ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Sembilan Belas 1


__ADS_3

Ditahun-tahun yang sulit membesarkan kita, ayah selalu punya jalan yang optimis. Ia punya


punya cara tersendiri untuk yakin setelah gelap yang pekat, subuh akan segera tiba. Tapi kita kadang terlambat untuk memahami ….


(Tarbawi,


Ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kita)


Mimpi itu datang lagi.


Mimpi beberapa tahun lalu saat kisah pilu di SMA di Atas Bukit.


Suara gemuruh seantero langit membuatku bangkit dari ketertegunan. Entah mengapa aku tiba-tiba kembali berada di atas geladak kapal yang begitu luas. Lalu kembali terdengar suara


gemuruh panjang laksana sangkakala, yang disusul tiupan angin yang mendesir di hamparan samudra. Angin kencang itu menggoyahkan kapal.


Aku oleng. Sebelum terjatuh, badanku terhempas pada orang yang berada disampingku. Aku berusaha


berpegangan padanya, namun kami berdesakan, di kapal ini ada ribuan orang. Sama seperti dahulu.


“Akkhh !!!” Suara itu begitu panjang. Itu bukan gemuruh guruh yang biasa ku dengar di musim badai. Itu suara sangkakala di atas cakrawala. Nun jauh di atas langit sana, Aku melihat satu titik kecil, sebentuk kerucut yang memusing semakin cepat dan semakin dekat, membuat pusaran angin. Pusaran itu mengundang gelombang- gelombang angin


mendekati bahtera dimana aku berada.


“Akhh Tuhan.” Aku pasrah. Guncangan ini begitu kuat. Dan bahtera pun tak sanggup bertahan dari


pusaran angin dari langit. Sisi kanan kapal melonjak, naik melebihi anjungan. Kapal raksasa ini tenggelam perlahan-lahan.

__ADS_1


Aku terpeleset. Ribuan orang tumpah ke sisi kiri kapal, sebagian manusia- manusia lainnya jatuh ke


laut. Begitu juga dengan diriku, jatuh ke laut bersama ribuan bahkan jutaan manusia- manusia dalam bahtera ini jatuh ke dalam lautan. Lautan sebentuk lautan cahaya.


“Akkhhhh!!!”


“Akhhh ! blup…” Aku tenggelam. Aku menggapai-gapai. Aku berada di permukaan lautan kembali gelombang yang naik turun membuat tukuhku naik turun. Menjelang pada menunggu


naibku seperti kapal bahtera yang lebih dahulu menuju dasar bumi. Aku mesti berjuang. Dimana ada kehidupan disitulah ada harapan.


Aku menggapai- gapai, aku berpegang pada satu benda keras dan memanjang. Benda itu bukan sesosok tubuh. Sebuah potongan kayu yang mengapung. Aku memeluknya.


Perlahan-lahan aku bergerak ke permukaan. Aku diam dan sabarkan hati, mencari titik keseimbangan


kayu potongan kayu, patahan dari perahu. Aku telah berada tenang diatas perahu yang tidak utuh itu. Aku telah mengambang di permukaan lautan. Aku melihat apa-apa yang ada disepanjang pandangan mata. Lautan beriak-riak kecil. Sejauh mata memandang tidak tampak kapal dan pulau. Tidak tampak jutaan orang yang mengapung- apung, orang yang telah tenggelam bersamaku tadi telah hilang,


tenggelam ke dalam lautan cayaha.


Aku mengibas-ngibaskan riak lautan. Aku mendayung perahu yang tidak utuh menuju sang matahari yang


tenggelam dalam lautan cayaha. Aku hanya bersama matahari di lautan cahaya.


Perlahan- lahan mataku terbuka. Aku melihat berkas cahaya, yang ternyata berasal dari lampu kamar. Aku


tidak berada di lautan. Aku bermimpi. Dan telah bangun dari tidurku.


Mimpi yang sama.mimpi yang memiliki sambungan dari mimpi yang pernah aku alami di tahun- tahun lalu. Apakah makna dari mimpi ini ? tubuhku penuh keringat.

__ADS_1


***


Senin 4 Agustus 2008. RSUD Teluk Kuantan


Aku melihat dua lelaki yang masih muda dikawal polisi, mereka berjalan tanpa sandal, tangannya


diborgol. Dua lelaki itu terluka saat tertangkap mencuri ternak. Mereka dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan guna kepentingan persidangan nanti.


Pemuda itu mendahului giliranku. Artinya aku harus menunggu lebih lama.


“Itulah pentingnya pendidikan Nak.“ Kata Ayah.


“Kalau manusia tidak menerima pendidikan maka akan menjadi bodoh, berpikiran singkat, dan menjadi


sampah masyarakat.” Ayah melanjutkan petuahnya.


“Iya Yah”. Aku gugup.


Tak lama lagi giliranku diperiksa.


Berdasarkan informasi yang aku dapat dari teman- teman sesama lulus SNMPTN. Ada baiknya melakukan tes kesehatan terlebih dahulu, yaitu mendapatkan surat keterangan berbadan sehat


dari RSUD setempat. Tidak ada salahnya, kalau nanti diperlukan aku telah memilikinya. Kebetulan ayah punya waktu maka pagi ini aku dan ayah berangkat ke RSUD.


“Treett….” Handphoneku


bergetar. Ada pesan masuk.

__ADS_1



__ADS_2