
Ayah.
Ia
menangis.
Bagai
mahligai pasir yang lantak dilamun ombak ketika pasang menjelang. Air matanya
menetes. Tubuhku serasa di neraka. Dibalik lensa mataku, air mataku menderas.
Menderas memadamkan pijar api neraka. Suarab Ayah lah yang pertama kali
kudengar. Senandung azan menyimpan harapan. Bayangannya,ia menggendongku saat
aku kecil dahulu. Ia menjemputku pulang sekolah bahkan sampai SMA. Tenggorokanku
serasa meneguk air paling pahit yang pernah tercipta.
****
__ADS_1
Barang- barang telah dikumpulkan kembali sedapatnya untuk di bawa pulang. Barang- barang yang baru saja dibeli, lemari kasur, ricecooker,
dispenser, dan kipas angin, akan kami tinggalkan. Kami akan kembali pulang ke Kampung Gunung Menangis meninggalkan kos yang telah kami sewa setahun. Kabar Aku akan pulang telah diceritakan oleh Ayah kepada Emak. Hal itu membuat orang-
orang yang terdekat di kampung halaman turut bersedih hati. Begitu juga dengan Adi. Aku menerima pesan Short Message Service (SMS) darinya beberapa waktu sebelum Aku dan Ayah meninggalkan kos.
***.Liel kamu jangan ingin pulang ya, tidak ada teman sebaya kita di kampung lagi!. Mereka telah merantau ke kota atau mulai bekerja atau kuliah. tolong kamu pikirkan itu....bawalah shalat.
Ketika kami memutuskan untuk kembali pulang ke kampung. Di depan pintu kos kamarku, Bang Bahim telah berdiri tepat di muka pintu. Bang Boby duduk dengan ekspresi yang paling sedih yang pernah kulihat. Iwan berdiri matanya menunduk sedih. Mereka telah mendengar rencana Aku dan Ayah untuk pulang. Lalu mereka berkumpul untukku.
Mereka berkumpul untuk mencegahku, agar jangan pulang. Jangan Pulang. Mereka memohon agar Aku menimbang-nimbang hatiku. Padahal kami baru saja mengenal beberapa hari.
“Pak Saya mohon agar Adik jangan pulang.” Pinta Bang Sahim.
“Ya Liel tetaplah kuliah disini. Semuanya akan aman-aman saja.” Pinta Iwan, anak Medan.
Ayah memandangku.”Jangan Pulang,” kata Ayah memohon. Ini kali kedua Ayah memohon untukku.
Aku melihat Bang Boby, Ia telah berpengalaman. Ia pernah kuliah juga sebelumnya dan mengulang kembali di jurusan lain. “Jangan pulang,” katanya. Bang Boby berjongkok bersandar ke dinding. Suaranya sesak dan aku diam. Katanya kembali, ” hatiku terasa ikut hancur,” namun Aku masih tetap diam.
” Tetaplah disini isi lah waktu dengan kuliah dulu. Kalau ada nasib tahun depan ulanglah kembali,” lanjut Bang Boby memberikan saran.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku. “ Ayah aku tidak jadi pulang”.
“Aku akan tetap disini. Aku percaya kampus akan memberikan keputusan yang bijaksana dengan keadaan ini. Meski aku pindah ke jurusan lain.”
Wajah Ayahku mencerah.”
Tetap disini dahulu. Tuntutlah ilmu sejenak. Jangan pernah lupa berdoa.” Pesan Ayah.
“Setiap Ayah menyayangi Anaknya.”
Masih kuingat ketika berangkat dulu Ayah bercerita kepada para penumpang bus bahwa anak harapannya lulus kedoteran mengalahkan 3000 lebih pesaing. Namun, ketika Ayah pulang meninggalkanku ditanah ini, tanah dengan sejarah kebesaran sebuah tonggak islam nusantara, tanah perbauran para saudagar di segenap
dunia, tanah konflik yang pernah terjadi berkepanjangan, tanah yang dilanda
dahsyatnya tsunami, Tanah Aceh Tanah Rencong untuk pertama kalinya Ia berkata
bahwa ia menyayangiku semenjak aku bisa memahami makna kata-kata, untuk yang
pertama kalinya. Akhirnya hanya Ayah yang pulang. Ia berlalu dengan sepeda motor menuju terminal Bus. Hatiku ikut terbawa. Hatiku mengejar jalan lingkar
Darussalam.
__ADS_1
***