IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
32. Kamu masa depanku


__ADS_3

Di rumah sederhana inilah kini mereak memulai hidup baru dalam suasana rumah tangga yang sesungguhnya. Setelah melewati proses meminta izin Mama dan Ayah mertuanya yang sangat alot, akhirnya Ahmad bernafas lega bisa membawa Arini memulai hidup barunya.


Sudah seminggu mereka menempati rumah sederhana yang dibelinya di sebuah kota yang tak terlalu jauh dari kota J. Ahmad juga sudah mulai aktif di sebuah universitas terkenal dan besar di kota ini. Minggu depan Ahmad juga mulai terjun langsung di usaha property milik papanya yang sengaja membuka cabang di kota tempat Ahmad dan Arini tinggal.


"Jam berapa pulang hari ini, bang?" Arini merapikan dasi suaminya.


"Lebih awal, yang. Tidak ada jadwal di kampus hari ini. Aku hanya ke kantor ada pertemuan rutin dengan karyawan" Ahmad mencium pipi istrinya dengan lembut.


"Kenapa?"


"Aku kangen Mama"


"Minggu depan kita bisa menjenguk mama, sekalian ke rumah bunda. Tidak apa-apa kan?"


"Iya nggak apa-apa. Lihat jadwal abang aja kapan bisanya" Arini tersenyum sambil membawakan tas kerja suaminya.


"Hati-hati di rumah. Kunci pintu jika tidak ada keperluan penting di luar. HPnya jangan dimatikan. Jangan lupa kabari jika ada sesuatu mendesak atau tidak" Ahmad panjang lebar meninggalkan pesan pada istrinya. Arini tersenyum lebar.


"Iya, bang. Abang jaga pandangan dan hati. Di kantor sama berbahaya dengan di kampus"


Ahmad tertawa lebar. Mencubit lembut pipi istrinya yang akhir-akhir ini sangat digemarinya. Pipi itu serasa makin mbul aja dan empuk untuk di elus.


"Do'a istri abang yang cantik ini sangat kuat insyaAllah. Senyum manis ini akan menjaga pandangan dan hagi abang selalu"


"Assalamualaikum" Ahmad masuk ke mobilnya yang sudah sejak tadi menunggu di depan rumahnya. Arini mencium punggung tangan suaminya.


"Waalaikumsalam. Bim, jangan lupa jagain dia" pesan Arini pada asisten kantor suaminya. Yang dibalas dengan senyum dan anggukan oleh Bima. Ahmad tertawa berderai menerima keposesifan istrinya. Mobil berjalan meninggalkan halaman rumah Arini.


Arini melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tapi belum juga sempurna tubuhnya masuk suara seseorang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Permisi, mbak" Arini membalikkan badannya. Sosok pemuda seusia dirinya turun dari mobil jeep. Ada beberapa orang lagi dalam mobil yang tidak turun.


"Selamat pagi" pemuda tampan itu tersenyum sedikit menunduk membuka pintu pagar halaman rumah Arini yang hanya setegah dada tingginya. "Pak Ahmadnya ada, mbak?"


Arini tersenyum


"Siapa yaa...dan ada perlu apa?"


"Mbak cantik banget" pemuda itu menatap Arini malu-malu. Arini merasa tidak nyaman melihat tingkah pemuda di depannya. Arini menarik nafas panjang menghadapi remaja kampus yang sudah di pahami bagaimana tingkah lakunya.


"Maaf...?"


Pemuda di depan Arini tersenyum manis. Isshhhh...so cool banget nih anak. Bathin Arini gerah.


"Saya. Eh maksud saya kami di suruh ngantar skripsi ke rumah pak Ahmad. Emm...maksudnya mau konsultasi skripsi dan thesis" pemuda itu salah tingkah mendapat tatapan mata Arini yang tajam.


Arini semakin waspada.


"Ee...sudah, mbak. Tadi kami menelpon beliau. Katanya di suruh ngantar ke alamat ini"


"Mana skripsi dan thesisnya" Arini menadahkan tangannya. Tanpa di duga pemuda itu menyambut tangan Arini dan menyalaminya. Spontan Arini kaget dan menarik tangannya. Tapi tangan pemuda itu menggenggamnya dengan kuat.


"Ja..."


"Nama saya David Stephen Crowson. Semester akhir S2 management bisnis" ucapnya menghentikan Arini yang akan menegurnya dengan bangga masih dengan senyum menggoda. Arini tersenyum tipis.


"Mohon maaf, bisa anda melepaskan tangan saya?" Arini menahan kecemasan dan rasa kesalnya mendapat perlakuan tak terduga dari pemuda yang bernama David yang mungkin merupakan mahasiswa bimbingan suaminya.


"Oh..." pemuda itu tertawa kecil. Beberapa temannya dari dalam mobil nampak kasak kusuk. Sesekali mereka menatap ke arah Arini dan temannya.

__ADS_1


"Tolong, berikan skripsi dan thesisnya. Nanti aku akan berikan pada dosen anda" Arini menggengam tangannya setelah dileoaskan oleh pemuda itu.


"Nama mbak siapa?"


"Apa itu penting?"


"Sangat penting, mbak. Sebagai jaminan dan bukti bahwa masa depanku telah kuantarkan"


"Hah...!!. Maksudmu?" alis Arini bertaut agak ambigu dengan kalimat David. Pemuda ini memang agak konyol. Arini masih menunggu.


"Kertas ini adalah masa depan kami" katanya sambil tertawa khas anak muda tanpa beban. Ihhhhh...ingin Arini menjitak kepala pemuda itu andai dia teman akrabnya.


"Oh. Ya sudah bawa sini masa depanmu itu. Namaku Arini Rahardian. Bisa kamu katakan pada dosenmu nanti bahwa masa depan kalian sudah diterima olehku langsung" Arini menerima beberapa tumpukan kertas yang sudah di jilid dengan rapi.


"Arini Rahardian. Nama yang cantik" suara pemuda itu pelan menatap Arini. Arini membesarkan bola matanya jengah menghadapi kenarsisan pemuda itu. Ahhh...mungkin dia belum tau siapa aku, batin Arini lepas.


"Ada lagi yang ingin disampaikan buat pak Ahmad?" Arini melihat David enggan berbalik meninggalkan rumahnya.


David tertawa kecil. Iiihhh...itu sikapnya seperti remaja menggoda pacarnya. Sungguh, Arini ingin sekali menendang kaki laki-laki jangkung mahasiswa suaminya ini. Hmmmmm...


"Kamu masa depanku juga" ucapnya tertawa lepas. Arini melotot. David makin tertawa.


"Terimakasih, mbak Arini. Matanya jangan melotot gitu. Tambah cantik aja" ucapnya ringan.


Ingin Arini melemparnya dengan apapun menghadapi sikap konyol David.


....🤝🤝🤝


happy reading...

__ADS_1


__ADS_2