
Dalam sebuah petualangan perjalanan pulang lebih melelahkan dari pada perjalanan datang.
Kembali lebih melelahkan dari pada pergi.
Selepas SNMPTN berakhir. Aku dan Adi tidak ada rencana lain untuk masa depan kami. Yang kami
tahu ketika itu hanyalah kuliah dan tes masuk perguruan tinggi negeri. Tidak ada rencana masuk angkatan bersenjata, atau sekolah kedinasan, atau masuk universitas universitas swasta, tidak
ada. Sebelum jelas hasil SNMPTN yang akan diumumkan 1 Agustus 2008 melalui
internet dan media massa, aku belum bisa mengambil keputusan hanya menunggu
disertai doa dalam malam- malam menjelang 1 Agustus, doa 30 malam.
“Mak. Bantal ditinggalkan saja …” Aku meminta pendapat Emak melalui telepon. Sementara Adi
sibuk mengikat barang- barangnya dalam sebuah kardus bekas, selain itu Adi juga mengemas Ransel, dan satu buah teko pemanas air. Water Hitter nama pemanas air itu. Adi membelinya seharga Rp
25.000,00. Alasannya, dia terbiasa minum teh di pagi hari. Kalau tidak melakukan kebiasaanya tersebut kepalanya pusing seharian.
“Jangan ada yang ditinggalkan. Semua barang yang dapat dibawa. Dibawa pulang.” Begitu pendapat
Emakku.
“Baiklah Emak. Huff”
Apapun pendapat Emak aku tidak dapat menolaknya lagi. Dari pada menjadi kenangan setelah jauh nanti. Lebih baik dibawa pulang.
Akhirnya barang- barang yang akan aku bawa pulang lebih banyak dari pada Adi. Buku- buku bimbingan
belajar telah aku masukkan ke dalam kardus. Selimut juga aku tumpuk disitu. Aku tekan agar padat. Kompor minyak telah kami kembalikan kepada ibu kos. Galon isi ulang dan sapu lantai kami sumbangkan kepada tetangga. Kalau tidak malu Adi juga berencana menjualnya dengan harga murah. Lumayan ongkos Balik Kampung.
Adi telah selesai berkemas. Tinggal aku sekarang. Aku berusaha memasukkan bantal pada kantong plastik, akhirnya berhasil juga. Sandal jepit, tidak boleh ditinggalkan juga, aku ingat pesan Emak, bawa pulang. Aku menyelipkannya di kantong plastik.
Aku berdiri. Sebuah ransel sanggam di punggunggu. Tangan kananku menggenggam tas yang isinya baju-
baju. Tangan kiriku menenteng kotak yang isinya buku ditambah selimut. Tinggal bantal dimana aku akan meletakkannya. Tanganku hanya dua.
“Kesini…” Adi mengulurkan tangannya kepadaku. Ia telah berdiri, siap berangkat. Bawaannya
hanya ransel, kardus, dan sebuah kantong plastik berisi teko pemanas. Ia mengulurkan bantuan kepadaku membawakan bantal. Kantong plastikku yang berisi bantal bisa digenggam bersamaan dengan kantong plastik miliknya.
__ADS_1
“Terima kasih Teman”
Balasku. Aku ingat saat pertama datang dahulu. Dalam bus aku mendapatkan bangku
lebih dahulu setelah berdiri lama. Segera aku membagi bangkuku dengan Adi. Kami
berdua duduk satu bangku. Berbagi dalam kesemputan, senasib sepenanggungan dan
seperjuangan.
“Siap” Perintahnya.
“Yok !” Balasku.
Setelah kami menyerahkan kunci pada ibu kos, berpamitan, dan saling meminta
maaf, entah kapan akan bersua lagi. Kami melangkahkan kaki pulang kampung.
Kembali berbalik, berjalan kaki sepanjang dua kilometer lebih melewati pasar Raya Padang dengan jinjingan yang lebih berat saat datang. Kami berjalan menuju pangkalan oplet kemudian terus ke pangkalan bus antar kota antar provinsi.
Aku dan Adi berjalan dengan beban yang berat namun penuh semangat. Tidak ada rasa malu apalagi gengsi melewati keramaian walau beberapa mata melirik kami. Mata- mata itu tahu
bahwa kamilah anak kampung selepas berjuang SNMPTN. Inilah kami pejuang SNMPTN.
tengah kerumunan. Aku terhenti.
“*Kenapa ?” Tanya Adi.
“Lanjutlah dahulu …”
Aku berhenti.
“Yang semangat, oplet
tidak jauh lagi Liel” Kata Adi.
“Sebentar”
“Jangan lama ya. Aku
tunggu disana*” Pesan Adi. Ia mengira Aku berhenti karena kelelahan, Istirahat
__ADS_1
sebentar. Tapi tidak. Aku berhenti karena melihat lelaki yang menatapku dalam
keramaian. Lelaki itu lesehan diatas kardus di tepi jalan di antara para pedangang. Ia berpantun- pantun sembari menggesek rebab, alat musik tradisional.
Pantun- pantun itu syahdu, membuat hati terhiba. Lelaki itu pengemis. Ia tidak memiliki kaki.
Aku mendekati lelaki itu. Kata Ayah “ Bersedekah akan membuat kita jauh dari musibah”. Bagiku kegagalan adalah sebuah musibah. Aku
merogoh kantongku. Disana masih ada uang yang tersisa. Aku menyerahkannya pada
telapak tangan lelaki pengemis tanpa kaki itu.
“Doakan aku …” Bisikku lirih. Aku pulang kampung dengan uang seadanya. Lalu aku pergi bergegas membawa barang- barangku. Aku bergegas mengejar Adi yang telah menunggu di dekat oplet.
“Cepat Masuk !!”
Perintah Adi. Ia memintaku masuk lebih dahulu ke dalam oplet. Ia memilih masuk
belakangan karena barang bawaan kami banyak. Jadi lebih mudah untuk keluar oplet nanti.
“Siap SPMB Nak?” Tanya seorang Bapak di dalam oplet itu juga.
“Iya Pak ! sekarang SNMPTN namanya”
“Cepat bana pulang kampung ? Tak ada ikut yang
lain” Tanya bapak itu ulang.
“Tidak ada Pak. Kami hanya ikut Tes Perguruan Tingggi Negeri.”
“Cobalah ikut STAN.”
Sarannya.
“Banyak yang ikut nanti” Tambah Bapak itu.
Aku dan Adi berpandangan. Kami tidak tahu apa itu STAN. Sekolah STAN belum popular di
kampung kami.
“Tidak Pak …” Aku dan Adi
__ADS_1
menjawab bersamaan dan menggeleng serempak.