
Pukul 12.15 Mahasiswa Fakultas Ilmu Pemerintahan semester akhir berhamburan keluar. Arini dan Melda berjalan beriringan sambil berbincang ringan seputar persiapan akhir semester. "Rin, Minggu depan jangan lupa kegiatan amal di kota xx. Jangan lupa jadwal kegiatan kamu persiapkan. Jangan lupa!" Ardian ketua kelas fakultas menekankan Arini kebiasaan buruknya sambil tertawa ringan. "Iya...takut amat" balas Arini santai.
"Rin, jadwal yudisium jangan sampai bertabrakan dengan kegiatan rapat organisasi kita, yaaa..." pesan Fatih ketua organisasi mahasiswa kampus. "Besok kita kumpul di tempat biasa. Ingat, jangan sampai lupa" tawanya membahana sambil pergi. Arini mencebik mengingat sifat lupanya yang tak oernah berubah. Sebagai sekretaris organisasi kampus rasanya Arini menjadi orang yang paling sibuk. "Aku pulang lebih dulu ya, Mel. Ada sedikit urusan." pamit Arini pada sahabatnya. Karena biasanya mereka akan pulang bersama. Melda mengangguk mengerti dan melambaikan tangannya menuju mobilnya di parkiran.
Arini menatap jam di pergelangan tangannya. Lima menit lewat dari waktu yang ditentukan okeh Sang Dosen anehnya. Namun, Arini tetap santai. Toh, keterlambatannya bukan disengaja pikir Arini ringan. Matanya menyapu ruang restauran yang ramai dengan pengunjung, karena saat makan siang.
__ADS_1
Rata-rata pengunjung restaurant ini adalah para karyawan perusahaan, pengusaha, dan pejabat. Terlihat dari cara berpakaian dan tampilan mereka. Dengan hati berdegub dan gelisah Arini melangkah masuk sambil mencoba mencari sosok Ahmad sang dosen. "Mbak Arini, yaa?" sapa waitres yang tiba-tiba mendekati Arini. "Iya. Eh..." Arini gugup dan bingung. "Mari saya antarkan ke ruangan pak Ahmad" ajaknya sopan sambil membungkukkan badannya sedikit. "Terimakasih..." Arini tersenyum dan mengikuti sang Waitress menuju sebuah ruangan yang telah di pesan oleh Ahmad.
"Assalamu'alaikum. Selamat siang, pak" sapa Arini pada sosok dosen yang duduk membelakanginya. Ahmad bangun dan tersenyum manis melihat ke arah Arini. "Ah...Arini, silahkan duduk." Ahmad menggeser tissu di meja ke hadapan Arini "Rileks saja. Aku ingin kita berbicara dalam suasana yang santai" Ahmad mencoba membuat suasana nyaman untuk mereka berdua.
Ahmad menarik napas panjang, dan membuangnya dengan kasar. "Berapa umurmu?" Ahmad membuka percakapan sambil mengaduk jus di depannya. Arini melototkan matanya, lalu segera menyipitkan ujung matanya dengan curiga. "Kenapa bapak tanya umur saya. Bapak jangan macam-macam, ya" Arini mulai berpikiran aneh. Jangan-jangan Ahmad akan membawanya ke paranormal atau dukun untuk sesuatu seperti yang di dengarnya dari beberapa temannya di kampung saat berkunjung ke kampung neneknya. Arini bergidik.
__ADS_1
"Heh, buang jauh-jauh pikiran magismu. Aku laki-laki yang berahlak baik dan tampan." Ahmad melempar tatapan kesal. 'ihhhh...tuh kan dia tau apa yang aku pikirkan' bisik hati Arini. "Bapak adalah dosen saya. Jangan muji diri sendiri, pak. Belum tentu orang lain sama pendapatnya tentang bapak" Arini mematahkan keangkuhan Ahmad. Ahmad tersenyum lebar. "Tetap saja aku tampan" bangganya dengan senyum yakin tingkat tinggi.
"Rin, sebenarnya aku ingin melamarmu. Apakah kau punya pacar?" Ahmad menyeruput jusnya sampai setengah. Arini tersedak, dan terbatuk-batuk menatap tajam ke arah Ahmad.
❤❤sarannya ya Readers🙏🙏🙏
__ADS_1