ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Cerita Setulus Hujan 1


__ADS_3

Setiap akuu bercermin, keindahan subuh masih membayang dalam pelangi mataku. Ketika langit subuh masih menyelimuti Lembah Kuantan, bulan sebentuk sabit menggores dalam wajah anak sungai. Arus Sungai Kuantan yang tunak membuat bayangan bulan di permukaannya bergelombang, sampai perahu nelayan datang, bayangan bulan terbelah jadi dua, hanyut oleh perahu nelayan yang mendulang rizki diantara dua jembatan.


Ayah telah membelikan aku motor.


Di akhir masa SMA, ayah membelikan aku sepeda motor. Tidak seperti anak- anak bujang orang lain yang telah lama di belikan ayahnya sepeda motor, aku tidak pernah mendapatkannya sebelumnya. Dan aku tidak pernah meminta pada ayah, aku tahu kondisi ekonomi ayah, seorang pegawai negeri yang akan pensiun muda. Oleh karena itu kalau ada


kegiatan sore di sekolah, dan oplet antara dua kota tidak lagi beroperasi maka tinggallah aku di halte SMA, terakhir dan seorang diri, duduk menunggu ayah datang menjemputku. Aku menanti bayangan ayah, memandang ke arah mudik. Aku menanti bayangan ayah dengan motor tuanya. Ayah menjemputku.


Masa- masa SMA tak lama lagi usai kalau saja aku melewati tembok terakhir, tembok ujian nasional tahun 2008. Ujian nasional yang perdana dengan 6 ujian mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, ditambah dengan mata pelajaran IPA, Biologi, Kimia dan Fisika dari jurusan IPA, UN lebih menghebohkan  dari tahun lalu. Berbagai strategi diatur oleh masing- masing yang terlibat. Mulai dari masa persiapan, les sore,


terobosan pada bimbingan belajar, belajar bersama di rumah kawan. Sampai strategi di hari H, yang halal dan yang haram. Cara yang benar dan cara yang


tidak dibenarkan.


Dan masa- masa SMA akan segera berakhir, tak lama lagi.


SMA adalah tempat belajar. Tempat tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk membentuk karakter kita sekarang ini. Di SMA kita menerima pelajaran dari


pukul 7:30 WIB sampai 14:00 WIB, selama enam jam lebih belum termasuk waktu perjalanan ke sana. Bulatkan saja dahulu enam jam, maka kita telah menghabiskan seperempat waktu yang  diberikan Tuhan dalam satu hari. Kemudian waktu kita tidur, rata- rata anak SMA tidur pada jam 10 dan


bangun jam 4, bulatkan saja enam jam maka tersisa 12 jam yang dapat digunakan untuk kegiatan lain diselanya. Waktu yang tersisa itu adalah waktu pukul 15:00 WIB sampai pukul 18:00 WIB, artinya dari ashar sampai maghrib, selebihnya adalah waktu belajar di sekolah. Sebagian besar waktu kita habiskan disini, di SMA.


Aku suka Pelajaran Biologi karena  aku belajar di jurusan IPA, di jurusan ini aku belajar ilmu- ilmu tentang alam. Tentang ciptaan Tuhan di hamparan bumi, yang menjadi media pembelajaran atas segala hikmah yang ada pada mereka, misalnya materi, segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang. Adajuga sesuatu yang tidak mempunyai massa namun juga menempati ruang,


kadangkala ruang dalam hati manusia, itulah makhluk yang tidak tampak oleh mata yang hadir dalam perwujudan energi. Namun ada pula makhluk yang tidak mempunyai massa dan tidak mempunyai ruang, dia dapat menyusut dan mengembang tapi tak


pernah habis karena dialah yang menghabiskan apa yang ada kecuali yang mengadakannya, kamu tahu apakah makhluk itu?


Dia adalah waktu, makhluk yang tak pernah habis, yang habis  adalah kesempatan yang diberikan oleh waktu kepada kita untuk mengubah masa depan. Karena waktu adalah makhluk yang patuh

__ADS_1


kepada penciptanya, ia tidak pernah kembali, kecuali kamu memohon kepada Sang Pencipta waktu untuk mengembalikannya, bisa jadi. Kalau dapat demikian, aku nanti akan berdoa agar waktu dapat kembali lagi, memberikan kesempatan kedua untuk mengubah takdir, kembali ke masa SMA untuk belajar kembali, bila hari esok tak seperti yang aku mau.


Dalam masa SMA aku banyak mengorbankan waktu bermainku untuk belajar. Disaat teman- temanku


bermain bola, disaat mereka berpacaran, disaat semua melewati hari- harinya dengan bersuka ria. Aku justru melewatinya dengan penuh perjuangan dalam pendidikan karena terobsesi ingin membawa kehidupan keluarga menjadi lebih baik. Aku tidak punya waktu melakukan hal lainnya demi mewujudkan cita- citaku.


Cakram matahari perlahan- lahan melenyapkan dingin dalam kandungan udara. Sinarnya


bagai anugrah yang menjelmakan kabut menjadi embun. Aku menembus rimbun embun


dalam perjalanan ke sekolah, pelita masa depanku. Bagiku, sekolah bagaikan sinar yang mengubah susah, duka, dan luka dalam kabut hidupku menjadi embun masa depan yang bening dan menyejukkan.


Ini hari terakhir akuke sekolah. Hari kelulusan. Ini adalah hari terakhir aku memakai seragam purih


abu- abu SMA. Ini adalah hari terakhir yang aku hitung setelah aku pindah sekolah dahulu. Ini adalah hari yang dituju ketika aku melemparkan topi toga ke


atas langit di SMA di Atas Bukit dahulu.


hari pertama dengan ceremonial penendangan tukang ekor saat MOS di SMA di Atas Bukit dulu. Aku datang ke sekolah untuk yang terakhir. Ada suasana sendu di acara perpisahan sederhana kami. Kami anak kelas tiga terdiam merenungi apa


yang telah terjadi selama tiga tahun yang singkat ini. Kami merenungi apa yang akan terjadi untuk tahun- tahun yang akan kami jalani setelah masa SMA  berlalu. Kami akan pergi. Kami akan berpisah.


Teluk Kuantan selamat tinggal. SMA selamat tinggal. Bapak Ibu guru selamat tinggal. Kawanku selamat tinggal. Kami akan pergi. Aku akan segera pergi.


***


 Kami seluruh murid kelas tiga berjejer, bersalaman dengan para guru kami, malaikat ilmu, ditengah lapangan sekolah. Membentuk sebuah lingkaran. Kami berotasi bersalaman sambil melantunkan lagu persembahan abadi. Hymne Guru.


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

__ADS_1


Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku


Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku


Sebagai prasasti terima kasihku


Tuk pengabdianmu


Engkau sebagai pelita dalam


kegelapan


Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan


Engkau patriot pahlawan bangsa


Tanpa tanda jasa


Air mataku jatuh, begitu juga guru- guru kami. Mereka adalah ayah dan ibu kami di


sekolah, air mata nya lebih dahulu jatuh dalam salam terakhirku. Terima kasih Ibu Guru. Terima Kasih Bapak guru. Aku tulis secarik puisi dalam lautan hatiku.


Selamat tinggal Teluk Kuantan Rinduku


Aku akan pergi


Jauh


***

__ADS_1




__ADS_2