
"Rin, Selamat ya...akhirnya jadi sarjana nih" Melda memeluk sahabatnya, disusul sahabat mereka yang lain. Arini tersenyum kecil dan membalas pelukan sahabat-sahabatnya. "Selamat juga buat kalian semua. Dimanaoun kalian berada jangan lupa komunikasi ya. Siapa tau suatu saat kalian tersesat di kota tempat tinggalku" ucap Arini dengan tawa kecil.
Semua sahabatnya tertawa. "Kita tempat tinggalmu sekarang katanya suhunya panas ya, Rin" tanya Evan karena melihat warna kulita Arini agak berubah. Arini tertawa dan memukul bahu Evan. "Panas tapi sejuk" jawab Arini pendek.
"Katanya jauh ya, Rin dari ibu kota provinsinya?" kali ini Melda yang memuaskan rasa penasarannya. Sudah hampir enam bulan Arini pindah tinggal, dan kembali ke kota ini hanya untuk ikut wisuda dan mengambil ijazahnya. Arini termenung sesaat. "Kalau melalui jalur darat memang jauh. Tapi kalau pakai pesawat sekitar 30 menit. Tidak jauh bukan?"
"Itu jauh dodol" senggol Melda dengan agak keras. Arini tertawa "Jauh dimata tapi dekat di ponsel" seloroh Arini mencubit Melda. Merekapun tertawa bersama. Evan tersenyum melihat wajah Arini yang sumringah. Semoga luka lamanya telah terkubur dengan kuat.
"Heh, ngapain kamu ngeliatin Arini?" Melda menepuk wajah tampan Evan. Evan langsung tertawa. "Aku bangga dia banyak berubah. Dan aku ingin mentraktir kalian malam nanti di cafe biasa tempat kita nongkrong dulu"
"Harus itu" sambut Arini dengan senang. "Kamu udah janji gaji pertamamu akan dihabiskan oleh kami berdua"
"Hhhhhh...siap" kata Evan. Merekapun berpisah menuju tempat masing-masing. Arini menghela nafas sambil melangkah meninggqlkan aula gedung kampus tempat acara wisudanya. Hanya dua hari Arini diberi izin untuk kembali ke kota kelahirannya sekedar untuk wisuda dan bertemu sahabatnya. "Tidak ada perpanjangan waktu, Rin. Kamu harus segera kembali. Ayah tidak ingin terjadi sesuatu padamu" itulah pesan ayahnya ketika Arini meminta izin untuk pergi sendiri kembali ke kota xx dalam rangka wisuda dan tak ada seorangpun yang mendampinginya.
__ADS_1
Arini bersiap menanti jemputan Melda untuk bersama menuju cafe favorit mereka.
"Hai, kamu terlihat cantik, Rin" sapa Melda menatap takjub pada Arini yang menggunakan pakaian tertutup tapi modis. Di lehernya terjuntai syal tipis menjadi ciri khas Arini jika berpakaian. Arini tertawa menyambut Melda yang menjemputnya. "Dari dulu kali" jawabnya sambil menaiki mobil Melda.
Evan telah menunggu di cafe yang biasa dulu mereka sering nongkrong atau mengerjakan tugas kuliah. "Udah kupesan" kata Evan sambil menyambut sahabatnya. "Tidak terasa yaaa semua akan berubah. Kita akan mulai dengan perjuangan hidup yang sesungguhnya" sambung Evan menatap Melda dan Arini bergantian. Sejak awal kuliah memasuki kampus xx, mengambil jurusan yang sama merupakan kebersamaan yang sangat lama bagi mereka. Berbagai hal mereka lalui bersama dan tetap menjaga utuh persahabatan.
"Apa rencanamu?" Arini menatap Evan. Evan tertawa kecil. "Aku akan meneruskan usaha ayahku. Memang sangat aneh kuliah di jurusan pemerintahan tapi kerjanya di perusahaan. Jiwa bisnisku menurun otodidak dari Ayah" Evan merasa lucu "Dan aku sudah dia bulan ini resmi bergabung di perusahaan. Lumayan, berbakti pada orang tua" sambungnya tertawa bahagia. Arini tersenyum, dan menatap Melda.
"Aku juga sudah magang di kantor pemerintahan. Tetapi aku juga ikut mengelola usaha garmen milik mamaku. Dan aku rasa aku akan melanjutka. hidupku disana. Siapa tau ada beasiswa S2 aku ingin ikut" ucapnya dengan tertawa sambil mengaduk es juice nya.
"Aku juga sudah magang selama 3 bukan ini di kantor pemerintah di kota kecilku sekarang" Arini tersenyum mengingat kota kecil yang kini menjadi pilihan orang tuanya untuk menetap yang entah untuk berapa lama. Karena kata Ayah rumah mereka yang di kota xx masih kosong dan dirawat oleh adik ayah sejak ditinggalkan 6 bulan yang lalu. "Kamu kelihatannya betah di kota kecil itu, Rin?" selidik Melda melihat mata Arini berbinar kala menyebut nama kotanya. Arini tertawa getir.
"Sumbawa. Kota kecil yang ramah. Entah bagaimana ayahku bisa menemukan kota itu. Memang agak panas kalau musim kemarau, tapi kotanya nyaman dan istimewanya tidak bising"
__ADS_1
Melda dan Evan banyak bertanya tentang perubahan hidup Arini tanpa sedikitpun menanyakan masalah Ahmad. Mereka berusaha untuk tidak membuka kenangan pahit itu.
"Kalau kalian akan menikah jangan lupa aku yaaa. Aku pastikan aku akan datang kesini lagi" kata Arini dengan tertawa kecil. Mereka terus bercanda dan berbincang berbagai materi sampai akhirnya makanan mereka habis dan waktinya berpisah.
"Apa kamu yakin besok akan kembali ke kota itu, Rin?. Tidak ingin berkeliling dulu untuk beberapa hari lagi. Aku siap menemani, Rin" kata Melda yang diangguki oleh Evan.
Arini menggeleng. Sudah 2 hari dia menginap di hotel yang telah dipesankan oleh ayahnya, itupun dengan masa izin 2 hari tak boleh lebih. "Lain kali aku akan kembali jika kalian menikah" ucap Arini dengan tertawa manis. Ahhhhh...entahlah rasanya aku tak ingin kembali kesini. Bathin Arini bertekad.
Merekapun berpisah dan saling berpelukan untuk terakhir kali. Melda memaksa Arini mengantar sampai ke hotel tempatnya menginap, namun Arini menolak. Arini ingin merasakan malam kota xx sejenak sendiri sebelum kembali ke kota kecilnya. Arini melambaikan tangannya kepada Evan dan Melda. Dua sahabat setianya yang super baik dan setia.
Arini mengeratkan tas kecilnya yang terselempang di tubuhnya melangkah meninggalkan altar cafe yang masih nampak ramai oleh pengunjung. Maklumlah malam Minggu, apalagi ini adalah kota besar.
Arini melangkah sambil sesekali matanya menatap deretan lampu jalan yang terlihat begitu rapi dan indah. Terang benderang. Lalu lintas yang demikian padat. Hmmmm...betapa jauh bedanya dengan kota kecilnya saat ini.
__ADS_1
Hai, Kota kecilku...aku merindukanmu
❤❤❤