ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Di Batas Kota Senja 1


__ADS_3


Aku dan Adi telah terkapar dio kosan kami. Kamar sederhana tempat kami mengejar masa depan. Aku


tersenyum melihat pesan kami kepada nyamuk- nyamuk. Semenjak pesan berdarah itu tertulis di dinding tidak ada lagi nyamuk datang. Kecuali kalau pintu kamar dibuka lebar pada malam hari. Barang kali pasukan nyamuk tersebut dapat membacanya. Membaca huruf manusia.


            Di kosan kami juga ada Jamil. Ia dari payakumbuh. Ia belajar kepadaku juga sama


seperti Ikhsan. Hari ini bimbingan belajar off. kami memamfaatkan waktu dengan belajar dari tadi pagi. Kini kami kelelahan, terbaring istirahat menjelang


sore.


Jamil tergolek di sampingku. Agak jauh dari Adi. Adi tidak suka padanya karena dia perokok. Sedangkan aku telah terbiasa memaklumi asap rokok, karena dulu ada penumpang oplet yang menghembuskan asap rokok padaku sepanjang oplet jurusan Lubuk Jambi- Teluk Kuantan. Kata Adi kepada Jamil, “Lebih baik kamu Mil, membeli roti dari pada rokok, kenyang perut kamu !!” Tergelak aku mendengarnya.


Kami bertiga terbaring lelah dan hendak tidur. Tiba- tiba ada suara kaki naik ke lantai atas. Ibu kos


datang mengecek aktivitas kami.


“Wah… Tidak belajar untuk persiapan tes Sipenmaru?” Tanyanya. Ia salah paham melihat kami tidur- tiduran. Sipenmaru maksudnya merujuk pada sejarah SPMB, Seleksi Penerimaan Mahasiswa


Baru yang dimulai dari Skalu, sekitar tahun 70-an, lalu berubah nama menjadi Sipenmaru, lalu UMPTN, lalu SPMB, entah apa namanya lagi tahun ini.


“Oh bukan Bu”


“Kami selesai belajar.”


Kami semua berdiri. Tak ada niat untuk tidur lagi. Lelah kami terhapus oleh semangat. Ingat orang tua di kampung.


“ Oh.. ya ?, Silakan lanjutkan. Ibu turun lagi. Kalau mau masak di lantai bawah ada kompor yang


tidak di pakai” Pesannya. Kemudian kami semua keluar kamar. Duduk di pagarbalkon, teras lantai dua. Pandangan hanya atap- atap gedung yang diterpa cahaya matahari yang semakin condong ke barat. Mata kami memandang jauh ke barat ke arah matahari yang akan menghilang ke sebalik laut ke sebalik bumi.


Kami bertiga bertengger di sisi balkon. Angin senja menghembus menyegarkan badan, masuk ke pintu kos sampai ke dalam. Tapi tidak sepenuhnya karena ventilasi kami tutup memakai koran, sebagian lagi jaring nyamuk. Semenjak ditutup demikian nyamuk tidak lagi masuk ke kos, perhentian singkat kami. Hanya saja akibatnya kamar menjadi


semakin panas. Mencucurkan peluh di badan. Sirkulasi udara terganggu.


Ada berapa banyak anak SMA seperti kami di Indonesia ini ? Produksi pendidikan Indonesia di tahun 2008. Seperti apakah persaingan kami nanti ?. Disini kami bertengger nun jauh di sana ada sekitar 390.000 calon mahasiswa baru yang akan menjadi pesaing kami. Aku berpikir demikian.


***


Kala cita telah menjadi ketetapan hati


Ruang dan waktu tiada berarti


Oleh kecepatan tanpa batas teknologi


Gelombang elektromagnetik pun membawa aksara cinta


Melintasi lembar bumi

__ADS_1


Bahasa rindu betapapun rumitnya pasti mampu dimengerti


Aku telah memiliki handphone, barang lux di tahun 2008. Aku membelinya dari uang tabungan yang


masih tersisa. Karena aku tahu bahwa komunikasi penting bagi mereka yang dipisahkan oleh jarak. Handphone sebagai alat silaturahmi untukku berbagi kabar dengan Ayah dan Emak, mengobati rindu. Dan kami saling menyatukan kemampuandengan harapan, mencari titik equilibrium antara realitas dengan ekspektasi bagi pilihan program studi kuliah yang akan aku pilih.


Aku menelpon ke kampung.


“Assalammualaikum.”


Ada suara Emak dari speaker handphoneku.


“Walaikum salam. Mak. “


“Emak dan Ayah sehat ?”


