
Aku menerima email dari temanku di Jepang. Mas Hasan. Telah lama aku tidak berkomunikasi dengan dia. Berita apakah yang akan ia beritahukan kepadaku.
*Adalah Dr Don McPherson seorang profesor dari Union City, California yang sebenarnya
secara tidak sengaja menemukan penemuan fenomenal dalam dasawarsa ini. Semula
sang profesor ingin merancang sebuah kacamata yang digunakan untuk melindungi
dokter mata yang sedang melakukan operasi menggunakan alat bantu laser. Entah
bagaimana, tiba-tiba dia mencobakan kaca mata temuannya tersebut pada seorang
temannya yang merupakan penderita buta warna parsial. Ajaibnya kaca mata
tersebut membuat rekannya bisa melihat warna dengan lebih baik. Ia pun lalu
mengembangkan kaca mata tersebut berupa sebuah lensa khusus untuk mempertajam
kemampuan pemakainya dalam melihat warna.
Lensa mata khusus penyandang buta warna ini dirancang dengan menggunakan sistem
teknologi Color Digital Boost. Teknologi ini membuat penderita yang memakainya
menjadi mampu melihat warna dan spektrumnya dengan lebih jernih dan terang.
Sebagaimana diketahui ada lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia mengalami kelainan ini. Sehingga kehadirannya dianggap sebagai penemuan ajaib dan fenomenal dalam.
Teman. Lensa kontak ini telah masuk ke Jepang. Kemarin dengan gaji yang saya disisihkan saya membelinya. Setelah saya coba, saya mampu melihat angka- angka dalam Buku Tes Ishihara. Dan saya lebih jernih melihat keindahan pelangi. Dan warna- warna yang di tuding memiliki kecerahan yang berkurang di mata saya. Kamu harus mencobanya teman.
Saya telah mengirimkan lensa kontak itu ke alamatmu. Kamu juga harus mencobanya*.
Begitu bunyi emailnya. Dan jauh di atas langit. Di atas pemukaan bumi. Di atas awan yang berlapis-
lapis. Aku melihat ke bawah dari jendela pesawat. Sedemikian kecilnya bumi yang menghampar beserta makhluk- makhluk yang diciptakannya. Tidaklah pantas kita
bersedih hati dan berputus asa dari rahmat Tuhan yang menciptakan. Tidak lah pantas kita menyombongkan diri di hadapan Allah terhadap makhluk yang lemah dan memiliki kekurangan. Karena di sebalik kelebihan juga terdapat kekurangan, begitu pun sebaliknya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, jika Tuhan
berkehendak.
__ADS_1
***
Jakarta, Oktober 2016
“Dua Puluh Sembilan.”
Ucapku.
“Sekarang ikuti polanya !” Perintah Petugas itu.
“Selesai.” Jawabku.
“Bagus.” Puji Petugas
itu.” SELAMAT KAMU LULUS SEMUA TES” Petugas itu menyalamiku.
“Terimakasih…” Jawabku.
“Boleh Aku keluar?”
“Silahkan…” Jawab
Aku keluar dari gedung
itu dengan hati yang lapang. Tak ada yang selapang hatiku sekarang, lega. Aku berjalan sedemian ringan. Langit sudah senja. Aku peserta terakhir yang keluar
dari gedung dengan menara yang tinggi menjulang itu. Sebuah monument dengan emas bercahaya di atas puncaknya. Monas. Aku berjalan terus di lapangan Monas dengan hati yang sangat bahagia. Jemari tanganku memutar- mutar lensa kontak
kiriman dari Mas Hasan. Lensa kontak untuk penyandang buta warna parsial.
Aku melempar lensa kontak itu. Lalu sepasang lensa itu melayang ke udara. Dan jatuh ke lantai.
Lalu menggelinding di tangga. Aku tidak memakai lensa kontak itu dalam tes tadi. Aku tidak memakainya. Aku melihat angka- angka itu dengan mataku sendiri.
“Ayah ?” Tiba- tiba aku
melihat Ayah. Dia telah menungguku di ujung lapangan Monas. Ternyata ayah juga ikut bersamaku. Ini kejutan.
“Bagaimana?” Tanya Ayah.
__ADS_1
“Aku lolos Yah…”
“Kamu membacanya dengan lensa dari Jepang itu?” Tanya Ayah.
“Tidak Yah…aku menggeleng” Aku terharu.
“Kamu menghapalnya?”
Tanya Ayah lagi.
“Tidak Yah. Aku melihatnya.”
“Aku melihatnya.”
Ulangku.
“Dengan Apa?” Tanya Ayah lagi.
“Ini… “ Aku menunjuk dadaku, meletakkan salah satu tepak tanganku di dada.
“Dengan hati. Kamu melihatnya dengan hatimu?”
“Tidak Yah.” Aku menggeleng kembali.
“Lalu…?”
“Aku melihatnya dengan cinta.”
“***Aku membacanya dengan cinta….” Air mataku jatuh. Mengapa ini tidak terjadi sepuluh tahun yang lalu
atau lebih. Mengapa ini baru terjadi sekarang?. Mungkin ini sudah jalannya takdir. Cerita hidupku memang mungkin harus seperi ini. Aku dan ayah
berpelukan. Kami mengingat semuanya.
Senja di Jakarta berubah bagaikan senja di padang- padang Tsunami di Banda Aceh. Lensa kontak
yang menggelinding telah sampai di ujung tangga. Berputar lalu berhenti setelah sebelumnya memantulkan cahaya sedemikian indah. Berkilau indah sebelum akhirnya benar- benar berhenti***.
SELESAI
__ADS_1