ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Cerita Setulus Hujan 4


__ADS_3

Adakah yang lebih tulus dari pada hujan ? Yang setiap tetesnya turun membasahi bumi


tanpa pilih kasih. Jatuh, maka jatuhlah tetes itu di mana tempat yang seharusnya ia jatuh, karena langit telah membaginya demikian. Membagi setiap


awan hujan untuk belahan bumi yang kehausan.


Pada siang hari yang panas, tiba- tiba Kota Padang diguyur hujan. Kalau tahu demikian, tentu aku


akan berangkat ke gedung bimbingan belajar lebih awal, seperti Adi. Hari ini Adi mendapatkan kelas pagi. Ia telah berada di kelas bimbingan belajar beberapa jam lalu. Dan kini aku merasa terjebak sendiri, di teras kos, menatap debit tintik


hujan di ujung atap. Aku memprediksi intentitas kelebatan hujan. Aku menunggu


waktu untuk hujan mereda. Karena aku harus pergi. Harus pergi. Hari ini adalah pengumuman try out SPMB. Aku ingin melihat sendiri seberapa besar peluangku untuk menembus kedokteran negeri, seperti pinta Ayah.


Hujan tak kunjung reda. Aku menghulurkan tangan ke cucuran atap. Hujan masih deras. Nenek yang berada


di samping rumah melihatku yang tengah berdiri dengan ransel menunggu hujan reda.


“Nak…” Panggilnya. Beliau melambaikan tangan.

__ADS_1


“Oh… Iyo Nek !” Aku bergegas menghampirinya


kebetulan atap teras rumah kami masih bertaut. Batasannya hanya sebuah tembok setinggi pinggang.


“Iko ado payuang pakailah dahulu.” Saran Nenek itu tersenyum.


“Terima kasih Nek. Nanti ambo kembalikan.” Janjiku.


Kemudian mengambil payung pemberian Nenek itu.


“Assalammualaikum Nek”


Jawabnya menyusul kepergianku.


Langkah demi langkah aku pergi. Selokan yang mobil dapat masuk ke dalamnya kini telah penuh oleh


luapan air. Aku berjalan hati- hati di batas jalan raya yang mengalir air, di pinggir trotoar yang juga telah mengalir air menuju selokan.


Aku memegang payung. Angin yang datang bersamaan dengan hilir mudik kendaraan. Aku mesti hati- hati karena mobil- mobil itu memercikkan air dari rodanya. Sebagian celanaku basah. Aku menggulungnya sampai ke batas lutut.

__ADS_1


Aku telah sampai di gedung bimbingan belajar. Ramai juga kawan- kawan yang berkumpul di papan


pengumuman. Aku mencari papan pengumuman yang kosong. Ada satu, pengumuman di dinding gedung sebelah kanan di dekat parkiran. Aku berjalan ke situ. Sesampainya, aku lihat banyak daftar nama berderet, sekitar seribu lebih. Banyak karena pengumuman hasil try out diurutkan dari semua murid bimbingan belajar ini di beberapa cabang di Kota Padang.


Dimulai dari daftar paling kanan adalah nama- nama dengan perolehan nilai terbaik. Anak SMA yang berasal dari SMA- SMA terbaik di Sumatra Barat. Daftar yang paling kanan mereka semua


lulus di program studi universitas terbaik di pulau jawa, seperti teknik computer, teknik perminyakan, atau kedokteran. Hebat. Mereka betul semua dalam 15 soal matematika IPA yang aku isi paling banyak hanya empat. Namaku urutan keberapa?


            Bola mataku berpindah ke deretan kedua sebelah kanan, tidak ada. Lalu kesebelah


kanannya lagi, dan aku menemukan namaku pada urutan ke-99. Wah 99. Aku tidak lulus pilihan pertama. Tapi aku lulus pilihan kedua Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri di ujung Sumatra. Passing Gradenya 210 , berarti nilaiku


lebih dari 210. Bagaimana dengan Adi ?. Ia berada di sebelah kanan, di sebelah kanannya lagi, tidak ada. Aku mencarinya di pengumuman sambungan di bagian bawah. Dia berada pada urutan ke 400. Ia tidak lulus.


***


           


__ADS_1


__ADS_2