
“Simpang Surabaya!!”
seru Pak Sopir.
“Semuanya turun disini,” perintah Pak Sopir yang artinya tidak ada lagi hentian setelah ini.
Tempat ini adalah ujung perjalanan Aku dan Ayah, karena bus akan berbalik arah.
Tapi bukankah ini Banda Aceh?. Aku menengok ke luar, dari kaca bus tampak ruko- ruko yang sepi dalam kepekatan subuh. Supir- supir becak dengan turban, karena dingin. Di luar jelas begitu dingin, dingin sebagaimana kota- kota di pesisir
timur Sumatra ketika subuh. Dingin yang menggigilkan badan. Ini Banda Aceh.
Banda Aceh yang bangkit dari hantaman tsunami.
Banda Aceh yang membangun diri dari konflik militer.
Simpang Surabaya perhentian terakhir bus di Banda Aceh. Barangkali dari simpang lima inilah
orang- orang yang ingin pergi jauh dari Banda Aceh, sejauh- jauhnya perjalanan bus sampai ke Surabaya. Begitu aku berpikir alasan mengapa nama Surabaya
terselip di Banda Aceh.
Pukul 5:45 atau 6 kurang 15 menit azan subuh belum lagi berkumandang. Dinginnya udara dini hari membekap daging. Untungnya jaket dan baju tebal melindungi kami. Saat itu Aku dan Ayah turun dari bus menurunkan kopor dan tas kami di pagi yang pekat. Becak- becak motor menghampiri. Aku
__ADS_1
melihat wajah- wajah orang di sekitarku. Di Banda Aceh garis wajahnya berbeda dengan Aku dan Ayah. Ada campuran Hadramaut. Kulitnya lebih putih dan ada pula yang lebih gelap. Hidungnya lebih mancung dengan garis alis yang lebih tegas. Badannya lebih besar campuran Arab. Tapi logatnya nyaring, cepat, dan ramah. Bahasa yang digunakan jauh berbeda dengan bahasa melayu. Bahasa Indonesia
menyatukan kami.
“Ho jak?” tanya Sopir Becak Motor.
“Jak Berawe,” jawabku. Aku sudah paham beberapa Kata Aceh dari obrolan penumpang yang aku dengar di bus.
“Beurawe.” ulang Sopir Becak Motor itu memperjelas lafal eu yang berbeda dengan e.
“Iya. Ini alamatnya.” Ayah menyerahkan kertas. Alamat seorang ustazah dari kenalan kami di kampung. Keluarga ustazah itulah yang akan
menampung kami untuk pertama kali di Banda Aceh sampai mengenal kawasan Darussalam dan mencari kos.
Tiga tahun lalu masih jelaslah dalam mataku. Dari televisi aku melihat ribuan orang berlari dari kejaran gelombang tsunami, setelah gempa 9 skala Righter melanda. Subuh ini aku melihat di sepanjang jalan masih ada beberapa gedung tua yang rusak, dan lampu- lampu dari toko- toko itu temaram. Kemudian becak motor kami berbelok memasuki gang, kompleks perumahan. Kemudian berhenti di sebuah rumah besar dengan arsitekur melayu. Rumah bangsawan tempo doeloe.
Setelah becak motor tersebut melaju meninggalkan Aku dan Ayah. Kami terpaku di depan rumah itu.
Jalan dan nomor rumah tersebut telah sesuai dengan kertas yang ada di tangan kami. Aku dan ayah berpandangan, kebetulan pintu pagar tidak dikunci. Kembali aku dan ayah berpandangan.
“Bismillah…” Kami masuk, menyeret kopor dan menenteng tas besar sampai di beranda rumah itu.
Pintu rumah itu belum terbuka juga. Ingin Aku dan Ayah berteriak, mengucapkan salam yang keras karena begitu kebiasaan di kampung kami.
__ADS_1
“Tunggu dulu Yah.” Aku menahan Ayah agar tidak mengucapkan salam. Aku melihat sebuah benda di dinding, mirip dengan sakelar lampu. Aku maju dan akan menekan tombol itu, bel. Tapi sebelum
aku menekan bel, pintu utama rumah itu berderit. Gagangnya berputar, pintu terbuka. Seorang perempuan memakai mukenah putih muncul di hadapan kami.
Perempuan itu tersenyum ramah dengan wajah yang putih dan beraut turki.
“Saleummualiakum.” Perempuan itu merapatkan kedua telapak tangannya tinggi ke depan. Bentuk salam hormat tapi bukan sembah.
“Salamualaikum Bu,”
jawab Aku dan juga Ayah.
“Seulamat datang di Banda.”
“Terimakasih banyak.”
“Inikah yang lulus kedokteran?” Tanya Ibu itu.
“Iya Bu, kami yang dari Riau”
“Silahkan masuk.”
***
__ADS_1