
Menjelang sore Arini menelpon dokter keluarga untuk datang memeriksa suaminya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Mas Bima, bisa minta tolong panggilkan dokter Lucky sore ini?" Arini menghubungi tangan kanan suaminya lewat telpon.
"Siapa yang sakit, bu?" suara Bima diujung telpon terdengar khawatir.
"Suamiku" Arini menatap wajah suaminya yang terpejam dan terlihat pucat. Mata dengan bulu lentik itu bergerak tak tenang. "Kalau bisa segera ya, mas Bima?"
"Oh, baiklah, bu..dalam 20 menit saya pastikan dokter Lucky sudah di rumah ibu" ucapnya sopan. Yaaa...jelas saja dalam 20 menit sampai karena tempat praktek dan rumah dokter itu kan tidak jauh dari perumahan yang ditinggali oleh Arini dan Ahmad.
Ting...tongg...ting...tongg...
Bel rumah berbunyi nyaring. Arini melangkah keluar rumah untuk membuka gerbang rumahnya. Nampak di pintu gerbang yang terbuka dokter muda Lucky tersenyum mengucap salam di belakangnya Bima berdiri dengan wajah khawatir.
"Silahkan masuk, dokter" Arini memberi jalan pada dokter muda itu.
"Silahkan, bu. Biar saya yang menutup gerbang" Bima menunduk mempersilahkan istri atasannya untuk mengantar dokter Lucky.
"Terimakasih, mas Bima" Arini tersentum kaku. Bima menarik nafas melihat istri atasannya berjalan meninggalkannya yang masih memegang ujung pintu gerbang. Arini terlihat cantik namun agak kurus. Apakah suaminya yang pencemburu itu benar-benar membatasi gerak langkah perempuan cantik yang menjadi istrinya itu?. Bima mengenal baik sosok Arini sejak dia menjadi ajudan ayah Arini ketika bertugas di kota J.
Rasanya tidak percaya, gadis cantik periang, cerdas, dan sangat senang berorganisasi itu tiba-tiba menikmati menjadi istri rumahan dari seorang Ahmad. Hhhhhh...komitmen cinta memang luar biasa. Bima menggelengkan kepalanya kagum dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dokter Lucky nampak mengeluarkan alat telinya untuk melakukan pemeriksaan secara detil pada Ahmad yang masih terbaring dengan wajah pucat.
"Apakah kau sering melalaikan makan siangmu, sarapan, atau makan malam?" tanya dokter Lucky pada Ahmad yang tergolek lemas.
__ADS_1
"Tidak. Aku makan dengan waktu yang teratur. Tapi memang beberapa hari belakangan ini aku sangat padat dengan jadwal kantor dan kampus" suara Ahmad pasrah.
Ingin rasanya Bima menggetok kepala atasannya yang terasa suaranya sangat manja dan dibuat-buat.
"Aku rasa lambungmu aman-aman saja. Mari kita periksa bagian lain" dokter Lucky melakukan peneriksaan pada bagian lain termasuk mata, mulut, dan suhu tubuh. Dokter muda itu melepaskan alat teli dari telinganya. Dan tersenyum tenang.
"Suamimu tidak apa-apa, Rin" dokter Lucky tenang dan bersuara lembut.
"Ck...lakukan pemeriksaan ulang" ketus suara Ahmad tak suka melihat dokter Lucky yang berbicara menatap Arini.
Dokter muda dan tampan keturunan Tionghoa itu adalah sahabat dekat Ahmad semasa kuliah dengan jurusan berbeda. Dokter muda itu memahami kejesalan Ahmad yang pencemburu.
"Bawa istrimu ke rumah sakit besok pagi, biar aku memeriksanya dengan teliti"
Ahmad melotot dengan raut membeku.
"Ck...dasar posesif" dokter Lucky mencibir melihat raut wajah sahabatnya itu. Bima yang duduk di sofa dekat pintu hanya tertawa tanpa suara melihat interaksi antar sahabat yang berusia muda itu.
"Apa yang kau tertawakan?" ketus Ahmad melempar bantal kecil ke arah Bima orang kepercayaannya.
"Abang..." Arini menegur suaminya yang terlihat sensitif dan berlebihan.
"Aku hanya mendiagnosa untuk sementara kemungkinan besar keadaanmu ini karena ada perubahan dalam tubuh istrimu" bisik dokter Lucky pelan. Ahmad mengerutkan alisnya bingung.
"Jangan muter-muter. Bisakah kau menjelaskannya dengan sederhana" Ahmad menyandarkan tubuhnya di dashboard tempat tidurnya. Arinu membantu suaminya bersandar sambil meletakkan bantal di ounggung suaminya.
__ADS_1
"Bisanya di dunia kedokteran ini di sebut kehamilan simpatik. Dimana situasi kekhawatiran yang berlebihan pada istri sehingga suami juga merasakan apa yang seharusnya istrinya rasakan di saat awal kehamilan. Bisa juga hal ini karena karma" dokter Lucky menekan kata terakhirnya dan segera menjauh dari Ahmad.
"Maksudmu apa, hah?" Ahmad antara sadar dan tidak yakin, serta tak suka dengan kalimat terakhir sahabatnya yang serasa menohok sifat cemburunya yang berlebihan.
Dokter Lucky tertawa terbahak sambil berdiri dekat ointu tak jauh dari Bima.
"Sayang, aku baru ingat kapan terakhir kau kedatangan tamu bulanan" tanyanya berbisik di telinga istrinya sambil menatap tajam dua orang laki-laki yang sedang berbincang dengan suara pelan dekat pintu kamarnya.
Arini terkesiap. Ahhh...mengapa dia baru sadar tentang hal itu. Tapi tidak mungkin...sudah hampir setahun pernikahannya dan harapan itu terasa semakin jauh tak pernah lagi di pikirkannya.
"Aku rasa besok pagi kita harus ke rumah sakit bertemu dengan dokter obgyn untuk memastikan diagnosa dokter Lucky, sayang" Ahmad menatap istrinya dengan binar bahagia.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Minum obat yang aku berikan. Jangan manja, masa iya laki-laki kekar sepertimu jadi layu dan melow" doktr Lucky meraih tas prakteknya hendak keluar mengikuti Bima.
"Aku harap suatu hari kau akan merasakan apa yang aku rasakan bahkan lebih" doa Ahmad sinis menatap punggung sahabatnya yang hanya dibalas dengan lambaian tangan dan seringai nakal.
Arini menatap suaminya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Jangan terlalu berharap, bang. Aku takut kita kecewa. Dan aku takut mengecewakanmu, juga orang tua kita" suara Arini pelan sambil meraih tangan suaminya dengan lembut.
Ahmad menyapu pipi istrinya dengan pelan dan penuh cinta.
"Semangat, sayang. Kita cuma memastikan saja. Siapa tau diagnosa dokter itu salah. Maka, ada alasan aku menjatuhkan harga dirinya sebagai dokter yang lulus dengan cumlaude" Ahmad menyeringai jahat. Arini tersenyum sendu.
Ahhhhh...rasanya dia takut sekali berharap lebih. Takut kecewa...
__ADS_1
...semoga suka, Readers❤❤❤