
Wajah cantik Arini nampak sembab seusai menangis dalam pelukan Ahmad. Beberapa kali tangannya menyeka air mata yang terus turun di pipinya. Ahmad tertร wa pelan sambil mengelus punggung kekasihnya itu dengan lembut. "Kasihan istrinya, mas. Kenapa nda ikut aja sekalian. Tega banget ngelepasin sendiri" ucap anak muda menatap kasihan pada Arini. Ahmad tersenyum kaku.
"Aku menawarkanmu untuk menunda pulang ke Sumbawa sehari saja, agar kita bisa berangkat bersama. Sehingga kita tidak perlu berpisah seperti ini" bisik Ahmad di telinga Arini. Bagaimanapun Ahmad juga tidak rela melepas Arini setelah berpisah sekian lama dan kehilangan komunikasi. "Aku takut bunda dan ayah kecewa karena aku tidak menepati janji. Apalagi ayah kan menjemputku di bandara" Arini masih terisak di bahu Ahmad.
Ahmad menarik nafas panjang. "Aku akan minta izin bunda dan ayah agar kau boleh menunda kepulangan sambil menunggu penerbangan bunda dan papa hari ini dari Amerika. Bagaimana?" tawar Ahmad dengan idenya. Sungguh, susah mendiamkan wanita yang kita cintai ketika mereka menangis atau merajuk. Arini ragu. "Aku tidak ingin jauh darimu" bisik Arini di telinga Ahmad. Hembusan nafasnya meremangkan tengkuk Ahmad. Ahmad pria normal dengan tingkat *** yang tinggi tentunya menurun dari darah papanya. Sial...bathin Ahmad menahan sesuatu yang menggelayar di hatinya.
Beberapa mata menatap ke arah mereka. Ahmad akhirnya memutuskan untu menelpon bunda Liana dan Om Herman ayah Arini.
"Assalamualaikum, bunda" sapa Ahmad dengan lembut dan sopan.
"Waalaikumsalam, ada apa nak Ahmad?" bunda Liana mengerutkan keningnya ketika melihat Arini masih merengkuh bahu Ahmad dan menyandarkan wajahnya disana. "Apa Arini berat meninggalkanmu?" bunda Liana menarik nafas panjang. Ada rasa kecewa dalam suara nafasnya. Ahmad hafal sekali akan hal itu.
"Ahmad sudah meyakinkannya, bun. Ahmad janji ketika bunda dan papa tiba di tanah air kami akan langsung ke rumah bunda" Ahmad memberi penjelasan agar bunda Liana tak salah faham. Ahmad takut ujung peluru dari pistol ayah Arini benar-benar menembus kepalanya sebelum menikah dengan Arini.
"Rin, jangan bikin malu bunda sayang. Bukankah Ahmad berjanji akan datang setelah orang tuanya kembali dari Amerika?" bujuk Bunda Liana dengan lembut. Arini tidak bergeming.
"Aku tidak ingin pulang tanpamu" bisik Arini pada Ahmad. Duh...Ahmad benar-benar kehabisan cara meredakan hasratnya karena ulah nakal Arini.
"Apa katamu, Rin?. Bunda tidak jelas mendengarnya. Ayolah, Rin. Jangan seperti anak kecil. Sebentar lagi pesawatmu akan take off jangan menjatuhkan harga dirimu, nak." bunda Liana masih kekeh merayu putrinya. Ahmad merasa bagai berhadapan dengan anak SD yang merajuk meminta sesuatu. Dan Ahmad merasa tak nyaman dengan orang tua Arini.
__ADS_1
"Bun, Ahmad izin jika bunda dan ayah berkenan biarlah Arini sehari lagi di sini. Nanti malam bunda dan papa tiba besok kami segera terbang ke pulau" Ahmad berkata dengan hati-hati. Wajah bunda Liana mengerucut kecewa sudah pasti. Tapi apa yang bisa diperbuat, bunda Liana takut anaknya melakukan hal-hal yang fatal dan buruk. Dengan berat hati akhirnya bunda Liana mengizinkan Arini mengundur jadwal pulangnya. "Tolong jaga dia dengan baik Ahmad. Bunda dan ayah percaya penuh padamu. Jangan dibawa kabur yaaa" seloroh bunda Liana meredam kecewanya dengan tertawa kecil.
