ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)

ISHIHARA (Buta Warna- Kisah Nyata)
Gunung Menangis 1


__ADS_3

Aku lahir di sebuah kampung bernama Gunung Menangis.


Di Lembah Kuantan ada sebuah legenda tentang sebuah gunung. Sebetulnya bukan sebuah gunung melainkan hanya sebuah bukit. Sebuah bukit yang tumbuh di dataran lembah sungai yang luas.


Bukit itu adalah bukit satu- satunya sehingga menjadi tempat tertinggi di lembah itu. Oleh karena itu orang- orang mengatakan bukit itu dengan sebutan


‘gunung’.


Ada yang tidak biasa dari gunung itu, pada salah satu sisinya, tebing di sebelah timur, tebing yang


menghadap ke lahan persawahan yang terbelah oleh aliran sungai, pada tebing itu mengalir air yang tak pernah henti. Dari kejauhan, dari hamparan padang padi, sawah yang dibelah oleh aliran sungai atau dari atas perahu yang mengarungi aliran sungai, tebing itu tampak seperti sebuah wajah yang menangis.


Aliran air yang menetes tak pernah henti dari tebing gunung itu tampak seperti aliran air mata pada


wajah yang menangis sehingga gunung tersebut dikatakan sebagai gunung menangis.


Disini aku dilahirkan.


Mengapa gunung itu menangis ?


Aku masih ingat tentang cerita orang- orang tua dahulu. Bahwa pada zaman dahulu tersebutlah masa


gunung- gunung tersebut berpindah, berjalan membentuk sebuah barisan. Gunung- gunung itu berjalan berbaris ke barat menuju deretan pegunungan di Pulau Sumatra, Pegunungan Bukit Barisan. Pada barisan ‘pengungsian’ tersebut terdapatlah keluarga kecil sebuah gunung yang terdiri dari Gunung Ayah, Gunung Ibu, dengan


dua gunung anak mereka yaitu Gunung Sulung dan Gunung Bungsu.


Keluarga gunung itu berjalan berhari- hari, melewati musim kemarau dan musim hujan. Apabila siang

__ADS_1


hari gunung itu diam berhenti dan apabila malam hari gunung- gunung itu mulai berjalan beriringan.


Sampai pada suatu malam hujan datang begitu lebat. Keluarga gunung tersebut enggan meneruskan


perjalanan mereka. Mereka berdiam diri, istirahat di sebuah lembah bernama Lembah Kuantan. Mereka menunggu malam berikutnya yang tidak turun hujan. Tetapi sialnya. Hujan terus turun pada malam malam setelahnya, lebih lebat dan lebih lebat lagi.


Keluarga gunung tersebut tidak dapat lagi menunggu lama. Mereka telah tertinggal jauh oleh rombongannya. Mau tidak mau mereka harus segera berjalan di tengah hujan. Apalagi banjir besar telah tampak akan datang dari hulu sungai. Gunung- gunung tersebut harus segera berlari di tengah hujan sebelum banjir datang karena


banjir akan menghanyutkan tanah- tanah yang menyusun tubuh para gunung.


“Ayo kita harus berlari ! Banjir sudah tampak di depan mata !” Teriak Gunung Ayah.


“Bagaimana dengan anak- anak kita? Mereka masih tidur. “ Tanya Gunung Ibu.


“Sulung bangun ! Bungsu bangun !!” Teriak Gunung Ayah. Tapi dua anaknya masih terlepap tidur mereka


“”Sulung bangun !! Bungsu bangun Nak !!” Ulang Gunung Ibu membangunkan kedua anaknya. Tapi mereka masih tertidur lelap.


“Kita tidak punya waktu. Tinggalkan saja mereka disini. Biarlah mereka mengikuti jejak kita nanti.”


“Baiklah tapi apakah mereka akan selamat dari banjir ?” Tanya Gunung Ibu cemas.


“Aku akan menumpu mereka dengan batu ajaib ini. Tempat mereka berpijak” Ide Gunung Ayah. Gunung


Ayah meletakkan batu ajaib di antara kaki Gunung Sulung dan Gunung Bungsu.


“Hiks …Hiks…” Gunung Ibu tersedu menangis. Ia sedih meninggalkan anaknya.

__ADS_1


“Jangan menangis ! Kita akan meninggalkan sebagian tanah kita di sepanjang perjalanan sebagai jejak “ Nasihat Gunung Ayah.


“Baiklah. Selamat tinggal anakku” Kata Gunung Ibu. Akhirnya Gunung Ibu memutuskan untuk pergi.


“Selamat tinggal Nak. “


Lanjut Gunung Ayah juga.


Tak lama kemudian,


“Brurrrrrrr!!!” Banjir pun datang, setelah Gunung Ayah dan Gunung Ibu berjalan jauh. Di sepanjang perjalanan mereka meninggalkan tumpukan tanah dari bagian tubuh mereka yang kemudian menjadi bukit- bukit kecil.


Ketika banjir datang Gunung Sulung dan Gunung Bungsu tengah tertidur pulas. Tapi tidur Gunung Sulung sedemikian lasaknya sehingga ia terlepas dari tumpuan batu ajaib dan hanyut oleh banjir.


Ketika banjir telah reda pada keesokan harinya. Dan aliran sungai telah kembali tunak seperti sedia


kala siang itu. Gunung Bungsu tidak lagi melihat Ayah dan Ibunya, demikian juga dengan saudaranya Gunung Sulung yang telah hanyut oleh banjir. Ketika Gunung Bungsu mencoba berjalan, kakinya terasa begitu berat batu ajaib penumpu kakinya


begitu kuat setelah Gunung Sulung terlepas. Ia tidak bisa berjalan menyusul kedua orang tuanya. Hati Gunung Bungsu begitu sedih sehingga ia menangis sampai keluar tetes- tetes air di tebingnya. Sejak itu orang- orang menamakannya dengan Gunung Menangis. Sementara nun jauh di hilir sungai, di sebuah negeri Gunung Sulung telah terbagun dari


tidurnya. Gunung Sulung bangun kesiangan dan Ia heran tengah berada di tempat yang asing. Karena keheranannya Gunung Sulung dinamakan dengan Gunung Kesiangan.


Besok 1 Agustus 2008, pengumuman SNMPTN. Aku tidak ingin bangun kesiangan seperti


gunung Kesiangan.  Aku harus lulus dan


tidak mau bersedih hati seperti Gunung Menangis yang berdiri kokoh di belakang rumah kami. Kata ayah, “Aku harus lulus. Aku akan menjadi dokter, calon dokter satu- satunya dan yang pertama kali di kampung Gunung Menangis”

__ADS_1



__ADS_2