
"Masuk dulu, mas Bima" Arini menerima kardus berisi barang-barang pribadi suaminya ketika telah membukakan pintu untuk Bima dan suaminya yang pulang bersamaan dari kantor.
Bima tersenyum kecil.
"Aku langsung pulang saja, Rin. Hari sudah sore. Oya, bapak kapan datang kesini?" Bima menanyakan ayah Arini yang dulu adalah atasannya langsung ketika di angkatan.
"Mungkin sehari sebelum keberangkatan kami, mas" Arini meletakkan barang suaminya di atas meja ruang tamu.
"Mas Bima..." Arini melongok ke halaman untuk memastikan suaminya masih berbincang dengan pak RT komplek yang kebetulan lewat.
"Ada apa?" Bima ikut melempar pandangan ke arah Ahmad.
"Masih ingat dengan mbak Irma?"
Bima spontan membeku. Raut wajahnya terkejut menatap Arini heran.
"Dari mana kamu tau tentang gadis itu?"
Arini tertawa tanpa suara.
"Bunda yang cerita. Mas Bima mau tau nggak mbak Irma dimana?"
Bima nampak membuang nafas kasar dan meletakkan barang yang dibawanya di dekat sofa.
"Aku tidak perlu tau tentang nama itu. Aku pulang dulu" Bima melenggang hendak keluar
"Yakin mas Bima nggak ingin tau? atau mas Bima gengsi untuk mencari tau?"
__ADS_1
Bima menghentikan langkahnya mendengar kalimat Arini.
Author tau nama itu adalah satu nama yang pernah bertahta di hatinya. 🤣🤣🤣
Dulu, yaaa dulu sekali ketika masih di kesatuan angkatan darat. Irma Suryani adalah salah satu pelatih di kesatuannya yang berpangkat Letda. Satu-satunya wanita yang membuat Bima jatuh cinta dan tak bisa beralih. Sayangnya, Letda Irma menolak cinta Bima karena masih ingin melanjutkan karirnya. Itulah salah satu alasan mengapa Bimasena mengundurkan diri dari angkatan darat kala itu.
"Tolong kabari jika bapak telah tiba di Jakarta. Aku ada perlu" Bima lalu melangkah tanpa menoleh lagi. Arini tertawa mencibir di belakang Bima.
"Dasar...kulkas" Arini berkata lirih sambil mengangkat barang-barang milik suaminya ke ruang kerja.
"Siapa kau sebut kulkas?" suara Ahmad mengagetkan Arini. Arini tersenyum kecil ke arah suaminya yang menatapnya dengan penuh tanya.
"Asisten abang" Arini jujur dan tak ingin menimbulkan kesalahpahaman.
"Hmmm..." Ahmad bergumam tak ingin menanggapi.
Arini tersenyum kecil. Sikap manja suaminya akhir-akhir ini sangat berlebihan. Wajah Ahmad telah bertopang di pundak istrinya.
"Rambutmu wangi, sayang. Pakai shampo apa sih?"
"Pakai shampo hamil, bang" canda Arini yang di balas dengan gigitan oleh suaminya di pundak Arini.
"Awww...iiih, abang. Sakit" Arini cemberut dengan ulah nakal suaminya. Ahmad tertawa menggoda istrinya.
"Nanti malam kita jalan-jalan yaaa..." Ahmad kini berhadapan dengan istrinya. Diciumnya kening istrinya sesaat.
"Tumben ngajak keluar" Arini menatap suaminya tak yakin.
__ADS_1
"Ck. Kamu selalu tak percaya dengan kebaikanku. Jalan-jalan terakhir di kota kita sebelum besok dan lusa kita persiapan berangkat"
"Baiklah. Ide bagus juga. Mungkin di tempat yang baru aku akan sangat rindu dengan kota di negaraku sendiri" Arini membaringkan tubuhnya di ranjang. Ahmad mengikuti istrinya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Ahmad meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan penuh kehangatan. Arini membalas genggaman tangan suaminya.
"Sayang, kau tidak perlu takut. New York adalah kota kelahiran Papa. Disanapun banyak keluarga papa dan ada beberapa yang menikah dengan orang Indonesia. Ada perkumpulan warga Indonesia, kita bisa berbaur disana menghilangkan rindu pada makanan ataupun kesenian negara kita" Ahmad meyakinkan istrinya.
"Bagaimanapun aku belum pernah sejauh itu pisah dari mama dan ayah, bang. Tapi aku insyaAllah tidak khawatir bukankah abang akan selalu ada bersamaku?"
"Tenanglah. Nanti sesekali mama dan ayah akan mengunjungi kita di sana"
"Papa dan bunda?" Arini berbaring menyamping menggeser letak tubuhnya hingga menatap wajah tampan suaminya dengan leluasa.
"Itu kampung halaman mereka. Kapanpun papa dan bunda mau, mereka pasti akan ada di sana. Untuk beberapa bulan ke depan papa akan mendampingi mas Bima menjalankan perusahaan yang aku tinggalkan. Nanti kalau kehamilanmu sudah agak besar, baru aku akan kembali ke Indonesia untuk sesekali turun ke perusahaan dan mengisi jadwal perkuliahan di kampus XX"
Ahmad mengelus lembut perut Arini yang masih rata. Arini tersenyum geli dan bahagia.
"Tugasmu hanya menjaga dia dan mendampingi aku. Jika kau bosan katakanlah tak perlu sungkan. Banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan nanti di sana"
"Apa keponakan lucu mu masih di sana?" Arini mengingat wajah lucu bermata biru yang saat itu muncul di layar ponsel ketika melakukan video call.
"Namanya Ibra, sayang" Ahmad mencium bibir istrinya gemas. "Dia pindah ke Queensland. Nanti kita bisa berkunjung kesana"
Arini tersenyum senang. Setidaknya dia tidak terlalu merasa sepi di kota sebesar New York.
...🌷🌷🌷🌷
__ADS_1