ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Di Bawah Pelangi Harapan 3


__ADS_3

Ini toko buku terakhir yang aku masuki. Segera aku bergegas ke rak- raknya. Satu demi satu rak aku tuju. Sampai pada rak yang biasanya buku


yang aku cari berada. Rak deretan buku- buku tes, pada rak itu masih ada buku tes UAN, tes SNMPTN, tes BUMN, pedoman Tes TNI- POLRI. Tapi tak aku temukan buku pembahasan soal- soal STAN. Aku tidak menemukan buku yang aku cari. Aku


bertanya kepada pemiliknya.


“Pak !. Buku pembahasan tes STAN ada?”


“Tak ada lagi Dek !. Tesnya akhir bulan depan.”


“Beberapa minggu lagi ada dijual ?”


“Mungkin ada datang tapi tidak pasti. Buku sisa tahun lalu telah kami kembalikan ke penerbit di Jakarta. Jarang peminatnya disini.”


“Ooo baiklah pak. Terimakasih.” Ucapku. Aku meninggalkan toko buku terakhir dengan hati yang gundah. Di mana lagi aku mencari ini Banda


Aceh tidak ada lagi took buku yang lebih besar dan lengkap. Kota yang baru membangun diri dari bencana Tsunami, dan di ujung barat Indonesia.


Di sekitar Mesjid Raya aku berjalan. Hari sedemikian terik. Tapi teriknya ini tak apa artinya aku rasakan. Hatiku terpayung oleh semangat


untuk berjuang lulus tes STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Menjadi PNS di


Departemen Keuangan, Abdi Negara yang mengelola keuangan Negara dengan jujur.


Kini harapan itu telah datang, hatiku berbunga. Sejak itu aku mulai berusaha keras untuk lulus STAN. Aku harus lulus di program studi apapun di STAN. Bahkan aku tidak lagi memperhitungkan program studi prioritas pilihan. Program studi apa saja asal aku lulus STAN. Dengan itu aku dapat


mengganti air mata ayahku, menghapus kesedihannya dan membuatnya bangga dengan


lulus STAN. Asalkan aku lulus STAN.


Hampir setahun lalu di tangga menara masjid raya


Baiturrahman aku berdoa. Kini aku kembali berdoa di tempat yang sama. Tak terasa hampir satu siklus revolusi bumi telah aku lewati. Satu tahun aku lalui


dan hampir berlalu. Masih terbayang aku dan ayah disini, kami bertengkar. Kini Tuhan kembali memberikan aku kesempatan, harapan kedua. Aku ingin lulus STAN, mengganti kesedihan Ayah.


***

__ADS_1


Akhir April 2009.


Meskipun awan di langit dan buih ombah di lautan sama- sama putih. Tapi aku tahu


kelebihan putihnya awan di langit. Ketika aku berjalan di tengah terik matahari, dari gerbang selatan ke gerbang utama Darussalam awan putih itulah


yang menaungikuku. Melindungi aku dari sengatan sinar matahari di Bulan April di Banda Aceh. Angin muson timur mulai berhembus membawa musim panas. Cuaca sampai 39 derajat pada setelah lewat tengah hari.


Gerbang utama menyediakan beragam kebutuhan anak kost yang lengkap, seperti makanan,


kubutuhan harian, fotocopi, mesin ATM, sampai kantor pos. Setiap hari aku berjalan dari gerbang selatan ke gerbang utama yang jaraknya 2 km. Perjalananku dari gerbang selatan ke gerbang utama dimulai dengan berjalan ke pertigaan


antara Fakultas Pertanian- Fakultas Kedokteran. Di pertigaan itu aku berhenti sebentar di bawah Pohon Tanjung peneduh pertama. Kemudian aku terus berjalan di trotoar di bawah deretan Pohon Tanjung peneduh sampai ke ujung Fakultas Teknik


Kimia.  Aku berhenti di Pohon Tanjung terakhir.


Aku berhenti di Pohon Tanjung terakhir di ruas jalan Fakultas Teknik karena trotoar mulai


gersang.  Sebab Pohon Tanjung masih kecil


setelah sapuan Tsunami. Namun bila langit teduh aku terus berjalan sampai ke Fakultas MIPA. Di dekat pohon besar Fakultas MIPA, Pohon Tanjung kembali


sambung menyambung meneduhkan. Tapi bila hari terik aku berhenti di bawah Pohon Tanjung terakhir itu. Aku memandang langit yang tercermin pada permukaan air selokan. Selokan yang sangat besar itu mencerminkan bayangan Matahari dan awan-


awan yang bergerak. Ada awan yang bergerak menjuhi Matahari dan ada pula awan yang  bergerak mendekati Matahari dan kemudian menutupinya. Bila awan yang putih itu menutupi Matahari  warnanya akan berubah menjadi gelap. Dan bumi menjadi teduh. Saat itu aku mulai berjalan kembali.


Aku ke gerbang utama kali ini bukan untuk apa- apa, melainkan memenuhi janjiku menemui seseorang. Dia seorang teman yang akan meminjamkan aku buku pedoman tes STAN. Beruntungnya aku atas kebaikan hatinya. Dia perempuan yang baik.


Aku  melihat seorang perempuan tengah berdiri di


bawah pohon di sekitar gerbang kampus dari kejauhan. Kedua tangannya memegang buku yang agak besar. Dia telah menungguku.


“Salammualaikum. Maaf terlalu lama.”


“Tidak apa- apa. Aku tahu hari sedemikian terik. ” Jawab perempuan yang tengah berdiri di bawah


pohon pertigaan taman. Dia mungkin telah cukup lama menungguku. Dia tinggal di dekat gerbang utama. Tak jauh dari taman kampus.

__ADS_1


“Ya aku menunggu awan-awan itu membuat teduh.”


“Ha ha aku tahu. Aku sering melihatmu berjalan- lalu berteduh. Bila hujan kamu sering kali berteduh di teras kampus.”


“ Ha ha maklum…” Aku harap dia memaklumi keterbatasanku, fasilitas dan ekonomi.


“Tak apa… Tandanya kamu orang yang gigih berjuang.” Pujinya.


“Terimakasih …”


“Kamu bisa mencoba tesnya. Kamu bisa lulus.” Perempuan itu berharap.


“Semoga, ternyata bisa ikut tesnya. Dulu  aku salah lihat di internet.”


“Tapi tetap mesti belajar.” Sambungku.


“Iya pasti,”  ia setuju dengan pendapatku, “ selamat


belajar. Aku pergi dulu, masih ada kerjaan lain di kos.” Tambahnya minta izin pulang.


“Memasak ?” Tanyaku.


“Iya …”


“Terimakasih  sekali lagi ya…”


“Kembali.” Jawabnya


lalu perempuan itu berlalu. Dia adalah teman yang telah meminjamkan aku buku


pembahasan soal- soal tes STAN, yang telah menyakinkan aku sehingga aku paling


tidak telah mencoba untuk ikut tes.


***


__ADS_1


__ADS_2