
***Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
(Pasal 27 Ayat 2 UUD NKRI 1945***)
Perpustakaan kampus memiliki empat buah lantai. Pada lantai kedua ada beberapa komputer yang
berderet di sisi bagian depan. Pengunjung bisa menggunakannya sepuasnya.
Syaratnya harus antri, kecuali kalau ada laptop, pengunjung bisa wifi-an sepuasnya tanpa perlu antri menggunakan personal computer umum itu.
Aku mengakali bagaimana bisa menggunakan fasilitas gratis tersebut secara maksimal. Caranya dengan berkunjung ke perpustakaan selepas maghrib. Lewat pukul 19:05, karena maghrib
di banda aceh jauh lebih lambat. Atau malam hari karena perpustakaan kampus tutup pada pukul 10 malam. Malam hari sepi pengunjung kecuali beberapa mahasiswa yang mencari dasar teori untuk penunjang laporan praktikum di buku- buku sains klasik. Oleh karena itu aku berkunjung di malam hari daripada menyewa warung internet sebesar 5 ribu/ jam yang mahal bagiku. Maka jadilah aku berselancar di lantai dua perpustakaan. Adakalanya aku lihat Rizqi di luar pustaka di bawah
pohon, berwifi dengan laptopnya.
Sejak mulai kuliah aku telah akrab dengan teknologi internet. Pengetahuan dan jejaring soasial menjadi
tanpa batas. Sehingga internet menjadi jalan aku dan kakak berkomunikasi walau dipisahkan batas Negara. Kakak berada di Malaysia dan aku berkirim surat padanya melalui email. Ketika sampai di komputer tempat aku berselancar biasanya, ada email yang masuk, email dari kakak.
“Pulanglah ayah dan emak rindu.” Begitu bunyi pesan itu. Kakak telah tahu aku enggan untuk pulang. Aku tidak enak hati pada Kampung Gunung Menangis.
Aku malu. Aku telah menjadi bahan ceritaan Ibu- Ibu di pasar sampai Bapak- Bapak di warung kopi. Calon dokter yang gagal karena buta warna. Aku berat hati
untuk pulang.
__ADS_1
Pulanglah…
Sebentar lagi mau hari raya. Akhir bulan puasa akan berakhir disambut hari raya. Hari yang suci. Penuh kemaafan.
Pulanglah…
Aku berpikir.
Memutuskan untuk pulang atau tidak. Sedangkan Rizqi telah pulang. Kos sudah sepi. Kampus juga mulai sepi. Hari- hari terakhir menjelang hari raya.
Aku harus memutuskan.
“Tet!!!” Klakson bus berbunyi. Aku terkejut. Lamunanku terhenti kenanganku kembali tersimpan dan aku bergegas menuju bus.
“Turun…,turun…! Ba Je Bue.” Teriak kernet bus. Aku bangkit dari lamunanku. Hari masih hujan. Aku melihat lelehan rintiknya mengalir di kaca bagian luar.
bergegas berbuka dengan makan seadanya.
Lalu Aku ke tempat wudhu melaksanakan Shalat Maghrib jama’ Isya. Setelah keluar dari mushalla kecil itu di berandanya ada seorang Bapak seumuran ayah, matanya buta. Ia memegang kotak sedekah di luar tempat wudhu. Aku tersentuh oleh shalawat sendu yang ia lantunkan diiringi irama hujan. Pujian rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas anugrah hidup yang ia rasakan walau tak mampu
melihat indahnya dunia. Aku sedemikian tersentuh. Kemudian aku melakukan
seperti yang orang lain lakukan, meletakkan beberapa uang pada kotak sedekahnya. Ketika hendak berbalik aku tertahan karena kulihat cairan di
matanya. Aku kembali untuk meletakkan tissue di tangannya sekedar penghapus air matanya. Kemudian aku beranjak pergi dengan meninggalkan salam.
__ADS_1
Aku kembali ke bus yang
segera berangkat. Sang supir menghidupkan musik mencampuri derai hujan. Lagu Si Bijeh Mata bersuarakan syahdu yang menguraikan rinduku pada Ayah untuk pulang.
***Teugeut hai aneuk jantong ayahnda
Yah Dodo sayang lam ayon ija
Sayang sayang jantong ayahnda
Dodo sayang lam ayon ija***
……
Sayang sayang jantong ayahnda
Dodo sayang lam ayon ija
Kasih sayang Si Bijeh Mata
Aku merapatkan tubuhku ke sandaran kursi memejamkan mataku mencoba untuk tidur
dan bermimpi.
*ba je bue artinya makan nasi dalam bahasa daerah aceh.
__ADS_1