
"Sayang, jadwalku padat hari ini. Belanjanya di tunda dulu, ya. Besok akan aku luangkan waktu untuk mengantarmu" Ahmad membenahi dasinya sambil melirik istrinya yang tengah menyiapkan sarapan.
Arini menatap mata suaminya dengan tidak percaya.
"Ini sudah ketiga kalinya abang mbatalin janji. Izinkan aku pergi bersama Bibi atau aku bisa minta Melda untuk menemaniku" Arini mencoba bernegosiasi pada suaminya yang super posesif.
"Tidak, sayang. Kamu tidak akan aman bersama mereka"
"Sayang, pikiranmu itu terlalu berlebihan" Arini mulai protes.
Ahmad menyelesaikan sarapannya. Meneguk segelas susu yang telah disiapkan istrinya.
"Apakah tidak bisa pesan online saja, sayang?. Bukankah biasanya juga seperti itu?" Ahmad sabar menghadapi istrinya.
"Ini kebutuhan pribadi, suamiku sayang" Arini bangun dari duduknya meraih tas kerja suaminya. "Izin yaaa?"
Ahmad berpikir sejenak, terlihat dari keningnya yang berkerut.
"Baiklah. Nanti Bima akan mengantarkanmu setelah dari kantor. Ajaklah Melda dan Dino akan bersama kalian"
"Mengapa harus Dino sih, bang?" Arini tau benar siapa Dino. Pemuda hebat yang memiliki ilmu bela diri dan merupakan orang kepercayaan suaminya selama ini.
"Kamu akan aman bersamanya, sayang. Pergi bersamanya atau belanja ditunda." tegas Ahmad sambil melangkah ke pintu. Arini menarik nafas berat dan menghembuskannya dengan segan.
"Baiklah. Terimakasih, sayang" Arini mencium punggung tangan suaminya. Ahmad mengecup pipi istrinya dengan penuh sayang.
"Nice wife. Jangan lama-lama di luar. Selesaikan keperluanmu dan segera pulang. Jangan lupa kunci pintu"
"Iya, sayang"
Arini menutup pintu mobil suaminya yang sudah siap duduk manis.
"Aku mencintaimu, sayang" Ahmad mengedipkan matanya nakal. Arini tertawa.
__ADS_1
"I love you more, suamiku sayang. Selesaikan pekerjaanmu dan segeralah pulang" Arini menjauh dari sisi mobil yang siap meninggalkan halaman. "Jaga pandangan dan hati"
Ahmad tertawa tanpa suara dan mulai melajukan mobilnya.
Arini berbalik dan melangkah masuk ke rumah. Sudah hampir setahun rutinitasnya hanya di rumah tanpa melakukan hal lain di luar. Semenjak menikah dengan Ahmad, Arini benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Arini menikmati semua kehidupannya. Ahmad memenuhi semua kebutuhannya.
"Taat pada suami adalah ibadah terbaik dihadapan Allah" itu pesan Mama padanya ketika itu.
Dan Arini tak pernah protes ketika suaminya mengutarakan keinginannya agar Arini fokus menjadi ibu rumah tangga. Dua bulan lagi pernikahannya dengan Ahmad genap satu tahun.
Sesungguhnya Arini merindukan tangis bayi hadir diantara mereka berdua, namun mungkin Tuhan belum memberi mereka rezeki.
Arini merasa bahagia ditengah kesedihannya, larena suaminya selalu mensupport dirinya.
"Sayang, jodoh, rezeki, dan ajal itu menjadi urusan Allah. Kita hanya wajib berusaha dan berdoa." begitu kalimat suaminya terpatri dalam lubuk hati Arini dengan hangat.
Hanya kesempurnaan yang dirasakan Arini dalam rumah tangganya. Sejauh ini belum ada batu sandungan yang begitu mengguncang biduknya. Dan mereka selalu bedoa semoga mereka bisa melalui apapun yang akan menghadang setiap langkah dalam perjalanan mereka, asalkan mereka senantiasa saling menggenggam.
Indah bukan?...
"Itu toko yang menjual pakaian khusus wanita, Rin" tunjuk Melda setelah mereka mwlewati beberapa gerai pakaian di salah satu mall di kota.
