IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
27. Hari Bahagia


__ADS_3

Sepagi itu rumah Arini telah ramai dan terlihat kesibukan. Acara yang akan digelar hanya sederhana saja, karena memang permintaan Arini dan Ahmad.


Janur kuning dan beberapa dekorasi menghiasi gerbang rumah dan sekitar halaman. Nampak beberapa petinggi TNI AD dan POLRI, serta beberapa pejabat kedutaan duduk bercengkrama bersama keluarga. Penjagaan di depanpun sedikit ketat karena undangan hanya sedikit dan dapat dihitung dengan jari.


Tepat pukul 08.00 nampak mempelai pria telah duduk rapi di depan penghulu dan petugas pernikahan yang lain.


Raut wajah Ahmad sangat tenang dan terlihat sangat tampan. Aura bulenya demikian kental membuat wajahnya nampak berbeda diantara para jerabat dan undangan terdekat. Balutan jas warna putih cream dengan kain yang menghiasi di bagian luar celananya benar-benar nampak sempurna ala Melayu.


"Kau tampan sekali, nak" puji Papa Ainshley dengan senyum lebar sambil mengelus punggung putranya penuh kasih sayang.


"Give me support, Pa. I look nervous in front of the wedding head" ujarnya pelan sambil menyeka bulir keringat di dahinya.


Papanya tertawa dan mengedipkan matanya.


"You are my son, and all Ainshley Al Akhtar children are the best sons in every way. You will be the leader and there is no need to be nervous"


Ahmad mengangguk pelan.


"Terimakasih, Pa" ucapnya lirih.


Acara ijab kabul akan dimulai. Penghulu dan Ayah Arini telah siap memulai akad nikah.


Dalam hitungan menit acara ijab kabul telah lancar. Ahmad dengan lantang mengucapkannya tanpa pengulangan. Suara saksi yqng mengatakan "Sah..." cukup lantang terdengar hingga ruang kamar tempat Arini menunggu.


Para wanita nampak menarik nafas lega dan sangat bahagia. Mama Arini sempat menitikkan air mata terharu.

__ADS_1


"Ayo, sayang. Sudah waktunya kamu keluar. Suamimu sudah menunggu" ucap bunda Irene dengan suara serak karena ikut terharu mendengar anaknya mengucapkan ijab kabul.


"Iya, bun" Arinipun bangun dan merapikan dandanannya. Mereka melangkah ke ruangan yang luas tempat dimana Ahmad mengucapkan ijab kabulnya.


Ahmad terpana menatap dandanan Arini. Kebaya dengan gaya modern berwarna cream putih dengan brukat serta beberapa hiasan menambah sempurnanya tampilan Arini hari itu.


Make up natural yang menambah kecantikan wajah Arini kian nampak terpancar.


"Kau cantik sekali, sayang" puji Ahmad saat menyematkan cincin perkawinana mereka di jari manis Arini.


Arini tersenyum malu-malu. Semburat merah di wajahnya nampak terlihat. Tangannya agak bergetar saat memasukkan cincin ke jari suaminya.


"Ahhh...s u a m i" ejanya dalam hati dengan bahagia.


"Kamu juga terlihat jauh lebih tampan" ucap Arini pelan. Ahmad menatapnya dengan senyum lebar. Aih...lebih tepatnya tertawa tanpa suara.


Ahmad membesarkan bola matanya, menatap Arini dengan geram.


"Jangan menggoda disini, Sayang. Ingat. Kau dan aku telah menjadi kita. Aku takut hilaf lho" ucapnya memperingatkan istrinya dengan suara agak ditekan.


Plak...


Papa Ahmad menepuk bahu putranya merasa risih mendengar kalimat absurd anaknya.


Ahmad terkejut dan tertawa tanpa suara.

__ADS_1


Arini tersenyum malu menatap wajah Ayahnya yang menatap ke arahnya.


Arini memeluk erat ayahnya ketika acara sungkeman atau bersalaman kepada kedua irang tua laki-laki maupun perempuan.


"Jadilah istri yang menyenangkan indera suamimu, nak. Hadapi semua masalah dalam rumah tangga berdua, jangan libatkan orang lain. Kecuali jika sudah tidak ada cara maka datanglah pada mertuamu, jangan datang pada Ayah dan Mamamu. Karena kami akan selalu menempatkan kalian di tempat yang benar atas dasar cinta dan kasih sayang". nasehat Ayah membuat Arini sesenggukan. Semakin erat dia memeluk Ayahnya.


"Arini akan selalu berbakti pada ayah dan mama" ucapnya terbata disela tangisnya.


Ayah Arini menarik nafas haru. Air mata mengalir di sudut kelopak matanya. Tubuh kekar perwira itu bergetar menahan haru.


"Ayah menyerahkan dan menitipkan Arini padamu, nak. Satu pesan Ayah jika kau tak suka lagi pada anak ayah tolong jangan disakiti tapi antarkan dia ke rumah Ayah, atau jika kau tak sanggup mengantarnya cukup sms ayah untuk menjemputnya". ucap Ayah Arini dengan suara gemetar, ketika tiba giliran Ahmad sjngkem dan berlutut di depannya.


Ahmad tercekat dengan nasehat ayah mertuanya.


"Ayah jangan khawatir. InsyaAllah Ahmad akan berusaha memberikan kebahagiaan pada Arini seperti yang ayah lakukan. Ayah jangan lupa aku adalah cinta keduanya. Jangan membuatku cemburu, Yah" Ahmad menunduk mencium tangan ayah mertuanya.


Ayah Arini seketika tersenyum mendapatkan jawaban dari menantunya.


"Ayah tetaplah cinta pertamanya" ucap ayah sambil mencium kepala Ahmad. Ahmad memeluk ayah mertuanya dengan penuh kasih.


Suasana sungkeman benar-benar mengharukan. Beberapa keluarga dan tamu turut terharu melihat situasi itu.


Mereka berkeliling menyalami setiap keluarga yang hadir, demikian pula beberapa sahabat dan undangan dari kantor kedua orang tua mereka. Pesta sederhana yang sakral dan penuh dengan kekeluargaan.


Arini dan Ahmad tersenyum bahagia. Kehidupan rumah tangga baru akan dimulai, entah seperti apa rintangan dan ujian yang akan datang mereka telah bertekad untuk bersama menghadapi.

__ADS_1


"Tetaplah menggenggam tanganku, Rin. Apapun yang akan terjadi di depan kita akan kita hadapi bersama" bisik Ahmad ditelinga Arini.


Arini mengangguk mengeratkan genggaman tangannya pada Sang Suami.


__ADS_2