ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Membaca Aksara Cinta 4


__ADS_3

Bandara Sultan Syarif Khasim II, Oktober 2016


Aku tidak membenci mereka. Tapi gurat- gurat wajah mereka mengingatkanku pada masa


lalu. Mereka bertiga duduk berjajar di bangku koridor yang akan aku lewati.


Walaupun bandara begitu ramai tapi tak ada jalan lain. Aku terlanjur mengambil jalan di koridoe ini. Aku harus melewatinya. Aku melangkah dengan jalan


menunduk, mengalihkan perhatian agar tampak santun. Aku pura- pura tidak mengenal mereka, dan semoga juga mereka telah melupakan aku.


Ketika kakiku telah berlalu dari kursi tunggu mereka, salah satu dari mereka memanggilku, dia memanggil namaku.


“Liel …” Mereka masih mengingat namaku. Guruku di SMA di Atas Bukit lebih dari sepuluh tahun lalu.


“Liel…” Bunyi itu menggema di sepanjang koridor. Gelombang suara itu menggemakan ruang-


ruang dalam memoriku. Aku berpaling, balik kanan dan tersenyum kaku. Kemudian sesopan mungkin aku bersalaman pada mereka.


“Masih ingat dengan SMA di atas bukit ?” Kata salah satu dari mereka. ‘Sreg’ Amigdala dalam otakku berdenyut, merangsang percepatan seksresi andrenalin untuk meningkatkan pengeluaran hormon insulin, jantungku berdetak cepat.


“ Masih Pak, Buk” Ucapku, tersenyum kecut, beberapa saat keadaan menghening.


“Bapak masih ingat semuanya…”

__ADS_1


“Secara detail” Lanjut ibu guru yang lain.


“Sudah sebelas tahun berlalu, Bu” Ucapku langsung.


“Bahkan siluet- silet bayanganmu, saat duduk di bangku ruang kelas setelah peristiwa itu, ibu masih bisa mengingatnya secara detail.” Kata salah satu guruku.


Setelah aku dipukul oleh ibu guru pada sebelas tahun yang lalu. Namun aku hanya diam, mengangguk pun tidak.


“Ketika Ibu masuk ke ruang kelasmu, setelah terjadi pemukulan itu ibu melihat keceriaanmu hilang,  rasanya baru kemarin.”


“Mmmm” Aku terdiam. Pikiranku menerawang. Aku mengangguk.


“Rasanya baru kemarin, Bu.”Jawabku. Aku tidak ingin mengingat peristiwa yang melukai


“PENERBANGAN NOMOR XXX DENGAN TUJUAN JAKARTA AKAN SEGERA BERANGKAT.” Pengumuman itu bergema di seanterio bandara.


“Maaf Pak, Bu, saya terburu- buru mesti berangkat.”


“Salam…” Ucapku sebelum pergi. Mereka membalas salamku. Dan aku terburu- buru pergi menuju pesawatku ke Jakarta.


Aku ke Jakarta untuk mengikuti tes terakhir sebagai Abdi Negara khusus. Penerimaannya secara tiba-


tiba dan tanpa sengaja. Pada bulan lalu Ayah tak sengaja melihat running teks dari sebuah televisi swasta nasional.

__ADS_1


“Ayah lihat ada rekruitmen Abdi Negara dari pegawai negeri seperti mu. Bukankah dahulu ingin sekali menjadi orang yang bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi Negara ini?” Ayah mengingatkanku tentang kegaggalan dalam tes STAN dahulu.


“ Abdi Negara Khusus dari rekruitmen Pegawai Negara. Mengapa pemerintah membukanya secara terbuka dengan sistem seleksi yang rahasia ?. Mungkin saja Negara sedang membutuhkan


orang- orang terbaiknya yang mau bekerja keras dan berkorban. Kedengarannya menarik Yah” Tanggapanku terhadap cerita Ayah.


“ Aku akan ikut.”


Kemudian aku mengikuti sistem seleksi sampai tes terakhir. Tetapi dalam tes tersebut bisa saja tes


dari buku Ishihara akan muncul lagi. Tes Ishihara itu masih terus mengancamku.


Bahkan sampai nanti. Untuk itu aku harus mengalahkannya. Aku harus menaklukkannya.


***


Aku menerima email dari temanku di Jepang. Mas Hasan. Telah lama aku tidak berkomunikasi dengan dia.


Berita apakah yang akan ia beritahukan kepadaku.


...


(Bersambung,  esok episode terakhir 🙏🙏🙏)

__ADS_1



__ADS_2