
1 September 2009 Setelah Zuhur.
“Tunggu Liel. Dani pergi ke Kantor Pelayanan Pajak dulu …”
Jawab Teuku Dani di Telepon. Aku menelepon Teuku Dani untuk memintanya melihat
pengumuman STAN yang ada di Kantor Pajak di depan rumahnya.
Tak lama kemudian. “Teet !!!” Ada telepon masuk dari Teuku Dani. Aku gugup mengangkatnya.
“Liel cepat telpon Dani !” Jantungku berdebar- debar. Ada kabar yang akan aku sampaikan kepada Ayah dan Emak. Kabar semacam apa nanti yang akan aku sampaikan.
Aku di rumah di Teluk Kuantan dan Teuku Dani di kantor pajak Banda Aceh. Ada jarak ribuan kilometer
memisahkan kami. Aku dengan hati jenuh dan cemas menunggu pengumuman kelulusan.
Aku menelepon balik Teuku Dani yang tengah berada di seberang sana, di Kantor Pajak Banda Aceh.
Pengumuman STAN yang telah sekian lama aku menunggunya akan kudengar dari Teuku Dani. Harapan untuk kehidupan esok yang cerah seperti kehidupan Pegawai Pajak Departemen Keuangan yang aku lihat saat pendaftaran STAN. Harapan untuk menganti air mata ayah, mengembalikan
kebahagiaan ayahku, sebentar lagi takdir akan diberitakan Tuhan kepadaku.
Jauh lebih gugup dibandingkan pengumuman SNMPTN setahun lalu karena ini adalah harapan dari sempitnya pintu kesempatan yang terbuka
bagi kekuranganku. Aku tersiksa oleh kegugupan ini, namun ini harus diakhiri.
Aku harus siap menerima apapun keputusan Tuhan.
Cepatlah Liel. Aku keluar rumah. Sinyal handphone terputus- putus. Aku tidak ingin mendengar suara yang terputus karena bisa jadi menimbulkan kesalahpahaman. Ini begitu penting.
Sabar Teuku Dani. Aku mendaki bukit dahulu.
Aku berlari mendaki bukit di belakang rumah. Sesampainya disana, angin berhembus mendinginkan perasaanku. Aku merentangkan tangan ke atas, berputar- putar mencari jaringan
terbaik. Tepat dibagian yang lapang di sisi jurang , aku menemukan posisi terbaik. Dari posisi itu terhampar hamparan sawah dan aliran Sungai Kuantan yang berkelok- kelok laksana ular
kehidupan. Air terus mengalir bagaimanapun berlikunya perjalanan arus. Aku sudah siap seperti aliran air di bawah sana. Aku menekan tombol panggilan masuk. Menelpon balik ke nomor yang sama, Teuku Dani.
__ADS_1
“SSSalam, Teuku Dani.”
“Liel jangan sedih ya ?...janji jangan sedih.“
“Ya...Aku tidak akan sedih. Bagaimana Dani ?”
“Tidak lulus Liel…”
“....hhh” Air mataku
mengalir turun. Cucur seperti kran yang terlepas sumbatnya.
“Liel kamu menangis?”
Aku diam, lalu Teuku Dani melanjutkan kata- katanya.“jangan nangis ..., orang disini ketawa aja tidak lulus, senang senang saja pun” Teuku Dani berusaha menghiburku. Dia seperti menepuk nepuk hatiku dari jauh sana memberikan
semangat.
“...” Aku masih saja diam. Tak mampu berkata apa- apa. Air mataku jatuh cucur, juga ke dalam hidung,
menyerakkan suara. Bumi yang kupijak terasa melunak, langit dan awan- awan jatuh bebas laksana terlepas dari gantungan Tuhan. Aku jongkok, terduduk di pinggir jurang.
menyenangkan hati. Dari awan yang bergumpal- gumpal itu dalam lubuk khayal akal terpandang beragam wujud. Kadang gumpalan itu membentuk gambaran wajah ayah, dan sebagian yang terpisah dari gumpalaannya membentuk gambaran wajahku.
Semakin bergerak di tiup angin, aku melihat sesosok anak- beranak berjalan satir, melintasi keramaian jalan di depan Masjid Raya Banda Aceh. Aku seperti
melihat mereka dari puncak langit, dari atas bumi dimana aku terduduk.
Hidup mesti berlanjut.
Tidak boleh bersedih. Aku harus kuat. Kalau aku bersedih Ayah dan Emak juga akan
bersedih. Mereka tidak boleh menangis lagi. Dan tidak boleh ada air mata.
Setelah sesampainya di rumah aku kabarkan pada ayah dan emak bahwa aku tidak lulus. Aku gagal. Ayah dan emak menarik napas dalam. Udara yang masuk ke dalam dada membesarkan jiwa. Jiwa harus tegar, maka merenunglah kami bertiga pelan
pelan perlahan-lahan mengambil sebuah keputusan.
__ADS_1
Aku memasukkan barang – barang dan pakaian-pakaian ke dalam tas kopor berwarna
merah. Besok hari aku akan bertolak ke Pekanbaru. Aku akan memulai hidup baru di sana. Kebetula aku lulus SNMPTN di Unversitas Negeri di Pekanbaru. Tiba- tiba ketika aku mengemasi barang ada kotak yang tergeletak. Aku memberikannya
pada ayah, ini kotak dari Bang Sahim. Ayah membukanya. Isinya sebuah souvenir bertuliskan “Semoga Sukses” untukku. Tulisan itu di tulis di atas kaca dengan pemandangan lautan yang indah.
“Ini dimana ?” Tanya Ayah.
“Lamreh … Yah.”
***Apa daya cinta
Di langit Tuhanlah Penentu
Ketika takdir berkata
Apa daya cinta
Cinta tak berdaya
Meski langit tersentuh
Dan bumi pun menghiba
Apa daya cinta
Setiap anak manusia sudah memiliki
kisahnya
Menjalani kisah dengan tabah pasti
berakhir indah
Maka cinta harus kuat***
Karena cinta harus kuat
__ADS_1