ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Membaca Aksara Cinta 5


__ADS_3

Aku menerima email dari temanku di Jepang. Mas Hasan. Telah lama aku tidak berkomunikasi dengan dia. Berita apakah yang akan ia beritahukan kepadaku.


*Adalah Dr Don McPherson seorang profesor dari Union City, California yang sebenarnya


secara tidak sengaja menemukan penemuan fenomenal dalam dasawarsa ini. Semula


sang profesor ingin merancang sebuah kacamata yang digunakan untuk melindungi


dokter mata yang sedang melakukan operasi menggunakan alat bantu laser. Entah


bagaimana, tiba-tiba dia mencobakan kaca mata temuannya tersebut pada seorang


temannya yang merupakan penderita buta warna parsial. Ajaibnya kaca mata


tersebut membuat rekannya bisa melihat warna dengan lebih baik. Ia pun lalu


mengembangkan kaca mata tersebut berupa sebuah lensa khusus untuk mempertajam


kemampuan pemakainya dalam melihat warna.


Lensa mata khusus penyandang buta warna ini dirancang dengan menggunakan sistem


teknologi Color Digital Boost. Teknologi ini membuat penderita yang memakainya


menjadi mampu melihat warna dan spektrumnya dengan lebih jernih dan terang.


Sebagaimana diketahui ada lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia mengalami kelainan ini. Sehingga kehadirannya dianggap sebagai penemuan ajaib dan fenomenal dalam.


Teman. Lensa kontak ini telah masuk ke Jepang. Kemarin dengan gaji  yang saya disisihkan saya membelinya. Setelah saya coba, saya mampu melihat angka- angka dalam Buku Tes Ishihara. Dan saya lebih jernih melihat keindahan pelangi. Dan warna- warna yang di tuding memiliki kecerahan yang berkurang di mata saya. Kamu harus mencobanya teman.


Saya telah mengirimkan lensa kontak itu ke alamatmu. Kamu juga harus mencobanya*.


Begitu bunyi emailnya. Dan jauh di atas langit. Di atas pemukaan bumi. Di atas awan yang berlapis-


lapis. Aku melihat ke bawah dari jendela pesawat. Sedemikian kecilnya bumi yang menghampar beserta makhluk- makhluk yang diciptakannya. Tidaklah pantas kita


bersedih hati dan berputus asa dari rahmat Tuhan yang menciptakan. Tidak lah pantas kita menyombongkan diri di hadapan Allah terhadap makhluk yang lemah dan memiliki kekurangan. Karena di sebalik kelebihan juga terdapat kekurangan, begitu pun sebaliknya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, jika Tuhan


berkehendak.

__ADS_1


***


Jakarta, Oktober 2016


“Dua Puluh Sembilan.”


Ucapku.


“Sekarang ikuti polanya !” Perintah Petugas itu.


“Selesai.” Jawabku.


“Bagus.” Puji Petugas


itu.” SELAMAT KAMU LULUS SEMUA TES” Petugas itu menyalamiku.


“Terimakasih…” Jawabku.


“Boleh Aku keluar?”


“Silahkan…” Jawab


Aku keluar dari gedung


itu dengan hati yang lapang. Tak ada yang selapang hatiku sekarang, lega. Aku berjalan sedemian ringan. Langit sudah senja. Aku peserta terakhir yang keluar


dari gedung dengan menara yang tinggi menjulang itu. Sebuah monument dengan emas bercahaya di atas puncaknya. Monas. Aku berjalan terus di lapangan Monas dengan hati yang sangat bahagia. Jemari tanganku memutar- mutar lensa kontak


kiriman dari Mas Hasan. Lensa kontak untuk penyandang buta warna parsial.


Aku melempar lensa kontak itu. Lalu sepasang lensa itu melayang ke udara. Dan jatuh ke lantai.


Lalu menggelinding di tangga. Aku tidak memakai lensa kontak itu dalam tes tadi. Aku tidak memakainya. Aku melihat angka- angka itu dengan mataku sendiri.


“Ayah ?” Tiba- tiba aku


melihat Ayah. Dia telah menungguku di ujung lapangan Monas. Ternyata ayah juga ikut bersamaku. Ini kejutan.


“Bagaimana?” Tanya Ayah.

__ADS_1


“Aku lolos Yah…”


“Kamu membacanya dengan lensa dari Jepang itu?” Tanya Ayah.


“Tidak Yah…aku menggeleng” Aku terharu.


“Kamu menghapalnya?”


Tanya Ayah lagi.


“Tidak Yah. Aku melihatnya.”


“Aku melihatnya.”


Ulangku.


“Dengan Apa?” Tanya Ayah lagi.


“Ini… “ Aku menunjuk dadaku, meletakkan salah satu tepak tanganku di dada.


“Dengan hati. Kamu melihatnya dengan hatimu?”


“Tidak Yah.” Aku menggeleng kembali.


“Lalu…?”


“Aku melihatnya dengan cinta.”


“***Aku membacanya dengan cinta….” Air mataku jatuh. Mengapa ini tidak terjadi sepuluh tahun yang lalu


atau lebih. Mengapa ini baru terjadi sekarang?. Mungkin ini sudah jalannya takdir. Cerita hidupku memang mungkin harus seperi ini. Aku dan ayah


berpelukan. Kami mengingat semuanya.


Senja di Jakarta berubah bagaikan senja di padang- padang Tsunami di Banda Aceh. Lensa kontak


yang menggelinding telah sampai di ujung tangga. Berputar lalu berhenti setelah sebelumnya memantulkan cahaya sedemikian indah. Berkilau indah sebelum akhirnya benar- benar berhenti***.


SELESAI

__ADS_1



__ADS_2