IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
35. Aku suamimu


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak peristiwa diantar David, Arini tidak pernah lagi melihat pemuda itu datang ke rumahnya membawa tumpukan tugas ataupun tak sengaja bertemu di tempat umum di luar. Dan itu membuat Arini lega luar biasa.


"Sayang, apa kamu bahagia menikah denganku?" Ahmad menatap wajah cantik istrinya yang tak terasa sudah delapan bulan lebih mengarungi bahtera rumah tangga bersama.


"Aku bahagia, bang. Tapi, aku mohon maaf sejauh ini belum bisa memberimu sesuatu yang berarti" Arini menunduk. Hatinya perih bagai ditusuk. Ahmad meraih wajah Arini untuk menatapnya. Mata indah istrinya berkaca-kaca. Gumpalan air mata siap tumpah di pipinya yang indah.


Ahmad mengecup dahi istrinya dengan lembut.


"Ck...masih saja hal itu kau pikirkan, sayang. Tak ada yang memaksa kita memiliki momongan sekarang, besok, atau lusa. Biarkan itu menjadi urusan Allah. Jangan bersedih yaa..."


"Tapi bukankah tujuan berumah tangga itu juga ke sana, bang?"


"Sssttt...sudah. Kita sehat lho, sayang. Tak ada masalah. Jadi jangan jadikan itu beban pikiran yaa..percayalah suatu saat hari itu Allah titipkan amanah kepada kita di saat yang Allah katakan kita sudah saatnya diberikan. Hanya perlu yakin, sayang bahwa Allah akan memberikan rezeki pada saat yang Allah kehendaki" Ahmad memeluk erat istrinya yang mulai sesenggukan.


"Hatikupun sama denganmu, sayang. Tapi sekali lagi kita harus berbesar hati. Ingat pesan Mama dan Bunda sabar dan tawakkal. Takdir Allah akan selalu indah jika kita ikhlas menerima" Ahmad membelai surai istrinya dengan lembut. Ahmad sadar tak ada kekurangan dalam rimah tangga mereka, namun ujian kesabaran itu yang harus mereka jalani.


Ahmad harus kuat dan tegar mendampingi istrinya. Memberinya kesenangan sebagai ganti Arini mengikuti keinginannya untuk tidak beraktivitas di luar rumah. Sederhana keinginan Ahmad. Cukup Arini menjadi istri seutuhnya. Yang selalu ada kapanpun Ahmad mau. Bukan Ahmad egois, namun inilah cara mereka menciptakan kebahagiaan.


Arini mendukung sepenuhnya keinginan suaminya untuk di rumah sebagai ibu rumah tangga. Bukankah itu ibadah yang utama menyenangkan hati suami?


Arini tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


"Terimakasih, bang. Untuk kebahagiaan yang tanpa batas ini. Jangan pernah berubah mencintaiku dalam sabarmu. Jangan pernah berpaling dari segala kekuranganku" Arini membenamkan kepalanya di dada suaminya. Ahmad erat memeluk istrinya. Buncahan kasih sayang tak pernah kurang dari hari ke hari. Ahmad semakin mencintai istrinya.


Bukan tanpa godaan di luar sana. Di kampus, di kantor, ataupun di tempat kolega bisnisnya banyak wanita-wanita nan cantik bertubuh sexy menggoda, namun sekali lagi Ahmad mampu menjaga pandangan dan hatinya. Satu nama yang selalu ada dalam doa dan nafasnya adalah Arini Rahardian.


Drrrrt...

__ADS_1


Drrrttt...


Drrrttt...


Ponsel Ahmad berdering untuk kesekian kalinya. Ahmad meminta izin pada istrinya untuk mengambil ponsel yang diletakkan di meja rias Arini.


Bima calling...


"Waalaikumsalam..." Ahmad menjawab telpon sambil duduk di samping istrinya yang masih berbaring.


"Maaf, pak. Saya hanya ingin memastikan apa bapak akan datang memenuhi undangan bu Stevani nanti malam?" suara Bima terdengar lantang di ujung telpon. Mungkin dia sedang verada di luar, karena terdengar suara biding di sekitarnya.


Ahmad tersenyum menatap wajah istrinya yang menatap ke arahnya.


"Kamu saja yang mewakili, Bim. Istriku sedang kurang enak badan" Ahmad menowel pipi istrinya sambil tersenyum. Arini melotot mendengar alasan Ahmad.


"Baiklah, pak. Akan saya laksanakan"


"Terimakasih, Bim. Kamu memang mampu kuandalkan. Hati2 bawa mobilnya dan ingat jangan sentuh minuman berakohol. Jaga diri dengan baik" pesan Ahmad tegas. Diujung sana terdengar suara tawa Bima sang asisten andalannya.


"Jangan khawatir, pak. Aku teruji untuk hal itu. Assalamualaikum"


"Jangan takabur. Jaga diri dengan baik"


Iya, pak!"


"Waalaikumsalam" Ahmad menutup telponnya.

__ADS_1


"Kenapa harus berbohong, sayang?" Arini menatap Ahmad dengan bingung. Ahmad tertawa sambil membaringkan tibuhnya di sebelah istrinya.


"Terkadang harus kulakukan, sayang. Demi menjaga hati dan pandangan suamimu yang tampan ini"


Arini tertawa bahagia


"Memangnya abang siapa?"


Ahmad menatap istrinya dengan penuh arti.


"Menurutmu aku siapa?"


"Entahlah..."


"Hei, Sayang. Jangan menggodaku, kamu paham betul apa yang akan dilakukan suamimu ini" Ahmad meraih pinggang istrinya dan memeluknya erat dengan tatapan menggoda.


"Aku suamimu, sayang. Ingat itu"


Arini tertawa bahagia dalam pelukan suaminya.


Aku crazy up nih, Readers...😅😅😅😅


soalnya besok mulai kegiatan lagi.


Jangan lupa kritk and sarannya yaaa...


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2