"Terimakasih, bun. Bunda jangan khawatir aku akan menjaganya 24 jam" bunda Liana tersenyum dan mematikan sambungan ponselnya.
"Aku tak menyangka rumit juga membujukmu, Rin" decih Ahmad menggoda Arini. Arini hanya tersenyum puas. "Karena kau tidak jadi berangkat maka lebih baik kita pulang ke rumahku saja sambil menunggu jadwal penerbangan bunda dan Papa" Arini hanya mengangguk. Keinginannya hanya satu tak ingin berpisah dari Ahmad.
Ahmad menggenggam jemari Arini dan melangkah keluar dari bandara. Beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan mereka menatap dengan penuh tanda tanya. Biarlah mereka dengan pemikiran mereka, bathin Ahmad santai. Urusanku bukanlah urusan mereka. Ahmad dan Arini melenggang ke arah mobil Ahmad yang di parkir di area parkir bandara.
"Menginaplah di rumah. Besok kita akan sama-sama menjemput bunda dan papa" ucap Ahmad sambil menjalankan mobilnya keluar area parkir bandara. Arini hanya mengangguk tanpa suara. Gadis cantik berkulit sawo matang itu menyandarkan kepalanya dengan nyaman. Ahmad menyentuh pipi Arini dengan punggung tangan kirinya.
"Kamu sungguh cantik, Rin" katanya sambil tersenyum manis.
Ahmad tertawa lepas membuat Arini menatap tajam ke arah Ahmad.
"Maaf" ucap Ahmad spontan "Menurutmu ketika seseorang itu terlihat cantik apakah karena cinta atau cinta yang membuat mereka terlihat cantik?"
"Tergantung dari cara dan niat mereka memandang. Terkadang yang cantikpun tak membuat mereka mengatakan cantik bila hati mereka tak suka" Arini menjawab tanpa melihat wajah Ahmad.
"Tapi untukku kamu sangat cantik karena aku mencintaimu" Ahmad tersenyum mencubit pipi Arini dengan lembut. "Hmmmmm...bagaimana jika kamu tidak mencintaiku?" Arini mengubah tempat duduknya menghadap Ahmad yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Kamu tetap cantik" jawabnya mantap.
"Aku takut kehilangan dirimu" sendu Arini mengeluarkan isi hatinya. "Maaf jika sikapku terlalu manja padamu. Aku seperti wanita murahan di depanmu" sambung Arini menunduk. Ahmad meminggirkan mobilnya dan berhenti dengan pelan. Arini nampak bingung.
Ahmad langsung menatap Arini dengan tajam. Memegang wajah Arini dengan kedua tangannya yang kekar.
"Jangan pernah mengatakan kalimat itu lagi, Rin. Aku sangat mencintaimu. Aku bahagia dengan sikapmu padaku. Aku merasa dibutuhkan dan berarti untukmu. Aku janji kau tidak akan kurang kasih sayang dan kebahagiaan kelak" Ahmad mengecup kening Arini dengan lembut. "Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Aku tidak ingin kita berjauhan"
Ahmad merengkuh Arini dalam dekapannya.
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan ketukan di kaca jendela mobil. Ahmad reflek melepaskan pelukannya, dan menurunkan kaca jendela mobil. Nampak seorang petugas Polisi Pamong Praja tersenyum ramah.
"Ada kendala dengan mobilnya, pak?, sejak tadi saya lihat mobil bapak berhenti di sisi jalan ini" tanyanya dengan sopan.
Ahmad tersenyum kecil. "Tidak ada, pak. Kami mohon maaf. Istri saya sedang mual dan minta berhenti karena ingin muntah" ucap Ahmad beralasan. Arini mencubit pinggang Ahmad agak kesal. Ahmad mencengkeram jari Arini dengan kuat.
"Apakah istri bapak sakit. Sebaiknya dibawa segera ke Rumah Sakit. Seratus meter di depan ada Puskesmas. Bapak bisa membawanya untuk pertolongan pertama" pak Pol.PP memberi saran sambil menatap Arini dengan sorot menyelidik. "Iya, pak. Terimakasih. Maklum sedang hamil muda, pak" sambung Ahmad sambil menjalankan mobilnya. Nampak pak Pol.PP tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
...๐๐๐โค
__ADS_1