"Nyari bareng atau ada yang kamu cari sendiri, Mel?" Arini mengikuti langkah Melda mulai menasuki toko pakaian itu. Pramuniaga cantik dan berpengalaman menyapa mereka dan mulai menawarkan berbagai barang yang mereka miliki.
"Aku ke sana dulu, ya. Nanti kita ketemu di kasir. Tapi jika ada yang kau perlukan dariku panggil aja"
"Iya. Aku nggak lama kok. Awas, jangan ngacak barang orang kalau nggak ada yang pas"
"Ishhhhh...kamu tau aja kebiasaan burukku" Melda mencubit lengan Arini. Arini tertawa pelan.
Arini memilih beberapa kebutuhan pribadinya yang sangat diperlukan. Setelah menemukan apa yang dibutuhkannya, Arini berpindah ke deretan pakaian tidur wanita yang nampak indah dan menarik pandangan matanya.
Seorang Pramuniaga cantik menemaninya. Sesekali Arini bertanya tentang bahan dan model yang dijawab oleh Pramuniaga itu dengan ramah.
__ADS_1
"Arini Rahardian..." sebuah suara mengagetkan Arini yang tengah fokus memilih pakaian tidur wanita yang diinginkannya. Netra Arini membulat. Tangannya berkeringat tiba-tiba. Sosok pemuda tinggi proporsional dan tampan nampak tersenyum manis menatapnya.
"Akhirnya, keberuntungan berpihak padaku. Semakin cantik saja kau dimataku, Arini"
Arini menegang di tempatnya. Tak tau harus mengatakan apa. Otaknya mengingat pesan suaminya dan itu membuatnya sedikit khawatir. David...ya, lelaki tampan yang berdiri di depannya kini adalah David.
"Dave..."
"Aku beruntung hari ini" bisik David memajukan wajahnya ke dekat kepala Arini. Matanya menatap Pramuniaga di sebelah Arini dengan tajam. Pramuniaga itu merasa terintimidasi dan menjauh dari Arini.
"Apa kau sengaja mengikutiku?. Aku pikir engkau sudah salah masuk toko, Dave" suara Arini agak bergetar karena tatapan David yang tajam dan penuh kuasa.
David tertawa. Tangannya dengan cepat mencekal lengan Arini.
"Aku rasa itu bukan urusanmu bagaimana aku bisa bertemu denganmu. Kamu seperti sesuatu yang tak mudah aku temui dan dekati. Aku rasa ini hari keberuntunganku. Aku telah mengatakannya tadi, bukan?"
"Jangan berlebihan, Dave. Berlakulah sopan aku ini istri dari..."
"Hahhahahaaa..." David tertawa sambil menarik lengan Arini. "Mbak, tolong total belanjanya" David meletakkan barang yang dipegang Arini di meja kasir. Pemuda yang bertugas di meja kasir tersentak menatap David. Dia menunduk sopan dan sedikit takut.
"Baik, mas" ucapnya langsung melakukan tugasnya di dampingi mbak Pramuniaga yang nampak takut juga. Arini mengerutkan keningnya. Ingin dia berteriak dan membentak David, namun Arini takut memicu keributan di tengah keramaian pengunjung.
Beberapa mata hanya menatap mereka sekilas seperti tidak terjadi apapun. Arini mengumpat dalam hati, entah kemana melancong Melda di tengah toko yang luas ini...batinnya resah.
"Aku akan membayarnya sendiri" ketus Arini melihat David mengeluarkan kartu kreditnya.
"Mereka tidak menerima uang cash, sayang" bisiknya lembut dan kasar.
Arini menarik nafas sesak. Hembusan nafas David di wajahnya terasa meresahkan.
Pertemuan tak sengaja ini sangat membuatnya resah. Sungguh, David tak pernah kehabisan cara untuk mendekati Arini. Dan ini benar-benar membuat Arini shock. Bahkan David terus terang mengungkapkan keinginannya memiliki Arini.
"Jangan pernah menghindariku, Rin. Atau kau akan menyaksikan hal yang mengerikan pada suamimu" bisik David sambil tersenyum dan melepas Arini di mall tadi. Arini bergidik ngeri dengan tatapan itu.
__ADS_1
...😢😢😢😢
lanjut ya Readers...