
Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka
Banyak jalan menuju roma, banyak jalan menuju kesuksesan
Untuk menolong banyak orang tidak harus menjadi dokter, bukan?
Tapi ini telah terlanjur. Nasib kami bagaikan daun yang hanyut menuju air terjun. Tidak ada kata
mundur, yang ada hanya berlomba dengan waktu mencari cara menaklukkan tes buta warna. Dan ini semua juga telah terlanjur. Aku pun tidak tahu sebelumnya bahwa ada sebagian dari ragam warna itu yang sulit terbedakan olehku. Oleh karena
dalam hidup, bahkan seumur hidup belum pernah ada masalah yang berhubungan dengan warna, sampai saat ini datang. Ayah pun tidak tahu. Andai waktu bisa diputar balik tentulah Ayah tidak sekeras hati ini. Kami pun sadar diri dengan cita- cita kami, namun karena tidak ada jalan mundur. Beasiswa perusahaan minyak harus diselamatkan kalau aku mundur beasiswa itu hilang. Pun tidak ada
lagi penerimaan mahasiswa baru dari universitas negeri. SNMPTN telah usai.
Kalaupun ada hanya akan datang SNMPTN di tahun depan.
Aku duduk di tangga, menunduk, menenggelamkan wajahku dalam kedua lututku. Tanganku mendekap kedua kakiku.”Ayah bagaimana kalau kita mundur…” Aku mencoba mengeluarkan kalimat itu sehati-hati mungkin. Suaraku serak. Lalu ayah terdiam menatapku dalam dan tajam.
“Pulang kampung Yah. Tahun depan kita coba lagi tes di jurusan lain,” tambahku.
“Anakku …” Jawab Ayah.
Matanya merah. Handphone di tangannya masih ia genggam.
“Engkau dan Aku datang mengejar mimpi jauh-jauh atas nama Gunung Menangis. Lalu kita pulang maka air mata gunung itu bukan hanya makin deras tapi gunung itu bisa runtuh. Seluruh kampung Nak ! kita akan berputih mata menanggung malu …”
“Hari ini engkau memiliki apa yang engkau mau. Esok atau tahun depan belum tentu apa yang engkau
inginkan engkau dapatkan. Jangan mengambil keputusan dalam emosi.” Begitu nasihat Ayah. Ayah mengucapkan kalimat tersebut begitu tenang menyejukkan.
Angin lembut berhembus diantara kami, menyejukkan walau sinar matahari sudah
terik Karena matahari sudah naik. Bayangan menara masjid raya yang meneduhkan kami semakin memendek. Waktu terus beranjak.
Jangan pulang membawa malu. Berjuangkah. Aku datang dengan membawa nama Gunung
__ADS_1
Menangis. Kalau aku pulang, air mata gunung itu bukan hanya makin menderas tapi gunung itu juga akan runtuh.
Ayah mendekatkan handphone ke telinganya,” Walaikumsalam. Lihatlah Adikmu. Dia ingin menyerah. Pulang membawa malu.” Ayah mengadu kepada Kakakku di Malaysia. Lama ia
bercerita. Ayah berjalan di sekitar menara karena begitu cara ia menelepon, mempertahankan sinyal yang kadang lari-lari. Kemudian Ayah datang ia menulis catatan di kertas kecil.
“Namanya Rahma. Dia mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Dia tinggal disini di daerah bernama
Prada.” Ayah menyerahkan alamat di kertas itu kepadaku.
“Prada…,” ucapku. Aku menggenggam alamat perumahan itu. Dimanakah Prada itu? Sejauh manakah Kak Rahma bisa menolong kami?
Lagipula pula kami pun belum kenal dengan dia. Banda Aceh tidak kami ketahui dimana sudutnya. Setelah shalat dan berdoa aku dan ayah pulang. Dalam labi-labi menuju Darussalam kami diam. Mataku melihat jalanan di luar, membaca
tulisan-tulisan di sepanjang jalan. Mencari tulisan yang di baca PRADA.
Mataku melihat gerbang,” Ayah…” Aku memanggil Ayah.
“Simpang Prada.” Begitu yang aku baca pada gerbang yang telah dilewati labi-labi beberapa meter
berlalu.
menekan tombol labi-labi. Kami pun turun.
Siang begitu terik karena matahari telah cukup membuat laut menguapkan sebagian permukaannya. Uap itu menghantarkan panas ke bagian pesisir pantai. Apalagi tidak ada pepohonan yang menjadi peneduh di kawasan Prada. Tercabut oleh sapuan Tsunami. Bumi terasa begitu terik. Di tengah terik itu Aku dan Ayah berjalan memasuki Gang Prada. Berjalan dan terus berjalan mencari nama alamat yang kami tuju. Berjalan terus ke dalam.
Prada di penuhi oleh rumah petah minimalis yang baru dibangun. Terletak tidak jauh dari Darussalam
sehingga menjadi kawasan cocok bagi mahasiswa yang ingin mengontrak rumah, caranya beberapa orang mahasiswa berpatungan meyewa rumah selama setahun.
Telah letih berjalan, akhirnya Aku dan Ayah menemukan alamat yang diberikan kakak dari Malaysia. Alamat Kak Rahma berupa rumah kontrakan khas mahasiswa yang terdiri dari
beberapa blok. Kak Rahma tinggal di petakan rumah paling ujung.
“Saleummualaikum”
__ADS_1
“Walaikumsalam. Ada yang bisa di bantu Pak?”
“Apakah disini tinggal Nak Rahma. Mahasiswa Kedokteran”
“Oh Kak Rahma. Sebentar Pak. Saya panggilkan. Silahkan duduk dulu” perempuan itu mempersilahkan kami duduk di teras rumah itu. Lantainya ubin dingin dan bersih. Lumayan untuk melepas letih kami.
Ayah bercerita kepada Kak Rahma tentang apa yang kami alami. Jawaban dari Kak Rahma adalah tidak ada buku semacam itu. Di kampus pun tidak ada. Buku- buku di perpustakaan telah rusak oleh Tsunami. Sedikit sekali yang tersisa. Tidak mungkin juga ada buku Ishihara. Setahu Kak Rahma buku-buku di perpustakaan hanya berisi buku-buku
pelajaran kedokteran.
“Terima kasih Nak Rahma.” Ayah berterimakasih atas penjelasan Kak Rahma. Keletihan kami telah
terjawab oleh sebuah jawaban.
“Tunggu dulu Pak”
“Ada apa Nak ?”
“Biasanya Buku Ishihara itu ada di Rumah Sakit. Untuk tes buta warna nanti adalah kerjasama universitas dengan pihak Rumah Sakit. Namun tentang penerimaan mahasiswa baru di luar
pengetahuan saya dan saya pun tidak memiliki relasi di Rumah Sakit yang bisa meminjami buku itu Pak. Maafkan saya,” Kak Rahma menjelaskan terakhir sebelum kami pergi.
“Tidak apa- apa. Terimakasih Nak. Kami sudah berterimakasih sekali atas informasi yang Nak Rahma sampiakan.” Ucap ayah.
“Terimakasih Kak,”
ucapku juga.
“Terimakasih kembali Dik. Semoga berhasil,” balasnya.
Aku dan ayah kembali pulang. Menelusuri jalan- jalan yang telah kami lewati sampai ke simpang jalan
utama dari Prada. Panas dan terik tak lagi terhiraukan. Mungkin dalam pikiranku dan Ayah adalah satu yaitu buku ishihara ada di rumah sakit. Tidak ada toko buku yang menjualnya.
***
__ADS_1