
Minggu, 26 Juli 2009.
Aku pergi ke MAN Model Banda Aceh untuk mengecek bangku, kata orang, posisi menentukan prestasi. Untuk itu sebelum ujian aku datang ke
lokasi ujian. MAN Model Banda Aceh, tempatku akan bertarung menjemput impianku
masuk STAN. Dengan melihat posisi dimana aku duduk, paling tidak aku telah tahu
kenal dengan medan sebelum berperang, bukan ?
Setelah perjuangan belajar keras serata memohon doa-doa semua orang yang menyayangiku. Akhirnya pagi itu tiba jua. Aku diantar Bang Boby ke MAN
Model Banda Aceh.
Sesampianya di MAN Model Banda Aceh Bang Boby berbalik. Namun sebelum itu ia berkata. “ Belum pernah Abang lihat orang yang segigih kamu untuk lulus STAN, SELAMAT BERJUANG.” Katanya.
Aku menelepon Emak dan Ayah. Kata Emak, Ayahku tak henti mendoakan aku. Ia begitu berharap aku lulus di STAN. Menjadi pegawai negeri di Departemen Keuangan, mengelola keuangan negara dengan jujur.
Dan Waktu itu pun tiba. Aku duduk di bangkuku. Petugas telah membagikan soal tersegel di mejaku.
150 menit 180 soal
AKU BERPACU DENGAN TAKDIRKU
Sunyi detik detik menggema di langit tanah rencong pada pagi minggu 5 tahun setelah bencana tsunami.
Aku berperang, dalam ujian itu aku ingat orangtuaku. Wajah Emak, wajah ayag, wajah ayah bekerja. Ayahku yang telah tua, harga karet pun sudah anjlok ke bawah. Kuliah memerlukan uang, pun setelah tamat kuliah banyak orang yang menjadi pengangguran. Mencari pekerjaan sulit zaman sekarang.
__ADS_1
Bayangan Emakku bekerja. Bayangan Ayahku, orang yang paling sabar sedunia ini, yang bila aku sedih lalu aku melihat wajahnya yang sabar itu
maka leburlah segala kesedihan hatiku. Air mataku jatuh ke dalam ke hidungku, lalu ke tenggorokanku, hingga serak pecah suaraku.
Oh…Tuhan. Detik- detik berlalu.
Aku ingin lulus STAN.
***
Awal libur semester genap bertepatan dengan hari terakhir SNMPTN tahun 2009. Hal ini membuat momen yang tepat untuk pulang, pulang yang akan kembali atau pulang yang tidak akan
kembali lagi ke Banda Aceh. Aku tidak kembali lagi ke Banda Aceh bila aku lulus STAN atau lulus SNMPTN di Universitas Negeri di Pekanbaru, Riau, Bumi Air Tanah Minyak. Atau aku akan
kembali ke Banda Aceh bila aku tidak lulus STAN atau pun SNMPTN.
tamah. Ada banyak cerita tentang konflik dan bencana tsunami. Ada banyak cerita yang akan aku bawa pulang. Ada banyak cerita untuk Kampung Gunung Menangis.
Sebelum pulang aku menyempatkan diri ke warnet di Gerbang Darussalam. Ada email yang masuk. Dari
temanku Mas Hasan. Email balasan dari email yang aku kirimkan tempo hari.
Assalammualaikum Teman.
Salam sukses untuk kita. Bersamaan denganmu yang tengah berjuang menjemput rizkimu, saya juga akan menjemput rizki saya.
Bedanya kalau rizkimu ada di pengumuman hasil ujian esok hari maka rizki saya
__ADS_1
berada di tempat yang jauh, di utara belahan bumi.
Saya telah lulus kontrak kerja di Jepang. Beberapa pekan lalu saya ikut tes menjadi
tenaga kerja terlatih di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Pekerjaan itu merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang. Kebetulan mendapatkan pekerjaan di Indonesia semakin sulit apalagi untuk tamatan SMA
seperti saya. Maka dengan tekad yang kuat saya ikut. Apalagi gaji teman- teman
TKI di Jepang sampai 11 juta dalam Rupiah. Membawa harapan mimpi untuk hidup
lebih baik daripada di Indonesia. Hanya saja apabila pulang ke Indonesia saya harus memulai dari nol lagi, dengan modal merantau ke Jepang.
Bukankah hidup terus berlanjut. Dan kita mesti kuat.
Besok pagi kalau kamu melihat langit, lalu ada pesawat yang melaju ke utara, maka di
dalamnya ada saya.
Salam sukses. Semoga hari esok lebih baik bagi kita semua.
Aku tersentuh membaca surat dari Mas Hasan. Semangatnya sebagai anak sulung untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya sungguh luar biasa. Dia membiayai
pendidikan untuk adik- adiknya merpakan teladan seseorang yang berjiwa besar.
Hanya kebesaran hati yang membuat seseorang berani menjemput rizki kemanapun.
__ADS_1