
Bang Roni adalah teman seangkatan Bang Sahim di kampus. Menurut Bang Sahim, Bang Roni dapat
memberikan suatu pencerahan terhadap
masalahku. Alasannya Bang Roni juga memiliki masalah dengan citraan warna sama
sepertiku, tapi Aku tidak tahu jenis colourblindness-nya.
Selain itu Bang Roni juga memiliki Ibu yang bekerja di rumah sakit dan paman seorang dokter. Bang Roni akan mengantarkan Aku ke tempat pamannya yang dokter untuk berkonsultasi dan mendapat pencerahan.
Aku duduk dengan Bang Sahim menunggu kedatangan Bang Roni. Setelah ia datang, kami bersalaman dan berkenalan. Bang Roni badannya besar dan subur. Dia senantiasa gembira dan
tertawa, menularkan kebahagiaan. Berbanding terbalik dengan Bang Sahim yang kurus
dan berbadan ukuran sedang. Bang Sahim berkarakter tegas dan berjiwa besar.
Namun kedua sahabat itu dapat bercanda sehingga mencairkan suasana agar lebih
akrab. Bang Roni membawaku menemui pamannya dengan mobilnya.
Aku telah duduk berhadapan dengan dokter, Paman bang Roni. Aku dan Bang Roni duduk
di depan meja dokter itu. Pak dokter membuka lembaran Ishihara yang penuh warna. Aku dan Bang Roni diminta berpacu untuk menebak angka- angka itu.
“Liel bearapa? Ayo Roni juga …” Pak Dokter menyuruh kami mengatakan angka yang kami lihat.
“Saaatu…, dikanannya kurang jelas Om. Tunggu dulu…”Jawab Bang Roni.
“Liel …?” Tanya Pak Dokter itu padaku.
“Satu. Lalu di sampingnya saya rasa nol atau sembilan.” Jawabku. Aku hanya melihat
sebuah lengkungan.
“Nol. Sepuluh …”
“Mmm. Nol juga” Jawabku masih ragu itu angka nol atau sembilan.
“Mmm
“ Pak Dokter menggeleng,” terlalu berisiko dalam pembedahan. Terlalu lambat mengambil keputusan.”
“Lalu bagaimana Pak?,” tanyaku.
“Adik tidak akan lulus dalam mata kuliah sitologi dan mikrobiologi. Disana kita melihat kuman dengan menggunakan mikroskop. Menuntut kejelian mata untuk melihat beberapa warna yang sulit dibedakan.”
“Tidak bisa. Ini demi kebaikanmu juga.” Vonis Pak Dokter itu kepadaku.
“…,”
Bang Roni diam memandangku.
“…,”
__ADS_1
Aku menunduk diam. Aku ingat Ayah. Aku terancam seandainya perjuangan ini dilanjutkan dengan susah payah dan lelah, sementara takdir suatu saat nanti
berkata lain, terlalu berisiko untuk melanjutkan perjuangan ini.
Apakah Aku akan menyerah?
Akhirnya aku menyerah.”Bagaimana dengan Ayahku Pak Dokter?”. Aku mencoba memberikan pengertian kepada Pak Dokter bahwa permasalahanku bukan hanya maju atau mundur. Bukan hanya cita- cita
melainkan ada sebuah cinta yang ditaruhkan. Cinta Ayah. Aku takut Ayah tidak lagi menyayangiku. Seperti permohonan Ayah agar jangan membuatnya kecewa.
“Memang berat untuk mengatakannya. Pahit memang” Jawab Pak dokter,” Kalau Liel tak sanggup
mengatakannya. Biar Bapak yang memberikan penjelasan.” Saran Pak Dokter.
Aku cepat menggeleng.”Tak usah Pak. Saya sanggup. Saya percaya Ayah saya akan kuat menerima kenyataan.”
Akhirnya Aku memutuskan untuk menyerah.
***
“Adik sudah peusijuek?” Tanya Bang Roni di dalam
mobilnya ketika mengantarkan Aku pulang ke kos.
“Apa Bang?”
“Peusijuek?”
kata yang ia pilih.
“Keunduri ? Syukuran,”
ulangnya.
“Sudah Bang…” Aku kembali teringat kejadian malam saat Ayah menggelar kenduri syukuran di rumah.
Ayah sangat bahagia. Kini aku akan mematahkan kebahagiannya itu. Sanggupkah
Aku?. Sementara mobil Bang Roni semakin dekat menuju jalanan kos. Tepat di depan kos, aku telah melihat Ayah berdiri di sana. Tentu ia tak sabar menunggu hasil dari konsultasi kami dengan Pak Dokter. Keputusan yang akan Aku dan Ayah
ambil.
Ketika mobil berhenti. Ayah mendekati kami. Ia tersenyum menyambut, ketika pintu mobil Bang Roni
dibuka. Seakan kabar bahagia yang akan diterimanya.
“Bagaimana hasilnya?”
Tanya Ayah tidak sabar.
“Ayah…” Aku tak mampu melanjutkan kata- kata.
“Bagiamana ?!”
__ADS_1
“…” Aku menggeleng.
Bang Roni melihatku. Ia tak sanggup juga melihat Ayah kecewa.
“Maksudnya ?” Tanya Ayah kembali.
“Tidak Ayah. Tidak bisa.” Jawabku tegas. Rona wajah Ayahku berubah. Ia terdiam. Sediam lagit tampa
angin dan hujan.
Bagaikan hujan yang
begitu tulus menyirami bumi yang gersang. Hujan yang setia pada titah Tuhan,
tak pernah berkhianat. Bagai ayah yang tak pernah sekalipun menolak apa yang
kupinta. Sebab itulah aku juga tidak pernah menidakkan pinta ayah, tapi takdir
terpaksa membuat kepalaku menggeleng di jalan lingkar Darussalam. Aku
menggeleng. Aku berkhianat. Untuk pertama kalinya aku berkata tidak pada pinta
ayah.
“Ayah. Aku ingin mundur. Aku ingin pulang Ayah. Aku ingin mengulang tes lagi di tahun depan.” Kalimatku
terucap cepat tatkala ayahku masih terdiam.
Ayah meletakkan kedua tangannya di rambutnya, meremasnya. Aku dan Bang Roni tahu betapa hancurnya hati dia. Ayahku memalingkan wajah menatap bintang-bintang di angkasa. Langit
Aceh yang hitam mulai terang oleh bintang-gemintang. Bintang harapan Ayah telah
jatuh. Cahayanya gugur ke bumi. Kemudian Ayah berkata.” Ayah paham. Ayah mengerti.” Suaranya serak.
“Semuanya Ayah serahkan kepadamu. Engkau yang akan menjalaninya. Bertanggungjawablah terhadap jalanmu. Hanya doa yang bisa Ayah berikan.”
“Semua Ayah serahkan padamu.” Ulang Ayah.
“Setiap Ayah menyayangi
anaknya.” Ayah memelukku.
Ayah.
Ia menangis. Bagai mahligai pasir yang lantak dilamun ombak ketika pasang menjelang. Air matanya menetes. Tubuhku serasa di neraka. Dibalik lensa mataku, air mataku menderas. Menderas memadamkan pijar api neraka. Suaranyalah yang
pertama kali kudengar. Senandung azan menyimpan harapan. Bayangannya,ia menggendongku saat aku kecil dahulu. Ia menjemputku pulang sekolah bahkan
sampai SMA. Tenggorokanku serasa meneguk air paling pahit yang pernah tercipta.
****
__ADS_1