IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
10. Takdir Tuhan


__ADS_3

Arini tak mampu menopang tubuhnya, tiba-tiba dunia terasa berputar hampa. Ayahnya dengan sigap menahan tubuh Arini yang telah tak sadarkan diri. Ibu Arini semakin histeris melihat putri semata wayangnya pingsan. Semua kerabat panik, mereka berpencar mengambil peran masing-masing. Aura kesedihan melingkupi rumah tingkat yang sederhana itu. Ayah Arini membopong tubuh putrinya dan bergegas membawanya ke kamar.


Tubuh Arini dibaringkan dengan lembut di atas ranjang kesayangannya. Ayah Arini mengusap kasar wajahnya yang tegang dan nampak kusut. "Bim, minta tolong perintahkan tukang dekor tadi untuk menyingkirkan semua benda-benda yang menghiasi rumah ini. Aku ingin rumah ini nampak normal tanpa sehelaipun hiasan yang tertinggal" perintah ayah Arini pada seseorang melalui ponselnya.


"Sterilkan rumah ini, Bim. Dan berikan uang lebih untuk mereka yang bekerja. Aku ingin besok pagi rumah ini dalam keadaan normal"


"..."


"Terimakasih, Bim. Oya, tolong siapkan tiket pesawat ke Kota xx untuk tiga orang. Jika bisa untuk penerbangan pagi. Aku tunggu kabarnya"


"..."


"Sekali lagi terimakasih, Bim. Segala urusan disini aku serahkan padamu. Aku percaya kamu dapat melakukannya. Aku butuh waktu untuk semua ini" ucap ayah Arini dengan suara gemetar. Matanya nanar menatap putri kesayangannya. "Dia belum sadar, bu?" suara ayah Arini ambigu. Tidak tau apa yang akan dikatakannya melihat putrinya masih nyaman dalam pingsannya. Sementara istri dan beberapa saudaranya sibuk menyadarkan Arini.

__ADS_1


"pak, ada yang mencari Arini. Katanya teman kampusnya" salah seorang kerabat menyembulkan kepalanya di pintu kamar memanggil ayah Arini. Ayah Arini bergegas keluar. Semua mata menatap punggung ayah Arini dengan berbagai pertanyaan.


"Selamat malam, Om Herman. Assalamualaikum.." ucap Evan sambil sedikit membungkuk. Matanya menyapu sekeliling, nampak banyak laki-laki sedang mengemas berbagai hiasan pesta dan melepas besi terop untuk dinaikkan ke mobil bak terbuka yang telah siap di halaman rumah Arini. Evan menarik nafas panjang menatap sedih ke arah ayah Arini.


"Selamat malam. Waalaikumsalam, nak Evan. Arini sedang shock dan masih belum sadar." pak Herman mengajak Evan masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa. Nampak ruangan tengah seperti tak pernah terjadi kegiatan apapun. "Kabar apa yang kau bawa?" pak Herman menatap Evan dengan suara yang bergetar. "Om yakin kamu sudah tau apa yang terjadi"


Evan menatap wajah ayah sahabatnya dengan prihatin. "Evan sebenarnya ingin mengatakannya pada Arini, Om. Tadi Evan lihat Pak Ahmad di bandara. Nampak dia terburu-buru...." Evan menelan salivanya. Menyeruak rasa prihatin yang mendalam terhadap situasi yang dialami keluarga Arini. "Evan sempat menanyakan pada pak Ahmad mengapa dia pergi bukankah esok hari yang telah disepakati. Namun, pak Ahmad tak memberikan jawaban dan bergegas mengejar penerbangannya" lanjut Evan dengan nada menyesal.


Setelah berbincang kesana kemari akhirnya Evan pamit, toh Arini juga belum bisa ditemui. Biarlah Arini mendapatkan ketenangan dulu, demikian pikiran Evan. Setelah berpamitan Rvanpun meninggalkan halaman rumah Arini yang telah mulai sepi.


"bagaimana keadaan Arini, bu?" tanya pak Herman ketika tangan bu Arini mengelus pundak suaminya yang baru saja duduk di sofa setelah mengantar Evan di pintu. "Sudah siuman. InsyaAllah dia akan baik-baik saja. Dinda dan beberapa sepupunya menemani" bu Liana duduk di sebelah suaminya.


"Mengapa Arini mau menerima lamaran Ahmad, bu?" pak Herman menatap mata istrinya dengan getir. Pak Herman memang jarang ada di rumah karena tugasnya di kota Provinsi, sehingga sebulan sekali barulah pulang ke rumah. Tapi selama itu komunikasi dengan anak dan istrinya selalu lancar. Apapun yang terjadi dala. keluarganya pak Herman tau. Bu Liana menggenggam tangan suaminya seakan meminta kekuatan dan kepercayaan. "Arini jatuh cinta padanya, pak. Dia adalah dosen mata kuliah sekaligus pembimbing skripsinya" bu Liana mengerjapkan matanya yang telah penuh dengan genangan air mata, "Aku kenal keluarganya. Irene adalah ibu dari Ahmad. Ayah tentu masih ingat Irene teman SMA hingga kita kuliah dulu" bu Irene tersenyum kecut.

__ADS_1


"Takdir memang tak bisa kita prediksi." ayah Arini menarik nafas panjang, dan memeluk istrinya dengan erat. "Kemasi barang-barangmu dan Arini. Kita akan mengambil penerbangan ke kota xx besok pagi jam 9. Tadi Bima sudah mengabariku."


Ibu Arinu menatap suaminya pasrah. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti apa yang diperintahkan suaminya. Jiam memikirkan rasa malu entahlah begitu besar rasa malu itu. Bagaimana tidak, acara telah siap, undangan telah menyebar. Arena acara telah siap tinggal digunakan saja. Apa kata orang diluaran sana dengan peristiwa malam ini. Kepala bu Liana sangat berat memikirkan semua ini, terutama perasaan putrinya. "Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan apa kata orang. Kita hanya perlu menerima semua ini dengan ikhlas dan memberi kekuatan baru pada Arini." tepuk pak Herman mengelus lembut pundak istrinya.


"Bersyukurlah tidak ada yang kurang dari outri kita. Mungkin hanya hatinya saja uang terluka sekarang. Hingga perasaannya tak bisa menerima semua ini. Tapi dia tetap putri cantik kita, bukan?" pak Herman tertawa getir sambil menggoda istrinya. Walau hati pak Herman sendiri geram bercampur sedih atas nasib yang menimpa keluarganya.


Malu. Sudah pasti. Tapi apa yang bisa ia lakukan??


"Kami mohon maaf pak Herman. Anak kami tidak bisa menikahi putri anda...!" itu kalimat dari utusan keluarga Ahmad saat datang jam 9 tadi. Kalimat yang terasa bagai runtuhan gunung menimpa seluruh keluarga Herman Widjaya. Alasannya sungguh diluar dugaan mereka. Herman menghembuskan nafasnya dengan kasar ke udara. Matanya nyalang menyapu setiap sudur ruang tamu.


Tuhan, Engkau tengah menyiapkan lorong indah untuk hambaMu ini. Cobaan ini hanya kecil dalam keluargaku, dan tuntun aku dan keluargaku untuk lebih dekat padaMu. Herman berbisik menguatkan hatinya.


❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2