
Pagi menyapa begitu telat di Ujung Banda. Pukul delapan pagi, biasanya kampus masih lengang, tapi
tidak dengan hari ini. GOR Unsyiah ramai oleh wajah- wajah baru dari segala penjuru. Gelanggang olahraga itu untuk sementara menjadi tempat penyerahan
berkas SNMPTN. Para calon mahasiswa angkatan 09 datang berdesakan di depan pintu utama. Tak jauh dariku tegak satpam dan beberapa anggota resimen
mahasiswa. Mereka tampak kewalahan mengatasi kerumunan. Aku segera menyatu dengan kerumunan itu mencari celah masuk ke dalam GOR.
Akhirnya aku dapat masuk. Panitia menyuruhku antri di lajur kedua dari kanan, keseluruhan lajur
terdiri dari lima lajur. Di depannya, masing- masing tersedia satu meja panitia pemberkasan SNMPTN 2009. Panjang semua lajur mencapai 20 meter. Sedangkan aku berada di bagian paling belakang. Setiap waktu pemberkasan memakan waktu kira-
kira tiga menit. Butuh waktu dua jam agar aku berada di meja pemberkasan.
Jauh di depan sana ada ibu- ibu galak. Ia memegang toa walaupun sudah berteriak- teriak. Matanya jeli
mengatasi pengantri yang curang. Teriakannya memantul di dalam aula. Aku mengantri dengan sabar, sesekali menghentak- hentakkan telapak kaki agar tidak terlalu pegal berdiri. Semoga waktu cepat berlalu mengantarkan aku ke depan.
Dua jam telah berlalu.
Para pelamar yang masih ingin mengantri akan dilanjutkan setelah istirahat siang. Antrian ditutup. Panitia hanya akan memproses antrian yang sedang
berjalan, termasuk aku. Aku berada di depan. tinggal seorang lagi yang berada di depanku. Dia tengah duduk di meja panitia. Tak berapa lama aku telah duduk di kursi penitia. Meyerahkan berkas- berkas SNMPTN dan mendapatkan kartu ujian.
***
*Terimakasih Mas Hasan, Temanku atas pesan dan motivasinya tempo hari.
Kita lahir kedunia dari satu ****** yang berenang mengalahkan bukan hanya satu atau
__ADS_1
dua, tapi jutaan ****** menuju sel telur. Ibarat seorang manusia bersama jutaan
orang yang yang berada dalam sebuah kapal yang tengah mengarungi lautan cahaya,
Lautan Arrahim, Samudra Arrahman, kasih sayang. Kemudian kapal itu tumpah dan
menenggelamkan semua isinya ke dalam lautan itu. Maka berenanglah orang- orang
itu antara hidup dan mati mencari keselamatan, karena di ujungnya telah ada sebuah perahu. Sebuah perahu yang telah dijanjikan. Perahu yang direbutkan oleh jutaan orang. Perahu yang bagaimana pun rupanya adalah perahu yang sempurna.
Hanya dengan perahu itu seorang pemenang akan melanjutkan perjalanan ke ujung cahaya.
Manusia terlahir begitu sempurna. Tak pantaslah bersedih hati dan menyesali diri. Waktu
terus berlanjut semakin lama di dunia maka dunia semakin sempit. Orang- orang baru terus dilahirkan, dengan kemampuan dan kecerdasan yang lebih baik, sedangkan kita tetap sama. Bila kita tetap
Manusia lahir memiliki takdirnya masing- masing. Apa yang kita dapatkan tidak adalah
kaitannya dengan kekuarangan diri tapi seberapa jauh kerja keras dan motivasi diri. Karena setiap manusia memiliki rizki di jalannya masing- masing. Teman hari ini aku akan berusaha menjemput rizkiku. Berjuang untuk lulus ujian sekolah kedinasan dibawah Departemen Keuangan Negara ini.
Doakan aku teman*.
Begitu surat elektronik yang aku kirimkan kepada seorang teman di tempat yang jauh. Surat ungkapan terimakasih dan rasa syukur kepada
Tuhan. Setelah mengirimkan surat itu, aku pergi ke kantor pajak, di daerah kota, Jalan Daud Beureuh. Jam istirahat siang telah selesai. Kantor telah
membuka pelayanan. Aku akan mengantarkan berkas pendaftaran STAN kesana meninggalkan warnet di gerbang Darussalam.
Syiah kuala adala negeri angin, sejauh mata memandang hanya hamparan puing-puing tsunami.
__ADS_1
Bongkahan-bongkahan beton dan tambak-tambak kosong pada hamparan yang luas.
Hamparan yang membuat angin senantiasa bergerak bebas, memenderu, hiruk tapi mendamaikan jiwa. Angin dari laut itu bagaikan salam dari Sang Surya yang menenggelamkan dirinya ke samudra. Sebelum surya hilang dan berganti rembulan lautan menjelma menjadi hamparan keemasan berselimut cakrawala jingga.
Begitu indah Sang Pencipta melukis dunia
setiap senja sebelum maghrib datang, aku selalu menyaksikan keindahan itu bersama seorang teman baikku Teuku Dani.
Jalanan menuju Syah Kuala kecil dan diaspal, di kiri dan kanannya masih kosong, angin bergerak
bebas. Di tepian jalan banyak orang yang merebahkan diri di bawah pokok- pokok
jemplang. Istirahat dari semua kesibukan dunia. Sedangkan di pinggiran pantai tampak
ramai anak- anak kampong bermain bola . Mereka begitu bahagia. Dalam suasana senja itu aku dan Teuku Dani selalu duduk menyaksikan anak- anak kampung bermain bola, menyaksikan matahari keemasan tenggelam ke dalam lautan cahaya. Aku dan Teuku Dani seringkali mendiskusikan
tentang masa depan kami, cita- cita dan bagiamana cara terbaik berikhtiar untuk menggapainya.
Aku dan Teuku Dani sama – sama akan mencoba kesempatan kedua tahun ini. Aku ikut SNMPTN dan STAN. Dan Teuku Dani ikut UMB ( Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dari jalur Ujian
Masuk Bersama) dan Sekolah Dinas Pertanian. Kami juga memiliki kesamaan. Kami kuliah di jurusan yang sama di kampus. Dia sering kali memberikan aku bantuan.
Aku menumpang kendaraannya dan berkunjung ke rumahnya. Dia tidak tinggal di kos. Teuku Dani tinggal dengan keluarganya di Kampung Keuramat. Bila kami
belajar bersama di rumahnya, Teuku Dani mengantarakan aku kembali ke Darussalam, melewati senja yang indah di Syiah Kuala. Kami telah akrab. Rumah Teuku Dani di Kampong Keuramat berada di belakang kantor pajak. Kantor tempatku
mengantarkan berkas STAN.
__ADS_1