“Alhamdulillah kami sehat. Bagaimana sudah mantap untuk mengambil kedokteran ?” Tanya Emak to the point.


“Mak.Rasanya terlalu bersiko untuk mengambil kedokteran di Padang”


“Kenapa ?”


“Hasil try outku tidak pernah sampai Mak” Aku berusaha untuk membuat Emakku paham bahwa persaingan begitu sulit. Dunia tidak sekitar Kabupaten Kuantan saja.


“Kalau di Pekanbaru ?”


“Jadi bagaimana sebaiknya ?” Emak menyerahkan keputusan kepadaku.


“ Tes dari IPA ada dua pilihan. Bagaimana kalau pilihan ke dua kita isi program studi  dengan kemungkinan lulusnya besar. Misalnya guru sains ?” Aku menyatakan strategiku pada Emak.


“Emak serahkan padamu. Bagaimana dengan Ayah ?” Tanya Emak.


“Tetaplah pilih kedokteran” Ayah mengambil telepon.


“Tetapi terlalu berisiko Yah.”


“Di kedokteran mana yang kamu dapat lulus”


“Di Aceh Yah, di ujung Sumatra.” Jawabku. Begitu lisan menyebut kata Aceh. Terbayang di mataku daerah operasi militer sampai amunan gelombang tsunami tiga tahun lalu. Kemudian bayangan perjanjian perdamaian di Helsinski, Finlandia dua tahun lalu. Tanah dimana Cannabis Sativa tumbuh dengan subur di gunung- gunung yang sulit di jangkau begitu yang  diberitakan oleh reporter TV Nasional.


“Di Banda Aceh.”


“ Iya Yah. Kuota yang diberikan cukup besar. Tempat yang begitu jauh di ujung Sumatra, di ujung barat


Indonesia membuat persaingan tidak begitu sulit Yah.”


“Pilihlah itu Nak.”


“Pilihan yang satunya lagi ?” Aku meminta saran Ayah untuk pilihan yang lain.

__ADS_1


“Pilihlah kedokteran di Padang.”


“Sulit Yah. Bagaimana kalau yang lain.”


“Jangan ada yang lain. Ayah mohon.” Aku terpaku mendengar kata mohon dari Ayah. Sepanjang hidupku Ayah tak pernah memohon. Hati anak mana yang tidak akan luluh, hati anak mana yang


tidak akan tersentuh bila orang tuanya memohon.


“Terlalu berisiko. Bagaimana kalau gagal?” Aku cemas. Aku berusaha mernjelaskan betapa berisikonya pilihan itu. Biayanya pasti sangat besar apabila aku tidak lulus universitas negeri. Aku berusaha untuk menarik mimpi Ayah seperti menarik benang layang- layang agar tidak terbang melalang ke awang- awang.


“Kalau gagal pun kita akan coba swasta. Ayah sanggup” Ayah meyakinkanku.


“Ayah …,” kataku.


“Ayah akan jual tanah, kebun kita” Suara Ayah serak. Sedangkan aku terdiam terpaku lagi. Aku terpaku


oleh palu beban impian ayah. Aku anak laki- laki satu- satunya harus menjadi dokter. Tak ada lagi anak Ayah yang lain yang dapat mengabulkan impiannya.


Hanya aku.


“ Baiklah Yah.” Maka aku ikuti pilihan ayah.  Mengikuti


pilihan orang tua dengan melantunkan doa semoga pilihan orang tua itu membawa


berkah.


“InsyaAllah aku akan berusaha”. Jawabku. Aku harus membuat keputusan pasti di penghujung bimbingan


belajar, mendekati saat tes nanti.


“Ayah doakan.”


“Mana Emak?”


“Ya. Bagaimana ?” Tanya Emak. Beliau telah mengambil telepon dari Ayah.


“Aku akan berusaha Mak. Bagaimana dengan Emak?”


“Emak selalu mengikuti Ayahmu dari dulu”


“Baiklah Mak. Aku akan mengambil kedokteran negeri. Doakan aku Emak , Ayah”. Aku meminta doa di akhir percakapan kami di telepon. Aku jauh di padang, sisi barat Sumatra. Sedangkan


ayah dan emak jauh di tengah Sumatra.


Aku tak punya pilihan lain. Dihatiku meletakkan kedokteran di padang sebagai pilihan pertama yang


lebih sulit persaingannya. Dan meletakkan kedokteran di banda aceh sebagai pilihan kedua yang cukup sulit. Aku akan berusaha. Beasiswa Perusahaan Minyak ditaruhkan. Jika aku tidak lulus beasiswa itu hangus.


__ADS_1


__ADS_2