
"Kalian istirahatlah. Besok kita akan mengantarkan kalian ke rumah pengantin pria" Mama Liana melangkah mengikuti suaminya ke kamar untuk istirahat.
Arini tersenyum sambil mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Jamuan makan malam keluarga sejam yang lalu telah selesai. Semua keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing. Demikian pula bibi Amira, suaminya, dan Melda sahabat Arini.
Dua orang asisten rumah nampak berbagi tugas. Satu orang mengecek pintu dan jendela, serta halaman rumah. Dan yang satu lagi memastikan lampu2 yang tidak dibutuhkan segera dioffkan.
Hening malam meninggalkan kesunyian. Pukul 23.45 malam, memang saat yang tepat bagi banyak orang untuk melenggang ke alam mimpi demi mengistirahatkan tubuh dan otak yang lelah.
Arini masuk ke kamarnya. Matanya langsung mencari sosok Ahmad suaminya. Namun. yang dicari tak ditemukan. Terdengar gemericik suara air di kamar mandi dan Arini yakin pasti suaminya sedang mandi.
Arini mengganti bajunya dengan baju rumahan. Dress sepaha berbahan kaos yang adem berwarna hitam menjadi pilihan pavoritnya.
ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Arini spontan menoleh ke arah suara. Matanya terbelalak melihat suaminya keluar hanya menggunakan handuk penutup bagian bawah. Tubuh sempurnanya seolah sengaja dipamerkan dan itu membuat jantung Arini berdebar. Hatinya berdesir tak menentu.
"Hai, Sayang" sapa Ahmad melangkah santai menuju Arini yang duduk di kursi meja riasnya.
"Ha..hai juga" Arini tergagap tak menyangka Ahmad menyapa dengan tenang.
"Kenapa gugup begitu?" Ahmad menyisir rambutnya tepat di belakang Arini yang berhadapan langsung dengan cermin meja rias.
Aroma tubuh suaminya menggoda.
__ADS_1
"Dengan memejamkan mata seperti itu kamu tidak akan bisa menikmati apapun, sayang" ucap Ahmad lembut memegang bahu istrinya.
Ahmad menatap intens wajah istrinya yang seakan dengan sengaja memejamkan mata. Dan itu membuatnya terlihat menggemaskan. Mata indah itu tertutup menampakkan wajah cantik nan alami dengan hidung mancung, alis yang alamu dan indah, serta...bibir itu..bathin Ahmad mendesah.
"Pakai pakaianmu" suara Arini ketus.
Ahmad tertawa melihat istrinya.
"Hanya ada kamu ini, kenapa harus terburu-buru memakai baju" goda Ahmad masih memegang bahu istrinya.
"Isshhh...itu mengganggu pemandangan" Arini membuka matanya. Dan terkejut suaminya sudah membalikkan badannya hingga mereka kini berhadapan.
Netra mata mereka bertemu dan saling menatap dengan aura yang membuat Arini salah tingkah. Ahmad merasakan suasana yang sangat intens antara mereka. Tanpa menjawab protes istrinya, Ahmad menangkup kepala istrinya dan mendekatkan wajahnya.
Ahmad meraup bibir indah istrinya dengan lembut. Mulai menyesap bibir manis itu dengan penuh gairah. Arini tak menolak apa yang dilakukan suaminya. Bahkan dalam sekian detik mereka berpagutan menikmati ciuman bibir dan bertukar saliva disana.
"Sayang, setelah ini bagaimana jika kita memulai kehidupan rumah tangga kita sendiri secara mandiri?" Ahmad berucap dengan hati-hati dan mengakhiri kegiatannya.
Arini tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
"Kita akan membicarakannya dengan mama dan ayah" Arini menggeser duduknya lebih dekat pada suaminya.
"Aku ingin kita tinggal berdua saja. Itu maksudku" Ahmad melihat Arini mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Meninggalkan mama di rumah sendiri?" Arini memperjelas pertanyaannya.
Ahmad mengangguk.
"Percayalah. Mama dan Ayah pasti memahami pilihan kita. Dan lagi yang terbaik dalam sebuah rumah tangga adalah kita memulainya dengan bersama dan yakin bahwa kita pasti bisa" Ahmad menggenggam tangan istrinya memberi sebuah keluatan.
"Kamu mau ya?. Aku sangat berharap hal itu. Dimana kita bisa banyak belajar tentang kita, bagaimana kita, dan hanya kita" Ahmad menepuk lembut punggung tangan Arini dalam genggamannya.
"Apakah tidak terlalu cepat jika kita meninggalkan mereka. Kamu kan tau, Mama hanya punya aku" Arini menatap suaminya dengan tatapan memohon. Bagaimanapun dia tidak ingin mengecewakan keduanya. Suaminya adalah pemimpin rumah tangganya, dan orang tuanya juga sangat disayanginya.
"Kita akan membicarakannya pada Mama dan Ayah lusa setelah kita kembali dari rumah Papa. Minggu depan aku mulai aktif di kampus. Dan mungkin juga akan mulai aktif di perusahaan Papa" Ahmad mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Hidup kita butuh biaya, sayang. Kita juga perlu membahagiakan orang tua kita. Benarkan?" Ahmad tersenyum manis melihat istrinya masih terlihat bingung.
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Kita akan menghadapi semua bersama. Karena itu tetaplah di sampingku dan menggenggam tanganku" Ahmad meyakinkan istrinya.
"Iya..." Arini tersenyum malu mendapat perlakuan manis dari suaminya.
Banyak hal yang mereka bicarakan malam itu.
πππππ
lanjut imaginasi kalian ya Readers...
__ADS_1
Maaf banyak yang ku revisiπππππ»ππ»ππ»