
Pasangan pengantin muda itu meninggalkan ruangan yang telah di desain menjadi tempat melaksanakan ijab kabul sekalian ramah tamah bersama keluarga, kerabat, dan undangan.
Satu persatu undangan pamit ke tempat masing-masing. Wajah kedua orang tua Ahmad dan Arini tersenyum dan tertawa bahagia melepas para undangan. Terkadang juga nampak tertawa terbahak ketika mereka bercengkrama begitu dekat.
Dan akhirnya di ruangan itu hanya menyisakan kedua orang tua pengantin dan beberapa asisten yang mulai merapikan ruangan.
Kedua orang tua Ahmad nampak berpamitan pulang untuk istirahat.
"Jangan lupa nanti kembalilah untuk makan malam bersama" Mama Liana mengingatkan bunda Irene dan keluarganya ketika mengantar sampai di halaman.
"Aku tidak akan lupa, Lia. Oya, tolong sampaikan salam kami buat anak-anak" ucap bunda Irene sambil tertawa.
"Iya, nanti aku sampaikan. Mungkin mereka sedang istirahat" jawab mama Liana.
"Biar cepet dapet cucu, Lia" bisik bunda Irene di telinga besan dan sekaligus sahabatnya. Mama Liana sontak tertawa dan mencubit pinggang bunda Irene.
"Kamu ingat masa awal pernikahanmu, ya. Otakmu selalu ke arah sana" goda mama Liana pada sahabatnya.
"Aduh, Lia. Kamu patut bersyukur kalau itu segera terwujud. Kita akan berubah status" bunda Liana menggoda sahabatnya.
__ADS_1
"Aamiin. Jangan ngebet aja yaaa... . Kita do'akan yang terbaik" ucap mama Liana yang diaminkan bunda Irene sambil mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.
Emak-emak mertua memang otaknya ujung-ujungnya juga ke cucu, generasi penerus keturunan mereka. Dan yang terpenting bagi para emak mertua adalah bayi mungil bak boneka adalah sesuatu yang lucu dan menggemaskan laksana mainan yang sangat diidam-idamkan.
Para suami hanya bisa menggelengkan kepala melihat istri-istri mereka berhayal. Para ayahpun turut bahagia jika segera dikaruniai cucu.
Mobil papa Ahmad berjalan pelan meninggalkan halaman rumah keluarga Irene. Sampai mobil silver itu hilang di balik tikungan ujung jalan perumahan, barulah Mama Arini, ayahnya, dan beberapa kerabat dekat kembali masuk ke rumah.
Sementara itu di kamar pengantin..
❤❤❤❤❤
Arini duduk di depan meja riasnya, membuka aksesoris yang menempel di rambutnya yang panjang. Ahmad menghampiri Arini yang telah sah menyandang status istri atau Nyonya Ahmad Al Akhtar.
"Aku harap kita akan terus bersama dalam segala hal. Terbuka, menjaga komunikasi, dan percaya" Ahmad menatap cermin yang memantulkan dirinya dan istrinya. Wajah cantik Arini tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya yang putih dan rapi.
"InsyaAllah, kamu tidak perlu meragukan itu. Tapi satu hal yang kuminta tegur dan bimbing aku jika salah dan ajari aku kebaikan dengan sabar" Arini menatap wajah tampan di cermin yang telah me jadi suaminya.
"Pasti, sayang. Kamu adalah pelengkap hidupku. Penyempurna ibadahku..."
__ADS_1
Ahmad membalikkan tubuh istrinya. Kini Arini telah menghadap ke arah Ahmad suaminya. Ahmad meraih tissu basah di nakas rias dan dengan lembut mengelap sisa make up yang masih ada di wajahnya.
Lalu Ahmad meraih dagu istrinya. Mata mereka bertemu. Debaran-debaran itu kian bergejolak di hati mereka. Tubuh mereka sesaat memanas karena dipicu getaran-getaran hasrat di antara mereka. Ahmad tak dapat lagi menahan diri untuk menanti malam.
Cuppp...
Bibirnya dengan lembut menyentuh bibir Arini yang sedikit terbuka karena ingin mengucapkan sesuatu.
Ahmad menyesap bibir Arini dengan penuh kasih. Ahhhh...manis dan lembut batinnya semakin berhasrat.
Ahmad memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Arini. Dalam sekian detik Arinipun membalas tautan bibir Ahmad yang menggairahkan.
Arini mengeratkan pegangannya pada pinggang Ahmad yang masih dengan intens melakukan ciuman di bibir. Ahmad memegang tengkuk Arini dengan lembut sambil terus memberikan permainan ciuman bibir yang seakan tak ingin dihentikannya.
Ahhhhhh...
Mereka saling melepaskan pagutan dan sesapan di bibir saat terasa oksigen yang mereka hirup kekurangan akibat panasnya ciuman yang mereka lakukan.
Ahmad memeluk Arini yang masih duduk di kursi meja rias dengan erat.
__ADS_1
Nafas mereka memburu, dan mereka mencoba menetralkan itu dengan saling melempar senyum.
"Lembaran baru kita mulai, sayang" Ahmad bergumam dengan suara serak, karena gairah yang mulai menguasai tubuh dan pikirannya.