pak, Rin. Sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri lho" bunda Irene tersenyum dibarengi dengan tawa dari Papanya Ahmad dan Ibunya Arini serta keluarga lain yang hadir. Arini salah tingkah. Ahmad nampak memahami situasi, dia lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mengikuti Arini yang menuju halaman belakang rumah itu.
Mereka duduk berhadapan di sebuah taman yang tersedia tempat duduk kayu sederhana. Taman bunga favorit Arini ketika berada di rumah. Ahmad menatap wajah Arini dengan tajam. "Kamu minta mahar apa padaku?" tanya Ahmad sambil memainkan vas bunga yang memang diletakkan di meja kayu di taman itu. "Tidak usah sungkan, katakan saja biar aku menyiapkannya" sambung Ahmad datar. Arini menghela nafas berat. Sungguh, laki-laki egois bisiknya dalam hati. "Aku hanya ingin menanyakan satu hal padamu berikan aku alasan mengapa bapak melamarku"
Arini menunduk dan meremas jemarinya, tak ingin menatap wajah Ahmad karena gugup. "Aku...aku..." Arini menelan kasar salivanya, mencoba memberanikan diri "Aku tidak ingin berpacaran" jawab Arini mantap dan langsung menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Ahmad tersenyum puas. "Hhhhhhh...akupun demikian, Rin. Tuhan menunjukkan jalan takdirku dengan memberanikan diri melamarmu. Aku tidak ingin menghianati kata hatiku. Dua minggu kau bersamaku dalam satu ruangan walau kau merasa terpaksa membuat aku yakin aku tidak salah memilihmu"
Arini menatap Ahmad dengan berbagai macam oikiran, dan tak menyangka dirinya telah menjadi fokus Sang Dosen yang terkenal galak di kampus saat itu. "Maafkan sikapku selama ini" ucap Arini dengan suara pelan. Ahmad tersenyum dan menggenggam jari Arini.
"Aku juga minta maaf, sikap kaku dan kalimat kasarku mungkin menciptakan benci di hatimu" Ahmad menatap manik mata Arini dengan tajam dan penuh cinta. Mereka saling terbuka tentang hati dan keadaan masing-masing, dan mereka berkomitmen mengarungi sebuah bahtera rumah tangga dengan dasar saling percaya dan tentunya cinta.
Arini menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Matanya menatap lekat langi-langit kamarnya, dan menarik nafas panjang seakan masih banyak oertanyaan yang tertinggal disana. Namun, Arini mencoba meyakinkan diri "Jika Ahmad telah Allah takdirkan untukku, maka dalam waktu seminggu kedepan dia akan tetap bersamaku selamanya sesuai takdir Allah berikan."
__ADS_1